Enam-Enam: Menuliskan Terima Kasih

Tanggal 23 November 6 tahun lalu saya terkantuk-kantuk mengikuti salah satu perkuliahan yang namanya entah lupa (saking tidak menariknya mata kuliah itu). Untuk menghilangkan rasa kantuk yang semakin menyerang saya baca cerpen Kafka „Heimkehr“ yang ada di buku Fremdgänge. Iseng saya terjemahkan, dan selesai sebelum perkuliahan selesai.  Hasil dari perjuangan melawan kantuk itu yang menjadi postingan awal blog. Awal saya menulis lagi setelah 6 tahun juga memutuskan berhenti menulis.

Sebagai seorang yang cenderung introvert dan reseptif, menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan, karena saya bisa menuliskan apapun tanpa  perlu malu dan takut diprotes. Alhasil saya punya banyak buku harian dari sejak SD sampai tahun 1997. Pada tahun itu, di Köln, saya memutuskan untuk berhenti menulis di buku harian dan juga memutuskan untuk berhenti menangis. Maklum, saya bisa menulis sambil dan sampai menangis.  Berada sendirian di tempat yang jauh dari rumah , dari orang-orang yang saya cintai dengan sarana komunikasi yang terbatas, email belum memasyarakat di Indonesia, biaya telefon yang mahal, sms belum ada, surat yang baru tiba 2 minggu setelah dikirimkan, membuat saya harus bisa bertahan sendiri. Namun, tentu saja kebiasaan menulis (yang benar-benar menulis dalam arti menulis dengan tangan) tidak bisa hilang begitu saja. Peristiwa, pengalaman, perasaan, pikiran saya tuliskan dalam bentuk surat yang selalu panjang, berlembar-lembar pada sahabat-sahabat saya. Sekarang, di era serba elektronik ini, kebiasaan menulis surat ditulis tangan ini saya rindukan.  Saat ini saya sedang mencoba lagi berkirim kartu pos dengan sahabat di Bandung.

Setelah 6 tahun berhenti menulis  buku harian, sebagai gantinya saya menulis dalam bentuk surat pada sahabat dan teman, serta dan berubah menjadi Dian yang cerewet, Dian menjadi pengajar, karena dengan mengajar semua kegelisahan dan pikiran bisa tersalurkan. Beberapa teman menyarankan saya membuat blog, tapi saya tidak mau saat itu. Saya bukan orang yang cukup percaya diri untuk membuka diri saya pada publik. Namun, saya iseng juga mencoba membuat blog di Friendster yang akhirnya tidak pernah diisi sama sekali. Kemudian Jeng ini datang dengan ide Diary Project-nya. Dia tidak memaksa saya ikut, dia hanya memberikan pemberitahuan tentang kegiatan itu sambil bilang selewat, „ikut ya, jeng“. Saya yang pada saat itu sedang berada di titik terendah hidup saya melihat ini sebagai kesempatan yang bagus untuk menuliskan lagi apa yang saya rasa, saya lihat, saya dengar, saya pikir dalam bentuk buku harian. „Tugasnya“ mudah, yaitu menuliskan apa saja selama bulan September saat itu. Ternyata, itu bukan tugas yang mudah juga. Saya sering kehabisan ide untuk menulis apa, walaupun pada akhirnya tidak punya ide pun bisa jadi bahan tulisan. Saya rasa ini pancingan yang bagus, karena saya kemudian jadi terbiasa mempertanyakan kembali, mendengar dan melihat kembali banyak hal dari banyak sisi. Hal ini membantu saya juga menstrukturkan lagi pikiran dan merekam kembali perasaan saya untuk kemudian berjarak dan melihatnya dengan perspektif lain. Dimulai dengan tulisan tentang komentar salah seorang penyiar radio Bayern Drei tentang penggunaan bahasa Jerman yang kemudian di diary saya jadi berkembang ke tema politik bahasa, diary bulan September itu diakhiri dengan kesan terhadap Catatan Pinggir-nya  Goenawan Mohamad tentang meninggalnya Munir. Ya, di dalam diary project saya, saya menulis tentang meninggalnya Munir, meninggalnya Nurcholis Madjid, meninggalnya Paus Johannes Paulus II, menulis tentang terbakarnya perpustakaan Anna Amalia di Weimar yang menghanguskan sejumlah karya besar yang fenomenal, menuliskan kembali tema-tema perkuliahan di kelas, menuliskan percabangan ide saat menulis makalah, menuliskan catatan perjalanan saya ke beberapa kota di Jerman, menuliskan pemaknaan terhadap hidup, mati, kehidupan dan kematian, sampai hal-hal sepele seperti pelajaran naik sepeda yang penuh canda, juga gigi yang dicabut dan membuat saya tidak bisa tidur. Pada akhirnya saya tidak bisa berhenti . Saya melanjutkan kebiasaan menulis diary lagi dalam bentuk elektronik, karena memang kenyataannya saya jadi semakin jarang menulis di buku harian lagi dengan tulisan tangan.

Dengan mengikuti diary project ini, otomatis diary saya akan dibaca oleh orang lain. Hal ini membantu saya untuk bisa lebih membuka diri tentang perasaan, dan pikiran saya. Namun, tetap saja, tawaran untuk membuat blog tidak saya indahkan, walaupun saya selalu iseng mencoba-coba seperti apa sih blog itu. Sampai kemudian salah seorang teman mengundang saya untuk membuat blog di Multiply dalam rangka berlatih menulis dan saling mengingatkan untuk menyelesaikan tesis.  Tidak bertahan lama, blog itu kembali kosong karena saya tetap merasa tidak nyaman saat tulisan saya dibaca orang, apalagi dikomentari oleh orang lain.

Menulis blog memang saya belum mau, tetapi blog walking menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya menemukan blog yang isinya murni curhat dan buka-bukaan masalah pribadi sehingga saya kok merasa orang itu seperti di dalam aquarium, terlihat jelas oleh banyak orang, tetapi saya juga banyak menemukan blog yang menarik , bagus, dan inspiratif. Salah satunya blog bapak ini. Tahun 2002 saya nyasar ke blog bapak ini saat mencari keyword  “toko buku kecil” di google. Tahun 2005 saya nyasar lagi ke blog itu saat mencari keyword yang sama. Blog itu inspiratif dan menarik, ditulis dengan bahasa yang diusahakan ringan –kadang lucu tapi sinis- walaupun untuk tema-tema tertentu tetap saja sulit saya pahami, dan saya mendapat kesan “pencarian” yang tidak pernah berhenti dari si pemilik blog.  Temanya beragam, dari mulai sains, agama, musik, kopi, buku, orang-orang terkenal, peristiwa sehari-hari, banyak sekali. Kemudian saya berhenti pada halaman khusus tentang Wagner  dan saya iseng meninggalkan komentar di sana.Tidak disangka komentar saya dibalas dengan email pendek dan permintaan untuk menuliskan pengalaman saya selama 1 hari di Bayreuth.  Permintaan yang dilengkapi kata “Plizzzz…” itu membuat pikiran saya bergejolak dan merambat melewati ruang dan waktu.  Satu hari untuk saya bisa berarti kumpulan ingatan tentang tahun-tahun sebelumnya, hari ini dan khayalan saya tentang nanti. Alhasil saya memang menulis 6 halaman tentang 1 hari di kota Wagner ini. Bapak ini membaca saya. Saya tidak menduga bahwa tulisan itu akan dipasang di blognya, di halaman khusus tentang Wagner bergabung dengan tulisan-tulisan lain yang tentu saja jauh lebih bagus.  Tulisan saya bukan apa-apa, walaupun ini cukup membuat rasa percaya diri saya untuk terus menulis menjadi bertambah. Namun, bapak ini juga tidak bisa membuat saya mau membuat blog sendiri. „Aquarius sejati tidak suka dipaksa“ demikian tulis saya saat itu dan „Gemini sejati tidak pernah memaksa“ katanya. Jadi, saya tetap menulis seperti biasa dalam diary saya dan dalam bentuk surat elektronik.

Kemudian sahabat saya ikut meminta saya membuat blog. Sahabat yang mau dan rela membantu saya yang gaptek untuk urusan komputer, internet, dll, sahabat yang menemani saya begadang dan sahabat yang mau merelakan dirinya didebat dan dikerjai oleh saya yang cerewet dan menyebalkan ini. Namun, tentu saja saya tetap keukeuh tidak mau, tidak ada alasan yang mampu membuat saya bergerak membuat blog. Dia juga tidak mau memaksa, tahu saya tidak suka dipaksa, tetapi dia hanya mengeluarkan satu komentar yang membuat kekeraskepalaan saya rontok, “Bilang aja lu takut. Elu kan memang penakut”. Wah, kalimat itu langsung menohok saya. Tampaknya saya memang hanya membuat segala macam pembenaran yang terlihat logis untuk menutupi banyak ketakutan dan rasa tidak percaya diri saya. Dan akhirnya saya memutuskan untuk membuat membuat blog dengan domain sendiri, tetapi semua itu harus sahabat saya yang mengurus, saya tahu beres. Dia menyanggupi dan akhirnya semua berlangsung cepat sampai saya memiliki domain dian.or.id. Namun, dasarnya saya gaptek, pemalas, dan belum sepenuhnya yakin dengan diri saya sendiri, blog di domain itu terbengkalai juga. Saya lebih sering menulis di Multiply.  Dan ketika beberapa kali menemui kesulitan mengoperasikan blog saya di domain dian.or.id itu, saya yang tidak sabaran lebih memilih tidak melanjutkan kepemilikan domain itu, namun berganti menulis di blog gratisan ini. Sampai sekarang, selama 6 tahun. Dan sahabat saya masih setia menemani saya menulis, memberikan ide dari bincang-bincang kami yang bisa berlangsung berjam-jam, memandu saya dari jauh jika saya punya masalah dengan internet dan aplikasi yang aneh-aneh, bahkan suka rela memperbaiki  laptop kesayangan saya yang menggunakan bahasa paling menyesatkan sedunia tu.

From this moment. Saya suka lagu Shania Twain dengan judul yang sama. Lagu cinta. Namun, untuk saya “from this moment” adalah saat-saat saya merekam segala yang saya cerap dan inderai dalam hidup saya, kemudian saya tuliskan. Di mana pun saya berada. Bahkan menulis di sini membantu saya menyelesaikan tulisan-tulisan lain yang karena beragam faktor harus saya tulis. Kutipan dari Khalil Gibran tentang waktu “ kemarin hanya ingatan dari hari ini dan esok adalah mimpinya (…) biarkan hari ini memeluk masa lalu dengan ingatannya dan masa depan dengan rindunya” saya pasang di blog saya sebagai pengingat agar saya memaknai hari ini, hari yang tak bisa lepas dari hari kemarin, namun tetap diwarnai mimpi tentang esok hari. Warna hijau yang mendominasi blog-blog saya membantu saya untuk berpikir lebih segar dan positif, selain karena warna ini juga memang warna kesukaan saya. Foto pepohonan, sungai,  dan jembatan yang saya ambil saat-saat saya melintasi Hofgarten selalu mengingatkan saya pada hubungan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang sejuk. Hidup yang tenang dan menyejukkan.

Saat ini, enam tahun saya menulis setelah enam tahun saya berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih khusus pada ketiga sahabat saya tadi, karena mereka selalu ada, menyemangati, dan menemani saya menuliskan hari-hari saya dengan tulisan-tulisan mereka yang inspiratif dan menyejukkan.  Menulis tanpa titik berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada hidup yang sudah menjadi mata air dari semua yang saya tulis. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada waktu dan Sang Pemilik Segala Waktu.

Untuk: Tarlen, Koen, dan Insan. Terima kasih karena kalian ada. Untuk menulis.

Advertisements

3 Gedanken zu „Enam-Enam: Menuliskan Terima Kasih

  1. Assalamu’alaikum. Euleuh, euleuh … neng Dian geuning mojang kota kembang. Nembe terang abdi mah. Nepangkeun, abdi ti Bandung oge.

    Tulisan neng Dian sarae pisan. Hebat. Hatur nuhun ah..

    Iraha atuh silaturahim? Dinten ahad (06.11.2009) jam 10 enjing aya acara ngariung mungpulung ti rorompok abdi sareng kaluargi, CH-8405 Winterthur. Ka Winterthur Seen ti Zurich HB kirang langkung 30 menit naek S-12. Diantos atuh, neng Dian. Hatur nuhun. Wassalam

  2. Terima kasih kembali, Dian. Andai kita bisa tahu kenapa kita mulai menulis, andai kita bisa tahu kenapa kita berkeras terus menulis. Tapi itu sudah menyatu dengan jiwa kita. Peduli amat apa kata dunia tentang blogging. Menulis itu dari hati, bukan buat personal branding, bukan buat SEO, bukan buat bisnis.
    Terima kasih untuk terus menulis blog, yang secara langsung membuatku tidak merasa aneh karena terus menjadi blogger yang sekedar menulis tanpa punya tujuan apa2 selain menulis itu sendiri :).

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s