Perubahan

Tiga tahun ditinggalkan, bukan berarti tidak ada yang berubah di Bayreuth. Hal yang paling kentara tentu saja perubahan di universitas, yang membuat saya mau tidak mau harus menyesuaikan diri lagi. Jadi, September 2006 saat saya pulang ke Indonesia terakhir kalinya di Bayreuth dan di hampir semua universitas di Jerman program lama digunakan dan kuliah tanpa biaya kuliah diberlakukan. Wintersemester Oktober 2006 mulai diberlakukan program baru yaitu program bachelor dan master. Di beberapa jurusan dan universitas program bachelor dan master ini sudah diberlakukan sebelumnya. Hanya Oktober 2006 semua universitas di Jerman sudah harus mulai memberlakukan ini, dan program lama yaitu diplom dan magister lambat laun dihilangkan. Tahun 2007 mulai diberlakukan Studiengebühren (uang kuliah) merata di seluruh Jerman (info terbaru, di Berlin masih bebas biaya kuliah).

Apa bedanya? Sistem pendidikan di Jerman berlangsung sampai kelas 13 (Gymnasium, seperti sekolah menengah umum). Setelah itu siswa bisa langsung meneruskan ke universitas atau Fachhochschule (FH) atau sekolah tinggi yang lain, misalnya Technische Hochschule atau TH atau Kunsthochschule, dll. Mereka yang memilih bidang ilmu sosial, humaniora, dan filsafat masuk ke program magister, dan mereka yang berkutat dengan ilmu eksakta, teknik, kedokteran (dan yang kebanyakan berhubungan dengan angka-angka dan hitung-hitungan) masuk ke program diplom. Yang masuk ke program magister akan mendapat gelar Magister Artium untuk pria, dan Magistra Artium untuk perempuan, keduanya disingkat M.A.. Untuk program diplom, gelarnya sesuai dengan bidang yang ditekuni, misalnya Diplom Ingenieur (Dipl.Ing.) untuk bidang teknik, Diplom Medizin (Dipl.Med.) untuk kedokteran, Diplom Wirte/Wirtin (Dipl.Wirt.) untuk bidang ekonomi atau Diplom Kaufmann (Dipl.Kauf.) juga untuk bidang ekonomi. Selesai melaksanakan program Magister atau Diplom yang waktu reguler kuliahnya 5 – 7 tahun (sama dengan batas maksimal S1 di Indonesia), mereka bisa melanjutkan lagi ke jenjang doktoral atau Promotion. Jenjang doktoral yang biasanya langsung masuk ke penelitian berlangsung antara 3 – 5 tahun.

Sistem pendidikan di Jerman memungkinkan setiap individu bebas memilih bidang mana yang dia sukai yang juga sesuai dengan kemampuannya. Masa sekolah dasar 4 tahun, setelah itu siswa diberi kesempatan memilih apakah akan masuk ke Realschule, Hauptschule, atau Gymnasium. Di tingkat pendidikan tinggi, pilihan semakin luas. Di program magister, mahasiswa mengambil 1 jurusan sebagai Hauptfach (jurusan utama, mayor) dan 2 jurusan lainnya sebagai Nebenfach (jurusan sampingan, minor). Mahasiswa boleh mengambil kombinasi jurusan sesuai dengan minat dan kemampuannya. Ada mahasiswa yang mengambil jurusan bahasa Jerman sebagai jurusan utama, dan ekonomi serta geografi sebagai jurusan sampingan Selama dia mau dan mampu mengapa tidak? Saya sendiri saat itu mengambil kombinasi jurusan Interkulturelle Germanistik, Germanistische Linguistik, dan Pädagogik. Pertimbangan saya saat itu adalah minat dan kesejajaran program yang juga cocok dengan pekerjaan dan hobby saya sebagai pengajar. Pilihan yang tepat saya rasa, karena ketiga jurusan itu saling melengkapi satu sama lain. Namun, walaupun kita tidak mengambil salah satu jurusan sebagai major dan minor kita, mahasiswa tetap boleh mengikuti perkuliahan yang diadakan oleh jurusan lain. Saya cukup sering ikut kuliah di jurusan sosiologi, dan pernah ikut kuliah di jurusan didaktik kimia (bahkan bekerja di sana), karena saya tertarik pada tema-tema yang diberikan di sana. Untuk program diplom, ada yang menawarkan variasi pilihan program, tetapi tidak sebanyak magister, ada pula yang tidak.  Selain program diplom dan magister, ada juga program Lehramt untuk mereka yang ingin menjadi guru sekolah dasar dan sekolah menengah.

Jenjang studi di setiap program dibagi menjadi Grundstudium (semester 1 – 4) dan Hauptstudium (semester 5 – 8). Untuk masuk ke Hauptstudium mahasiswa harus mengikuti dulu ujian Vordiplom (untuk program Diplom) atau Zwischenprüfung (untuk program Magister). Ujian akhir disebut Diplomprüfung dan Magisterprüfung. Bentuk ujiannya tertulis dan lisan. Selain itu mahasiswa masih harus menulis Diplomarbeit atau Magisterarbeit (semacam tesis). Karena mahasiswa mengambil Hauptfach dan Nebenfach, maka mereka mengikuti ujian Vordiplom atau Zwischenprüfung serta ujian Diplom dan Magister di semua jurusan yang mereka ambil. Misalnya saya mengambil Interkulturelle Germanistik sebagai Hauptfach, maka saya menulis Magisterarbeit untuk bidang ini, melaksanakan ujian tertulis selama 4 jam, dan ujian lisan selama 1 jam. Di jurusan germanistische Linguistik dan Pädagogik saya hanya perlu melaksanakan ujian lisan (boleh memilih antara ujian lisan atau tertulis) di masing-masing jurusan selama 30 menit. Jadi total untuk mendapatkan gelar Magister/Magistra mahasiswa harus menulis 1 tesis, 1 ujian tertulis dan 3 ujian lisan. Tesis tidak diujikan dan tidak dipertahankan. Tema ujian dan dosen yang akan menjadi penguji ditentukan oleh mahasiswa yang bersangkutan, sesuai dengan tema dan minatnya. Bahan ujian sifatnya komprehensif yang berasal dari mata kuliah-mata kuliah yang dipelajari oleh si mahasiswa selama masa studinya.

Jika pada akhirnya banyak mahasiswa program magister atau diplom bisa kuliah sampai lebih dari waktu reguler studi (8 semester), bahkan ada yang sampai 10 tahun, selain karena harus kuliah di 3 jurusan (dan di setiap jurusan harus ada ujian), juga karena kebebasan yang diberikan untuk mahasiswa memilih berapa mata kuliah yang akan dia ikuti di setiap semester. Jika mereka malas atau sibuk bekerja, dalam satu semester dia bisa tidak kuliah sama sekali. Jika rajin dan tidak ada kesibukan, dalam satu semester dia bisa mengambil banyak mata kuliah. Namun, jangan harap bisa seperti di Indonesia yang satu semester mahasiswa bisa mengambil 22 SKS, bahkan lebih, di sini mengambil 10 SKS saja sudah cukup membuat terengah-engah. Bahan kuliah dan tuntutan bacaan yang banyak membuat saya pernah hanya sanggup mengambil 3 mata kuliah masing-masing 2 SKS. Untuk jurusan eksakta, jenis praktikum yang beragam juga menuntut konsentrasi penuh. Kebebasan, sekaligus kemandirian, dan kemampuan mengenali diri memang dituntut oleh program „klasik“ ini. Tidak ada daftar hadir mahasiswa, ujian akhir biasanya berupa makalah yang bisa dikerjakan kapanpun, tidak ada batas. Bahkan banyak mahasiswa yang hanya datang di awal kuliah, setelah itu tidak pernah masuk lagi, hanya datang ketika ujian atau ketika menyerahkan makalah. Ini tidak menjadi masalah, karena bahan kuliah untuk satu semester sudah diberikan di awal perkuliahan lengkap dengan referensi buku yang biasanya disimpan di perpustakaan di Semesterapparat dosen pengasuh mata kuliah tersebut. Saking bebasnya, saya pernah menunda makalah selama satu tahun.

Mata kuliah yang ditawarkan cukup banyak, namun hanya beberapa saja yang wajib diikuti, karena dalam satu program (sampai jenjang Magister berakhir misalnya) mahasiswa hanya wajib mengumpulkan beberapa Schein (nilai) yang disyaratkan oleh setiap program studi. Misalnya 4 Leistungscheine di Proseminar (seminar untuk Grundstudium) dan 2 Leistungsscheine di Hauptseminar (seminar untuk Hauptstudium) yang didapat setelah mahasiswa melakukan presentasi dan membuat makalah atau ujian lisan atau juag ujian tertulis di kelas, ditambah dengan Teilnahmeschein (Schein yang tidak diberi nilai, hanya bukti kehadiran saja, biasanya diberikan dengan syarat kita harus rutin hadir, membuat protokol, atau melakukan presentasi kecil).

Bentuk perkuliahan dibagi menjadi Vorlesung (kuliah umum), biasanya diadakan di aula dan dosen memberikan kuliah, mahasiswa mendengarkan, kemudian Seminar (Pro- dan Hauptseminar) di ruangan yang lebih kecil, dosen lebih berperan sebagai fasilitator diskusi. Ada juga praktikum, selain itu masih ditambah juga dengan tutorium sebagai tambahan dan pendalaman untuk mata kuliah tertentu jika dianggap perlu.

Tradisi pendidikan tinggi yang menjadi kebanggaan orang Jerman ini (karena sangat berbeda dari negara-negara Eropa lainnya) berubah pada tahun 1999 dengan ditandatanganinya Bologna-Process oleh negara-negara anggota Uni Eropa yang mengusung issue rencana politis terciptanya pendidikan Eropa yang satu sampai batas tahun 2010. Tahun 2010 semua negara anggota Uni Eropa sudah harus menerapkan sistem ini.  Perubahan ini bukan tanpa protes, Jerman adalah salah satu negara yang lambat melaksanakan program ini, karena penduduknya (terutama pelaku dunia akademis kalangan “tua”) tidak setuju dengan perubahan sistem pendidikan ini. Protes terjadi di mana-mana, ada yang pro dan ada yang kontra. Yang muda kebanyakan setuju karena pendidikan tinggi menjadi lebih padat dan singkat, semua seragam di setiap negara anggota Uni Eropa, sehingga mahasiswa Jerman bisa kuliah di Inggris atau Perancis dengan mudah, karena nilai yang sudah didapat bisa ditransfer. Yang kontra biasanya kalangan tua yang tidak ingin Jerman kehilangan „tradisi“ pendidikan tingginya yang sudah berjalan ratusan tahun.

Sistem penilaian ini yang dilansir dalam Bologna-Process ini disebut dengan European Credit Transfer System (ECTS). Program di perguruan tinggi pun menjadi program Bachelor (B.A) dengan mengumpulkan poin sebanyak 180−240 ECTS dan jika ingin lanjut ke program master harus mengumpulkan  poin sebanyak 90−120 ECTS-Credits (minimal 60).

Perubahan inilah yang saya lihat saat saya “salah masuk” ke kelas pengantar analisis wacana untuk mahasiswa Bachelor semester 1. Mereka ternyata “hanya” kuliah di satu program saja, dengan modul perkuliahan yang sudah disiapkan. Begitu juga untuk program  master. Salah seorang teman saya yang sudah mengikuti program master pada tahun 2004 di Freiburg sudah melakukannya. Salah seorang teman di Heidelberg mengikuti program master dengan perkuliahan yang padat dari jam 9 sampai jam 17 dari Senin sampai Jumat, dengan masa studi 18 bulan. Dia berkuliah di satu jurusan saja. Satu hal yang mustahil dilakukan dalam program Diplom dan Magister.

Dalam setiap perubahan ada sisi positif dan negatifnya. Menghindari adanya mahasiswa abadi yang tak kunjung selesai kuliah (dengan berbagai alasan, status mahasiswa itu tetap membawa keuntungan tertentu), maka program Bachelor dan Master ini cukup tepat. Namun, melihat “pemaksaan” materi perkuliahan yang cenderung dipaksakan membuat mahasiswa jadi tidak mendalami apa yang dipelajarinya. Tidak heran banyak mahasiswa yang stress karena waktu perkuliahan yang padat. Lepas dari itu semua, saya sempat berpikir tentang “uniformitas” pola pikir dan “penyamarataan” manusia. Agak mengerikan, karena mahasiswa tidak lagi menjadi dirinya sendiri dalam dunia yang universal, tetapi menjadi manusia yang seragam dengan manusia yang lain. Alasan politis, sudah jelas. Alasan ekonomi, tentu saja (sekarang mahasiswa sudah harus membayar 500 € setiap semester, termasuk murah jika dibandingkan dengan uang kuliah di Inggris dan Amerika). Alasan lain, siapa yang tahu. Ketika universitas sudah menjadi uniformitas, menjadi diri sendiri butuh perjuangan ekstra keras. Ini curhat pribadi, mungkin karena saya termasuk produk lama, saat uang kuliah belum diberlakukan di Jerman, saat kuliah di tiga jurusan masih diberlakukan. Dan hidup memang akhirnya mengalir mengikuti waktu. Globalisasi datang, tidak ada yang bisa membendung dan lepas darinya. Jadi, kita ikuti saja. Ada bagusnya juga, minimal saya terpacu (atau terpaksa) untuk menyelesaikan jenjang yang saya ikuti sekarang selama 3 tahun, dengan aturan ini itu yang mungkin berguna  juga diterapkan untuk saya yang lebih suka bebas ini. Harus agak diikat sedikit :)

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s