Demonstrasi

Seminggu ini perkuliahan tidak berjalan seperti biasanya, karena sejak tanggal 17 November di seluruh universitas di Jerman diadakan demonstrasi menentang diberlakukannya uang kuliah (Studiengebühren) dan dilaksanakannya program bachelor dan master yang sangat ketat, terutama di urusan kehadiran mahasiswa. Hari Rabu kemarin saat saya datang untuk ikut Vorlesung Textlinguistik, Hörsaal sudah „diduduki“ oleh mahasiswa yang berdemo, menurut seorang teman ruangan kelas yang lain pun „diduduki“. Mereka mengadakan diskusi terbuka, memasang spanduk-spanduk bernada protes, bahkan sampai menggelar sleeping bag dan tidur di kampus. Dosen saya berdiskusi sejenak untuk kemudian mengumumkan bahwa kuliah hari itu ditiadakan, dan mempersilahkan mahasiswa untuk terus berdemo, jika memang tujuan mereka baik. Kemarin, dosen sosiologi saya juga merasa tidak enak hati melaksanakan perkuliahan karena mahasiswa yang lain masih berdemo. Pada akhirnya, kami memang tetap kuliah, dengan peserta 4 orang saja. Namun, kelas ini juga kelas kecil kok, mahasiswanya hanya 7 orang.

Saat saya tanya pendapat salah seorang teman tentang demo ini, dia termasuk orang yang tidak setuju demo diadakan di Bayreuth. „Ungerechfertigt“ katanya.  Masuk akal jika demo dilaksanakan di Berlin, Hamburg atau München yang mahasiswanya puluhan ribu, sehingga mereka tidak „terlayani“ dengan baik. Di satu sisi mungkin ada benarnya juga. Kampus Bayreuth itu kecil. Saat ini jumlah mahasiswanya hanya 9000 orang. Dibandingkan dengan Unpad saja masih lebih banyak Unpad mahasiswanya. Mahasiswa dilayani dengan baik di sini.Fasilitas disediakan. Dosen dan mahasiswa saling kenal secara personal, menyapa bahkan makan siang atau ngopi bersama di Mensa dan di Cafeteria. Bimbingan selain di Sprechstunde yang ditetapkan juga di jam-jam di luar itu. Email selalu dibalas cepat. Akses terhadap buku, jurnal ilmiah, dan internet yang seluas-luasnya dan sepuas-puasnya. Studentenbeitrag yang masih cukup murah (62 € saja selama satu semester) dan fasilitas-fasilitas lain seperti Studentenwohnheim, bentuk Campus-Universität yang berkumpul dalam satu lokasi sehingga memudahkan mahasiswa dan dosennya. Jika melihat itu semua memang rasanya apa lagi yang harus diprotes? Kalau masalah waktu belajar yang lebih ketat dibandingkan dulu, misalnya dengan diberlakukannya daftar hadir dan modul perkuliahan yang mengikat, bukannya tugas mahasiswa memang kuliah? Itu pendapat teman saya.

Saya cukup setuju dengan pendapatnya. Namun, lepas dari masalah adil tidak adil, saya pribadi agak berkeberatan dengan pemberlakuan Studiengebühren. Sebagai pendukung pendidikan murah dan berkualitas, saya ingin sebisa mungkin setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Namun, tentu saja hal ini tidak bisa serta merta terjadi. Pendidikan pada kenyataannya semakin lama semakin mahal. Pemerintah pusat dan negara bagian tidak dapat secara penuh lagi membiayai universitas, karena dengan demikian mereka harus menaikkan pajak juga. Universitas tidak semudah itu bisa membiayai diri sendiri. Mereka bergantung juga dari penelitian dan kerja sama lainnya. Pada akhirnya ada fakultas yang basah dan ada yang kering.

Studiengebühren 500 € per semester dan biaya hidup minimal 500 € tentu bukan jumlah yang sedikit. Semakin ketatnya aturan perkuliahan juga mempersempit ruang gerak mahasiswa untuk mencari job di luar waktu kuliah. Mungkin itu juga yang diprotes oleh mereka. Kebanyakan dari mereka memang masih dibiayai oleh orang tuanya. Namun, tidak semua orang tua mampu memberikan biaya penuh, karena mereka pun masih harus membayar pajak dan asuransi. Pemerintah negara bagian dan pemerintah pusat memberikan pinjaman lunak lewat BAföG atau KfW-Darlehen (di negara Bagian Bayern). Pinjaman bisa dibayar sampai mereka lulus kuliah bahkan setelah lulus kuliah. Beasiswa pun banyak diberikan, dengan catatan tentu prestasi selama studi pun bagus.  Berkuliah pada akhirnya memang terbuka untuk yang mampu, yang tidak mampu lebih memilih pendidikan praktis yang memungkinkan mereka langsung bekerja. Sementara setelah selesai kuliah, mencari pekerjaan pun tetap saja sulit.

Yang menjadi dilema adalah mereka sekarang ini dituntut oleh sistem pendidikan yang ketat dan menuntut cepat selesai, di lain pihak kebutuhan hidup dan biaya untuk kuliah sendiri membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Kadang mahasiswa harus mengikuti ekskursi ke luar kota bahkan ke luar negeri. Belum lagi pengeluaran untuk foto copy atau buku. PIlihannya adalah kuliah tapi tidak punya uang dan ada kemungkinan berhenti di tengah jalan karena tidak ada biaya, atau bekerja tapi kuliah jadi terbengkalai. Dijalani keduanya? Jangan heran jika kemudian banyak mahasiswa yang stress dan jatuh sakit. Demonstrasi kemarin mungkin salah satu reaksi terhadap sistem yang semakin lama mungkin terasa menekan.

Situasi dan dilema semacam ini terjadi di seluruh dunia saya rasa. Di Indonesia rasanya lebih parah lagi. Pendidikan semakin lama semakin mahal, apalagi pendidikan tinggi. Sebagai orang yang terlibat dalam dunia pendidikan hal ini saya rasakan betul situasi yang dilematis ini. Di satu sisi pendidikan idealnya murah tapi berkualitas, namun di sisi tidak bisa dipungkiri bahwa semakin lama pendidikan semakin terindustrialisasikan. Dan ketika pendidikan sudah menjadi industri, mungkin gedungnya jadi semacam pabrik, dosen-dosen hanya jadi mesin yang memproduksi barang-barang pabrik yang seragam. Dan tiba-tiba saya teringat pada sepenggal paragraf dalam monolog Perang Klamm „10 tahun lagi sekolah ini juga sudah tidak akan ada lagi, karena nanti di sini akan jadi panti jompo atau tempat pelacuran atau keduanya sekaligus. Karena di sini tidak ada lagi ilmu pengetahuan. Tidak ada lagi yang bisa diberikan oleh seorang guru pada murid-muridnya. Cuma tinggal informasi, makanan-makanan kecil warna-warni, yang melahap otak dan menyisakan kedunguan. Sepuluh tahun lagi tidak akan ada sekolah sama sekali. Maka ujian akhir akan jadi surat sakit, universitas hanya untuk orang-orang dungu, dan anak umur 10 tahun akan duduk di belakang komputer dan mengatur dunia.“ Semoga tidak terjadi.

Advertisements

Ein Gedanke zu „Demonstrasi

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s