Catatan Perjalanan: Ditolak Jatim, dipikat Bali (1)

Jadi sepertinya niat saya berdamai dengan ke-jawa-an saya belum sepenuhnya bisa diterima. Jogja dan Solo memang sudah berhasil menarik saya kembali ke asal usul saya. Minimal membuat saya terus menerus ingin datang ke sana, walaupun saya masih belum bisa sepenuhnya „umgehen“ dengan bahasanya. Dengan orang-orangnya sudah lumayan, dengan makanannya itu lebih mudah. Ya, saya memang masih rasis, maafkan. Namun, saya sedang berusaha meminimalisir kok.

Perjalanan  ke Jogja  bulan Januari lalu selalu menyenangkan, walaupun diiringi acara nyasar memutari Stadion Kridosono. Niat hati mau berjalan kaki dari daerah Kampus UNY Karangmalang ke Malioboro, tapi malah mengelilingi Stadion Kridosono yang layaknya tembok Berlin itu. Akibatnya saya terheran-heran, kok yang dilihat kantor Telkom lagi, kantor Telkom lagi :) Namun, keesokan harinya Malioboro, yang selalu membawa saya kembali ke Jogja, bisa dicapai dengan Trans Jogja yang sangat Jogja. Kami masuk dari arah yang salah pun masih diperbolehkan, hehe. Niat hati tidak mau belanja, apa daya tak kuasa menahan godaan batik di sana. Jadi, belanja lah. Keesokan harinya lagi pun masih demikian. Dan Jogja akan kurang Jogjanya kalau tidak berkeliling kota naik becak yang bikin masuk angin. Bakpia Pathok habis juga dimakan selama berkeliling-keliling. Oh ya, sebetulnya saya ada di Jogja untuk acara seminar. Salah satu alasan yang memungkinkan saya bisa pulang sebentar ke Indonesia, walaupun saya baru sebentar pula di Jerman. Alasan yang dibuat-buat. Alasan utama ya memang ingin pulang saja. Jujur, seminarnya hanya saya ikuti serius di hari pertama, saat saya harus presentasi. Hari-hari berikutnya saya lebih banyak kaburnya, daripada ada di tempat seminar. Di Jogja gitu lho. Sayang, tempo hari itu tidak sempat mampir jalan-jalan ke Solo, karena orang rumah sudah memanggil pulang. Jauh-jauh datang dari Jerman, di rumah hanya sehari saja, langsung kabur ke Jogja.

Rencana awal perjalanan dimulai dari Jogja lanjut ke Malang lalu ke Bali kemudian ke Jakarta dan terakhir Bandung, jadi berubah, karena setelah lobby sana sini, Malang ternyata baru bisa diakses mulai tanggal 1 Februari, Jakarta pun demikian, Bandung baru tanggal 8-nya. Oh ya juga, saya pulang pun dalam rangka mengambil data penelitian di Jakarta, Bandung, dan Malang.  Ke Bali sih memang untuk main sekaligus menjadi pembawa amanat.  Jadi, saya memutuskan pulang dulu ke Bandung, mengambil data yang bisa saya ambil di Bandung dan mengurus surat-surat, karena saya lupa bahwa di Indonesia banyak hal harus ada suratnya. Kebetulan juga jadwal perjalanan berubah, karena dengan saya pulang ke Bandung dulu, saya bisa install software macam-macam, ke dokter gigi, bertemu teman-teman, facial, akupunktur, pinjam handycam tambahan, dan menghadiri pernikahan salah seorang sahabat saya. Semua memang sudah diatur dengan baik oleh Sang Maha Pengatur.

Awal Februari saya mengambil data di Depok dan Jakarta. Serius sekali ambil data di UI dan UNJ, sampai migren-migren, tangan dan kaki pegal-pegal. Tapi saya senang. Saya bertemu dengan orang-orang yang kooperatif, dosen dan mahasiswa, juga sahabat saya yang sangat membantu saya saat mengambil rekaman perkuliahan di kedua universitas tersebut. Bukan itu saja, dia pun memfasilitasi saya selama di sana dengan penginapan dan acara hiburan lainnya: makan dan nonton film, tentu dengan obrolan-obrolan yang menyenangkan.  Di Jakarta bertemu lagi dengan teman-teman dan sahabat-sahabat lama, yang membuat hidup saya semakin tercerahkan.

Ada jeda waktu satu hari sebelum mengambil data berikutnya di UNJ, saya manfaatkan untuk pulang ke Bandung, untuk kemudian kembali lagi ke Jakarta di hari berikutnya. Saya memang tidak bisa dan tidak mau berlama-lama tinggal di Jakarta. Pengambilan data di Jakarta beres, hari Senin, 8 Februari adalah jadwal ke Malang. Berangkat dari Bandung ke Surabaya, untuk kemudian dilanjut ke Malang. Sahabat saya yang lain, yang akan membantu pengambilan data di Malang, sudah sampai terlebih dulu di sana. Dia langsung terbang  ke Surabaya, setelah liburannya di Lombok, lalu ke Malang. Dua hari datang lebih awal dari saya, membuat saya iri, karena dia selalu bercerita tentang jalan-jalan dan „survey“nya. Dan memang, pada akhirnya nanti acara pengambilan data di Malang itu jadi lebih banyak main dan jalan-jalannya daripada mengambil datanya sendiri: 4 jam mengambil data, 10 jam jalan-jalan. Betul-betul tak berimbang. Tapi bagaimana ya, setelah serius-serius mengambil data di Jakarta, Malang sudah membawa aura liburan untuk saya. Apalagi setelah dari Malang saya akan lanjut terbang ke Bali, jadi semakin terasa aura liburannya. Belum apa-apa saya sudah membawa peta Bali dan minta saran sahabat saya tentang tempat-tempat apa saja yang „harus“ saya kunjungi di Bali, selain tentu saja daerah Lovina-Singaraja, yang menjadi tujuan utama saya datang ke Pulau Dewata itu, dengan pesan: bukan daerah turis. Saya tidak mau datang ke Bali sebagai turis domestik sekalipun. Saya ingin merasai Bali. Bali yang Bali.

Perjalanan dari Surabaya ke Malang melewati daerah Porong yang macet karena masalah lumpurnya itu. Miris saya melihatnya. Dan membuat gerah, walaupun hujan saat itu mengguyur deras sepanjang jalan dari Surabaya ke Malang. Hujan yang sebenar-benarnya hujan.

Malang. Saya jatuh cinta pada kota itu saat pertama kali saya datang ke sana akhir tahun 2006. Kota kecil yang nyaman dan cukup bersih. Kami menginap di hotel milik dan dikelola oleh SMK Negeri 1, berada tepat di depan Universitas Negeri Malang, di jalan Surabaya. Konsep yang bagus saya rasa. Pelajarnya bisa langsung praktek di hotel dan cafe yang mereka buat profesional. Hotelnya cukup nyaman dan pelayanannya cukup bagus. Selesai shalat, kami langsung jalan mencari makan, kemudian lanjut jalan-jalan. Tujuannya pusat kota Malang. Ini benar-benar jalan-jalan. Jalan kaki. Hari-hari selanjutnya pun akan ada banyak jalan-jalan, jalan-jalan lainnya. Mengambil jalan memutar ke arah Jl. Terusan Surabaya, yang tampak jelas ada di sepanjang jalan adalah salon-salon potong dan perawatan rambut  setiap jarak 10 meter. Salon, ada salon lagi, ada salon lagi. Harga standar untuk potong rambut Rp 8.000, creambath Rp. 15.000. Walah. Tak tahan rasanya untuk tidak berkomentar apakah salon-salon ini ada pengunjungnya?! Lainnya cukup standar lah di daerah seputaran kampus: laundry, warung nasi, dan warnet.

Malang setelah hujan cukup nyaman. Jangan bilang Malang itu dingin. Malang panas. Setelah hujan cukup adem. Cukup sejuk mungkin,  bolehlah. Belum sejuk sekali. Masih kalah sejuk dari Bandung sehabis hujan. Namun, pohon-pohon besar yang masih banyak tumbuh di seputaran daerah Jl. Wilis, Jl. Gede, Jl. Ijen, pokoknya jalan gunung-gunung itu, membuat kota ini lebih menyegarkan paru-paru. Cukup bersih pula kotanya. Setelah sempat salah belok dan bertanya pada polisi yang ramah –karena dia tersenyum, hehe- kami mampir makan es krim di Toko Oen, sebelum melanjutkan acara jalan kaki kami ke alun-alun kota Malang.

Alun-alun kota Malang terlihat cukup manusiawi, tentu jika dibandingkan dengan alun-alun kota Bandung yang tidak jelas bentuk rupanya. Masjid Agungnya pun terlihat agung. Menyenangkan melihat banyak keluarga kecil duduk-duduk di bangku atau di tembok-tembok pembatas di alun-alun itu, sementara anak-anak kecil berlarian dengan bebas. Menjelang maghrib saat itu. Selain salon, kemudian Arema yang merasuk ke dalam jiwa arek-arek Malang, saya melihat Malang juga cukup kuat di urusan agama. Malang sangat Islam, sangat Kristen, dan tidak lupa juga sangat kuat ikatan sejarahnya. Sejarah yang melingkupi Jatim rasanya berkumpul cukup banyak di daerah Malang dan sekitarnya. Dan saya beruntung ditemani sahabat yang memiliki ketertarikan serta tahu cukup banyak tentang sejarah Jawa Timur, pas untuk saya yang sedang ada dalam situasi ingin berdamai dengan masa lalu saya,dengan ke-jawa-an saya (jika Jawa Timur juga boleh dimasukkan ke dalamnya). Jadi, diputuskanlah bahwa acara jalan-jalan berikutnya adalah mengunjungi candi-candi yang ada di sekitaran Malang. Mall dan wisata kuliner tidak termasuk ke dalam list acara.

Oh ya lagi, saya harus mengambil data di Malang. Hari pertama agak mengecewakan. Agak jauh berbeda dari yang di Jakarta. Situasi perkuliahan lebih pasif. Yang ada kami berdua jadi mengantuk. Hari-hari berikutnya juga sebenarnya tidak jauh berbeda. Kami lebih sering mengantuknya daripada tidaknya. Tapi yang ini biar jadi bahan untuk tulisan lain saja. Sekarang saya hanya ingin menulis mengapa saya sampai merasa ditolak Jawa Timur, padahal niat saya ingin berdamai.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s