Perubahan Lain

Selain perubahan di bidang pendidikan, perubahan di sektor ekonomi dan perbankan sangat terasa sekali di Jerman setelah 3 tahun ditinggalkan. Krisis ekonomi dunia terasa di berbagai sektor. Sektor pendidikan terkena imbas dengan dikenakannya biaya kuliah sebesar 500 € per semester dan ditutupnya atau digabungkannya beberapa jurusan yang dianggap „kering“ dan tidak adanya dukungan biaya lagi dari pihak universitas. Salah satunya jurusan Allgemeine Pädagogik, yang saya jadikan Nebenfach saat kuliah magister dulu, sekarang ini bergabung dengan jurusan Psychologie, Schulpädagogik, Grundschulpädagogik ke dalam satu jurusan besar bernama Jurusan Ilmu Pendidikan (Erziehungswissenschaft). Jurusan-jurusan ini memang termasuk yang kurang peminatnya. Mungkin juga kurang proyek yang menghasilkan uang. Beberapa jurusan di bidang ilmu murni (ilmu alam dan ilmu sosial) mengalami pengurangan dana. Sebaliknya Fakultas Ekonomi dan Fakultas Informatika serta ilmu alam terapan (Angewandte Naturwissenschaft) semakin berkembang dan semakin diminati, sejalan dengan perkembangan dan tuntutan jaman.

Jika di dunia pendidikan fakultas ekonomi semakin diminati, tidak demikian yang terjadi di lapangan. PHK justru terjadi di mana-mana. Perusahaan besar yang eksis puluhan tahun sudah mulai gulung tikar. Bank-bank besar merger dengan bank-bank asing. Prosesnya tidak drastis dan kentara memang. Saya yang awam di bidang ekonomi memperhatikannya dari barang-barang yang harganya semakin mahal tetapi kualitasnya menurun, diskon besar-besaran di semua toko untuk menghabiskan stok barang, toko-toko buku yang bangkrut, asuransi kesehatan yang semakin sedikit mengcover biaya pengobatan, biaya ini itu yang dulu tidak ada, dan semacamnya. Hal-hal keseharian yang membuat uang mengalir begitu saja tak ada artinya dan tak terasa.

Beberapa waktu lalu perusahaan besar Karstadt akan ditutup, karena tidak mampu membayar utangnya. Akhirnya anak perusahaannya, yaitu Quelle, yang ditutup terlebih dahulu dan ribuan karyawannya di seluruh Jerman di-PHK. Pabrik mobil Opel pun sudah terancam akan dijual. Dresdner Bank sejak beberapa waktu lalu merger dengan Commerzbank. Citi Bank Jerman sudah dijual kepada Crèdit Mutual Perancis dan mulai tahun depan, Citi Bank Jerman yang sudah dimerger itu hanya akan online di Eropa, tidak di seluruh dunia. Selain pajak yang bertambah besar, uang pensiun pun hanya dibayarkan selama 11 bulan. Issue yang beredar bahwa uang pensiun akan diturunkan jumlahnya, memang tidak terbukti, tapi dengan hanya dibayar 11 bulan, rasanya tetap sama saja dengan pengurangan jumlah itu.

Satu lagi yang sangat terasa dari krisis ekonomi di Jerman ini adalah dikenakannya biaya administrasi yang cukup besar untuk rekening giro tabungan kita, sementara sejak dulu memang sistem perbankan Jerman tidak menerapkan bunga untuk rekening giro. Untuk Sparkonto pun hanya mendapatkan bunga 1%  per tahun.  Dulu mudah sekali untuk mengajukan Dispositionskredit, sekarang sulit dan persyaratannya semakin ketat. Belanja kebutuhan sehari-hari satu bulan saja bisa lebih dari 200 €. Padahal kalau dilihat-lihat jumlahnya hanya itu-itu saja, tidak banyak. Sebagai orang yang awam ekonomi, saya cuma bisa merasakan dan menghitung-hitung, serta menyiasati bagaimana dengan uang sedemikian (sudah dipotong sewa rumah termasuk pemanas, listrik, air dan telefon, asuransi kesehatan, makan, kebutuhan hidup lainnya termasuk perlengkapan untuk musim dingin) saya masih bisa menabung, membeli buku, dan jalan-jalan : )

Ini sudah rejeki tak terkira untuk saya, karena ternyata saya masih bisa melakukan itu semua. Banyak orang yang terkena imbas krisis ini secara langsung. Banyak orang di belahan dunia lain yang lebih menderita dari saya dan orang-orang yang hidup di sini. Kemarin malam seorang sahabat saya bercerita tentang pelanggannya yang tidak puas dengan kopi yang dibelinya dan kemudian mengembalikannya. Alasan mengembalikannya pun bukan karena hal yang krusial. Jika dikembalikan, kopi itu tentu tidak bisa dijual lagi dan hanya akan masuk tempat sampah. Padahal di belahan dunia lain orang bekerja mati-matian untuk dapat membeli kopi, bahkan keringat dan darah pun dikeluarkan untuk sebuah produk yang akhirnya dibuang begitu saja ke tempat sampah karena di pelanggan tidak menyukai taruhlah kemasannya yang kusut. Benturan antara kepuasan pelanggan dan merasa mubazir membuang-buang makanan membuat sahabat saya merasa cukup tertekan, karena dia sadar, di Indonesia banyak orang yang membutuhkan itu semua dan berjuang mati-matian hanya untuk sekedar bisa hidup. Mengamati situasi sekarang dan mendengar semakin banyaknya rang-orang Jerman yang mengeluh tidak bisa lagi melakukan ini itu, membuat saya semakin bersyukur bahwa saya datang dari negara yang situasinya lebih sulit dari di sini. Setidaknya saya jadi malu hati untuk mengeluh, karena sama sekali tidak ada yang bisa saya keluhkan. Karena semua yang saya hirup, saya tatap, saya kunyah, saya resap, semua, semuanya nikmat yang benar-benar tidak bisa saya dustakan.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s