Meracik Rasa dan Cinta

Saya  tadinya berpikir orang akan mengomentari tulisan saya sebelumnya di bagian debat, diskusi, atau bagaimana cara orang mengatasi konflik . Tulisan saya minggu lalu saya rasa memang cukup beranak pinak dengan berbagai rhema yang bisa dikembangkan menjadi tema-tema lain. Namun, dugaan saya tidak sepenuhnya benar bahwa bahasan akan berlanjut pada budaya akademis, walaupun ada juga yang berkomentar tentang itu, tetapi selebihnya adalah komentar tentang makanan dan budaya. Mengenyampingkan kenyataan bahwa yang berkomentar tentang budaya ilmiah itu laki-laki dan komentar tentang budaya makanan, memasak, „melayani“ orang itu perempuan, saya kemudian jadi berpikir kembali tentang makanan, memasak, dan konsep melayani. Tak lama kemudian saya membaca tulisan salah seorang teman tentang memasak dan konsep identitas diri. Di kamar mandi –seperti biasa menjadi tempat paling nyaman untuk melamun dan berefleksi- saya juga teringat sebuah cerita pendek di KOMPAS tentang seseorang yang benci pada makanan rumah karena selalu teringat pada ibunya yang sangat benci memasak, karena ibunya selalu memasak dengan terpaksa. Banyak pertanyaan berkelabatan dan mendesak masuk ke kepala, termasuk ingatan pada ibu saya nun jauh di sana. Ah, dan tampaknya tema ini tampaknya bisa menjadi  pengalihan yang menarik dari kewajiban membuat ragangan penelitian. Pembenaran yang lain.

Jadi, sahabat saya menulis bahwa dalam budaya “orang bule” makanan menjadi urusan yang kesekian, dengan porsi yang juga tidak banyak. Berbeda dengan di Indonesia (atau saya tidak tahu, mungkin di sebagian besar budaya “Timur”), yang menempatkan makanan menjadi nomor utama dengan porsi banyak dan servis yang luar biasa. Seorang sahabat lain berkomentar bagaimana dia diundang ke suatu pesta oleh orang Jerman. Dia membawa makanan sebagai antaran, makanan yang juga sangat ingin dia makan sebenarnya, karena dalam pikirannya makanan itu “pasti” akan ikut dihidangkan seperti yang biasa terjadi dalam normalitas budaya di Indonesia. Namun, tidak. Makanan itu disimpan sendiri oleh si tuan rumah. Pelitkah si tuan rumah? Belum tentu, walaupun juga bisa jadi dia memang pelit. Dalam normalitas budaya Jerman, jika seseorang diberi maka pemberian itu menjadi haknya. Adalah satu penghormatan jika hadiah disimpan sendiri karena hadiah diberikan khusus untuknya, tidak untuk dibagikan lagi. Kesannya jadi tidak menghargai pemberian si pemberi hadiah.  Di Indonesia, tamu tampaknya lebih berhak dari tuan rumah, karena konsep menghormati orang yang datang sebagai pihak yang membawa rejeki dan rejeki harus dibagikan, tidak layak disimpan sendiri.

Konsep berbagi: membuat orang lain bahagia dan merasa bahagia karenanya ini indah menurut saya pribadi. Namun, sampai titik tertentu ternyata tidak bisa diabaikan bahwa konsep ini bisa menjadi paksaan yang menekan dan mengganggu. Seperti cerpen yang pernah saya baca, atau tulisan seorang teman tadi tentang memasak yang membuatnya berpikir bahwa memasak itu menjadi salah satu sarana budaya patriarki untuk menekan perempuan. Konsep memasak adalah urusan perempuan, perempuan yang tidak bisa memasak “bukan perempuan”, dan tuntutan-tuntutan lain yang dijadikan senjata untuk membuat perempuan tidak bisa menjadi dirinya sendiri.

Membaca tulisan teman saya itu saya jadi teringat ibu saya yang sangat suka memasak, memasak dengan penuh cinta , mengembangkan dirinya dengan memasak, dan mengaktualisasikan dirinya lewat masakan dan kursus masak. Namun, di saat tertentu –dan ini cukup sering saya lihat sepanjang hidup saya dengannya- dia akan dengan mudahnya bilang dia tidak ingin memasak, tidak ingin melayani keluarganya karena dia lelah atau dia sedang ingin melakukan hal yang lain, kemudian meminta kami membeli makanan jadi saja. Bapak saya bukan orang yang sulit, jadi itu memudahkan ibu saya untuk mengungkapkan apa yang dia mau dan dia ingin lakukan. Anak-anaknya –selain saya yang keras kepala minta telur dadar tidak mau makan telur ceplok- juga terbiasa dengan ini, walaupun terus terang saya sempat punya frame yang cukup lama menempel bahwa ibu saya belum cukup “ibu-ibu” karena dulu cukup sering membeli makanan jadi dibandingkan memasak sendiri. Frame itu lambat laun menghilang seiring dengan bertambahnya usia saya. Saya bisa melihat bahwa ibu saya punya passion dalam memasak dan menyediakan makanan. Pikiran dan pemahaman yang muncul ketika saya sendiri kemudian terjun ke dapur, dan saya menemukan passion yang mungkin kurang lebih sama dengan yang dirasakan ibu saya. Meracik bahan, mengolahnya, mencicipinya, menyajikannya, menyantapnya, melihat orang lain menyantapnya, mensyukurinya minimal dengan binar mata , dan dada (apalagi perut) menjadi  penuh. Juga perasaan kecewa yang muncul karena peristiwa itu tidak selalu terjadi.  Ya, saya memang akhirnya bisa masuk ke dalam passion itu.

Dapur untuk ibu saya (dan saya di kemudian hari) adalah ruang intimasi yang luas dan besar untuk berinteraksi dengan dirinya. Dia punya kuasa di sana, termasuk melarang anak-anaknya masuk ke sana, karena hanya akan mengganggu ruang kontemplasinya saja. Namun, tidak lingkungan sekitar kami. Bapak saya masih menyuruh kami –anak-anaknya yang perempuan- masuk ke dapur: membantu ibu. Nenek dan bibi-bibi kami juga berpendapat demikian, apalagi tetangga: anak perempuan harus belajar masak, anak laki-laki “haram” hukumnya masuk ke dapur.  Sebaliknya justru ibu saya melarang kami semua masuk. Dia tidak ingin ruangnya diganggu, areanya dimasuki.  Oleh karena itu, kami tidak pernah punya pembantu rumah tangga, karena ibu saya bersikukuh bahwa dapur dan rumah adalah tempat dia bereksistensi. Tidak boleh ada orang lain mengganggunya. Ibu saya memilih itu dan dia melakukannya –sepanjang yang saya lihat sampai sekarang – dengan nyaman. Jadi di saat-saat tertentu dia sedang tidak ingin berkutat di istananya itu, dia bisa bebas keluar, karena itu “milik” dan “hidup”nya, dia bebas melakukan apapun untuk itu. Di satu sisi, untuk kami anak perempuannya ini jadi hal yang menguntungkan, kami bebas dari kewajiban domestik, sehingga sampai sekarang anak-anak perempuan ibu saya jadi orang luaran. Sebaliknya, adik saya yang laki-laki juga menjadi laki-laki yang “manja” karena urusannya selalu disediakan ibu saya. Kadang tidak bagus juga.

Namun, sekali lagi saya melihat –dan ini yang masih selalu jadi salah satu bahan “pertengkaran” saya dan dia- ibu saya melakukannya dengan cinta. Termasuk jika dia selalu berlama-lama ada di dapur saat menjelang lebaran. Melupakan tidur dan hal lainnya, hanya karena ingin saat lebaran keluarga dan tamu bisa menikmati racikan masakan dan kue-kue buatannya. Dan ada kebahagiaan sendiri, selalu saya lihat, saat orang-orang mencecap masakannya dengan nikmat, kemudian memujinya. Saya rasa, semua lelah saat proses memasak itu terbayar sudah.  Kadang tidak masuk akal, tetapi itulah yang terjadi. Saya selalu heran bagaiman dia bisa menggerus satu kilo cabe sampai halus setiap hari untuk pesanan catering guru-guru TK dan SD. Pesanan yang harganya tidak sebanding dengan rasa dan variasi menu yang selalu istimewa dibuatnya. Apakah dia mengeluh? Tidak. Saya yang mengeluh karena saya menghitung berapa harga minyak, berapa biaya bahan-bahannya, belum lagi harga bensin untuk mengantar dan waktu yang terpakai. Dia hanya menjawab: kasihan, sudah capek mengajar. Mungkin dia berpikir juga tentang anak-anaknya yang bekerja. Konsep melayani, meng“hamba“ sekaligus menjadi „tuan“,  menurut saya, tampak sekaligus padanya. Dan ibu saya mungkin sudah sampai pada tahapan itu, karena saya bisa melihatnya dari caranya mengiris, memotong, menggulung, melipat, menggoreng, dan menyajikan masakannya. Dia melakukan itu tanpa banyak berkata dan terlihat begitu meresapinya.

Konsep „menghamba“ dan „melayani“ ini yang mungkin membuat memasak untuk beberapa orang menjadi paksaan, karena di saat yang sama mungkin diembel-embeli lagi dengan label memasak adalah urusan perempuan, perempuan yang sempurna adalah perempuan yang bisa memasak, dll. Saya rasa mungkin pendapat memasak jadi paksaan menjadi benar juga, karena label seperti itu hanya membuat orang merasa „disuruh“, tidak bisa menentukan pilihannya sendiri. Menurut saya, mungkin bukan konsepnya yang „menyebalkan“, tapi labelisasi itu yang menyulitkan.

Mengingat ibu saya, saya jadi melihat diri saya sendiri yang sejak tahun 1997 seolah menjadi cermin dari ibu saya. Dapur dan memasak menjadi saat-saat intim saya berinteraksi dengan diri saya. Dapur dan memasak juga menjadi tempat „melarikan diri“ dari „dunia luar“. Pernah suatu hari menjelang lebaran saya marah pada ibu saya karena dia begitu berpayah-payah –saya lihat- menyiapkan aneka rupa masakan. Saya capek melihatnya, karena dengan logika pikiran saya yang sok tahu ini hal itu hanya membuang-buang uang, waktu, dan tenaga saja. Dan ibu saya yang tahu benar bahwa anaknya sebenarnya seperti dirinya kemudian pergi, membiarkan saya sendiri di rumah. Pada akhirnya justru saya yang menyelesaikan semua masakan itu sampai selesai dan saya puas. Ya, dapur dan memasak untuk saat dan kondisi tertentu bisa menjadi tempat saya melepaskan stress. Saya memasak dengan rasa senang, tapi saya juga bisa berada di dapur dan memasak seharian jika saya tertekan. Saya bebas melakukan apapun di sana. Tempat escaping dan katarsis yang menyenangkan bahkan.

Namun, apakah rasa cinta saja cukup untuk membuat acara masak memasak menjadi menyenangkan? Telefon dari seorang sahabat di benua yang lain di belahan bumi selatan  tepat tengah malam dua hari lalu membuat diskusi tentang masak memasak ini menjadi berkembang, kemudian meluas ke budaya makan dan mengkonsumsi makanan lalu merebak jauh ke masalah sampah dan pengolahan sampah. Kembali ke rasa cinta dan memasak, tentulah akan sulit jadinya jika cinta tak berbalas. Manusiawi sekali. Mertua sahabat saya itu, -karena alasan tertentu- cukup memilih makanan apa yang bisa masuk ke tubuhnya, dan ini tentu menyulitkan orang yang akan memasak untuknya. Akhirnya jika mertuanya datang, sahabat saya jadi tidak ingin memasak untuknya, walaupun tentu saja dia mencintai mertuanya, karena dia juga bisa kecewa jika masakannya tidak dimakan atau malah akan membuat mertuanya sakit. Tidak tulus? Tidak juga, saya rasa, ini manusiawi. Dan bukankah akan lebih membuat sedih jika masakan yang kita buat demi cinta, justru malah membuat orang yang kita cintai menjadi celaka atau sakit? Dilematis, karena cinta juga beririsan dengan kecewa.

Ngomong-ngomong,  saya jadi penasaran, apakah sebenarnya yang ada di pikiran dan perasaan orang-orang saat meracik masakan, memasaknya lalu menghidangkannya. Mana yang dominan? Rasa cinta? Mungkin kalau perasaan ini yang dominan maka memasak akan menyenangkan dan membahagiakan seperti yang terlihat di setiap acara kuliner dan masak memasak yang disiarkan di tv. Masakan pun tampak lezat dan menggiurkan. Ataukah rasa marah dan benci yang dominan? Sehingga seperti yang ditampilkan terjadi di film-film horor dan suspens tentang orang-orang yang meracik bahan masakan ditingkahi dengan bayangan-bayangan orang  atau binatang berkelibatan  sebagai objeknya. Mengerikan. Jangan-jangan memang ada rasa-rasa seperti ini saat memasak. Dua rasa yang berlomba mendominasi satu di atas yang lain. Manusia hidup: meracik rasa dan cinta, mungkin juga benci. Semoga bukan rasa yang terakhir.

Advertisements

4 Gedanken zu „Meracik Rasa dan Cinta

  1. Yang aku tau, rasa cinta bisa membuat aku mau memasak….hiks2…
    btw, udah lupa gimana rasanya kalau cinta tidak berbalas….yang masih sangat terasa, kalau cinta berbalas tapi waktu ‚tidak berbalas‘

  2. tergantung dian… kalau masaknya karena lagi terpaksa, ya jelas bukan memasak dengan „cinta“. tapi kalau memasaknya karena lagi ingin memberikan cinta, ya tentu memasaknya dengan cinta… :-) kalau soal rasa masakan-mah, lagi BT juga bisa disiasatin rasanya agar tetap rasa „cinta“… wakakakakak.. :-)

  3. Dian….kalo gua pribadi tergantung mood…kalo mood-nya lagi enak ya…gua pasti akan menikmati moment memasaknya dan tentu akan memasak dengan rasa penuh cinta, tapi…kalo lagi cape,bete ngga mood and terpaksa harus tetep masak, aduh….tersiksa banget bahkan gua berpikir kok begini banget sih nasib gua. Tapi biar irit..ya harus tetep masak…hehehehe ;-))

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s