Malam Muharam

Saya baru ngeh bahwa tanggal 18 Desember besok itu tahun baru hijriyah setelah membaca status teman-teman di Facebook. Maklum, hidup di negara bermayoritas penduduk bukan muslim, hari-hari besar Islam berlalu begitu saja. Namun, bukan itu yang ingin saya ceritakan. Saya hanya teringat tanggal 1 Muharam tahun lalu, bulan Desember juga. Saat itu saya dan tiga orang sahabat ada di Solo. Bukan sengaja datang untuk melihat Kebo Bule yang diarak dari Kraton Solo keliling kota –karena seperti biasa, 1 Muharram sayangnya selalu terlewat begitu saja-, tapi karena kami mau berlibur akhir tahun (Masehi) di Jogja dan Solo. Setelah sampai Solo, barulah kami ngeh bahwa malam itu akan ada perayaan malam 1 Suro dan  1 Suro adalah perayaan merayakan tahun baru Saka. Tahun baru dalam perhitungan kalender Jawa.

Kraton Solo yang didominasi warna biru itu dihias dengan janur di sana sini. Indah dan ramai. Untuk ukuran kota Solo yang tidak seramai Jogja, acara setahun sekali itu menjadi ajang berkumpulnya penduduk kota. Alun-alun di depan kraton penuh. Kami sempatkan mampir ke pameran benda-benda magis dan keramat, hehe. Iseng saja. Menuju tengah malam, orang-orang pelahan beranjak menuju kraton. Sudah penuh. Ibu-ibu sudah duduk bersimpuh di kiri kanan gerbang utama kraton.  Kami tadinya mengambil tempat di sisi kanan, kemudian beralih ke sisi kiri, karena ingin mendapat tempat yang lebih dekat ke pintu masuk kraton. Kami -rakyat jelata- duduk di tanah, tak beralaskan apapun, menunggu dengan sabar di malam yang merambat menuju pertukaran hari. Menunggu para kerabat kraton yang datang satu-satu tak beralas kaki: perempuan berkebaya hitam, laki-laki berbeskap hitam juga. Setiap ada yang datang, masyarakat merangsek ke depan, ingin menyaksikan orang-orang yang mereka hormati tapi tak tersentuh. Berhikmat dan berjarak.

Menjelang tengah malam, pintu kraton dibuka dan dikeluarkanlah benda-benda pusaka kraton untuk didoakan. Benda-benda ini kemudian akan diarak bersama sang kerbau keramat –Kebo Bule- dalam kirab keliling kota. Bau dan asap dari kemenyan yang dibakar segera menyeruak. Saya tidak bisa bertahan cukup lama di antara desakan orang-orang yang merangsek semakin ke depan ditingkahi asap dan bau kemenyan yang menyengat dan memilih menepi. Setelah upacara selesai, orang-orang mulai berebutan mengambil apapun yang bisa diambil, termasuk janur yang dipasang dengan indah. Sesedikit apapun, mereka senang bisa mengambil apapun yang berasal dari kraton. Membawa berkah katanya. Tak lama, orang-orang mulai berbaris membentuk pagar, memberi jalan untuk sang kerbau keramat yang akan diarak dalam Kirab Mubeng Beteng. Kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet itu berjalan pelahan tentu saja dan orang-orang kemudian mengikuti di belakangnya membawa obor dan benda-benda pusaka. Malam gelap, cukup dingin, obor bergerak pelahan dari orang-orang yang berjalan. Tak ada suara. Hening. Semua dilakukan dengan hening. Atmosfer yang terasa sangat kontemplatif. Merayakan keheningan. Berjalan pelahan,pelan,  dan diam tanpa bicara. Hanya hening. Dengan obor yang bergerak pelahan, menjauh dari kraton. Entahlah, saya sendiri merasa nyaman di suasana tahun baru yang hening begitu, walaupun tak lama kemudian suara motor-motor mulai merusak suasana yang magis kontemplatif itu. Motor-motor itu akan ikut berkirab juga. Tradisi dan modernitas dalam satu waktu dan tempat. Ini dunia kita saat ini.

Kami sendiri memilih berjalan pulang ke penginapan, tidak ikut kirab. Sudah jam 2 dini hari saat itu dan kami masih tersesat, salah mengambil jalan pulang. Setelah berjalan cukup jauh dan bertanya sana sini, kami tiba juga di penginapan. Dan saya malu, karena saya tidak bisa dan tidak mengerti bahasa Jawa, padahal bapak saya berasal dari Solo. Untung ada Lusi yang bisa berbahasa Jawa, dia yang mendapat bagian bertanya-tanya :)  Pengalaman tahun baru di Solo itu membekas. Saya suka. Saya mencari keheningan itu lagi. Malam tahun baru 2009 (Masehi) saya lewatkan juga dalam hening. Di rumah.

Dan malam ini –lepas jam 16:13 tadi sudah 1 Muharam di Bayreuth- dalam suhu 9 derajat di bawah nol, dingin menggigit tulang, dengan bibir yang sudah kelu beku, saya ada bersama orang-orang yang datang berjalan ke arah Audimax. Berkumpul di depan pintu kaca yang tertutup rapat dijaga ketat oleh polisi berseragam hijau. Semua orang menggigil kedinginan, tetapi tetap bertahan menunggu dengan sabar satu sosok yang ditunggu akan datang jam 19. Kami –rakyat jelata, para mahasiswa dan penduduk sekitar kampus- tidak bisa masuk ke ruangan megah Audimax, karena hanya mereka yang memiliki undangan saja yang bisa duduk tenang di dalam. Orang-orang masih sabar menunggu. Saya juga, walaupun tangan dan kaki saya juga sudah ikut membeku. Dan tepat jam 19 sosok yang ditunggu datang, kami tetap tidak bisa masuk. Sosok yang diam sejenak di depan pintu, kemudian berjalan cepat ke dalam Audimax dan pintu kemudian ditutup. Saya masih sempat menangkap sosok itu dengan kamera, walaupun tidak begitu jelas.

Jika 1 Muharam tahun lalu saya ada di Solo, menunggu  Kyai Slamet, 1 Muharam tahun ini saya di Bayreuth. Bukan menunggu Kyai Slamet, tapi menunggu Gerhard Schröder yang akan memberikan kuliah umum tentang politik ekonomi Jerman di Audimax Uni Bayreuth. Ah, bukan kuliah umum sebenarnya, karena tidak dihadiri mahasiswa, hanya tamu undangan saja. Mahasiswa Uni Bayreuth berkumpul membeku kedinginan di luar. Sebagian lagi masih “menduduki” H26, protes masih berlanjut. Di Solo ada bau kemenyan, di sini dipasang lilin-lilin beraroma. Di Solo hening, di sini diam beku. Walaupun Kyai Slamet dan Gerhard Schröder sama – sama bule, di sini tidak arak-arakan kirab. Suhu cukup ekstrem untuk membekukan hidup. Salju yang lembut sudah mengeras menjadi es yang mengkilap tertimpa cahaya lampu. Tak lama, mahasiswa beranjak pulang, membiarkan sang mantan kanselir berbicara di dalam. Bukankah lebih nyaman berada di kamar yang hangat, bergelung selimut , membaca buku sambil menikmati teh atau kopi? Oh tidak, di kamar saya yang hangat ini saya kemudian bergelung selimut sambil bercakap virtual dengan sahabat-sahabat saya, ditemani segelas wedang jahe yang dikirim dengan penuh cinta dari negeri hangat di seberang samudera. Tetap hening dan indah.  Dingin di luar, tapi tidak di dalam. Selamat tahun baru. Semoga langkah kita selalu dilindungi dan diterangi cahaya Sang Maha Pelindung dan Penerang.

Advertisements

10 Gedanken zu „Malam Muharam

  1. setiap tahun baru, muharam atau masehi, saya lewatkan begitu saja….sekedar mengingatkan bahwa waktu telah berlalu, sedikit merenungi apa yang telah dilewati. tapi tak banyak yang berubah :(

    • Hallo Knut, hehe..Yayu soll das übersetzen. Ich möchte sehr gerne solche Sachen auf Deutsch schreiben zu können. Lerne immer noch, es fehlt mir aber trotzdem irgendwie das Sprachgefühl :-(

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s