Budaya Komunikasi – Komunikasi Budaya?

Hari Jumat dan Sabtu kemarin mengikuti seminar dua hari bertemakan „Kommunikationskultur – Theorie und Forschung“ yang diadakan oleh Lehrstuhl Kultur und Religionssoziologie Universitas Bayreuth, setidaknya cukup bisa membuat saya beranjak dari suasana hati dan pikiran bahwa saya di Bayreuth sedang berlibur. Saya sedang kuliah, jadi harus segera bangkit dari kemalasan dan keinginan jalan-jalan terus. Btw, kuliahnya sih saya suka, asal jangan diminta membuat tugas.

Jadi, para sosiolog yang datang dari berbagai penjuru Jerman, ada juga yang datang dari Swiss, berkumpul di aula canggih Fakultas Angewandte Informatik. Beberapa nama sudah saya kenal, dan akhirnya bisa bertemu muka juga. Rupanya seminar dua hari itu dimaksudkan dalam rangka memperingati 50 tahun Hubert Knoblauch, yang judul bukunya dijadikan judul seminar ini. Tema yang diangkat dan ditampilkan berkisar pada tema Kommunikative Gattung dan Gattungsanalyse. Tidak semua tema yang disampaikan  oleh 11 pembicara yang semuanya profesor bisa saya mengerti, kebanyakan malah tidak. Namun, ada juga beberapa tema yang menarik dan cukup bisa saya ikuti.

Saya tidak akan membahas masing-masing tema yang memang sangat-sangat teoretis. Yang menarik perhatian saya justru bagaimana budaya seminar dan komunikasi antarpelaku dunia akademis terjadi di sini.  Ini memang bukan pertama kalinya saya ikut seminar semacam itu, tahun 2003 dulu saya pernah mengikuti konferensi yang lebih besar lagi di Wina, Austria. Namun, justru karena lingkupnya agak kecil, saya jadi bisa mengamati dengan lebih jelas.

Seminar dibuka tepat jam 9, setelah para peserta datang, mendaftarkan diri, dan saling menyapa. Tidak banyak peserta yang mengikuti seminar ini, entah karena publikasi yang kurang atau memang karena temanya terlalu spesifik. Tanpa basa-basi terlalu banyak, acara langsung dibuka dengan sambutan pendek dari Dekan Fakultas Kultur- und Religionswissenschaft dan sabmbutan dari ketua panitia. Semua dilakukan dengan suasana yang cukup santai, tidak ada formalitas apapun. Tidak menunggu lama, pembicara pertama memulai presentasinya. Di jadwal acara, setiap orang mendapat jatah waktu 45 menit untuk bicara dan diskusi. Namun, pada kenyataannya waktu 45 menit terlewati sampai 90 menit untuk bicara dan diskusi. Acara diskusi ini yang memakan waktu cukup lama. Diskusi atau mungkin lebih tepat disebut debat ilmiah berlangsung seru. Para profesor sosiologi itu saling mengungkapkan pendapat, kritik, pendapat, atau saran dengan sangat terbuka. Tidak tertutup kemungkinan bahwa masing-masing dari mereka tidak setuju, dan itu diungkapkan, namun jika setuju pun biasanya –dan ini khas Jerman- mereka selalu menambahkan „aber…“ atau „tetapi…“. Tentu saja tetapinya lebih banyak dari persetujuan mereka. Debat pada pembicara cukup seru, ketika seorang profesor muda –perempuan- mendebat dengan keras statement pembicara yang sudah senior (dari segi usia dan pengalaman)  -pria- . Keterbukaan suasana diskusi dan debat rupanya tidak berjalan mulus, karena ketika si profesor perempuan tadi bicara, giliran si bapak yang mendebat dengan keras, dan akhirnya terjadi adu mulut yang mengakibatkan si profesor muda tersinggung dan meninggalkan podium. Hmm, terjadi juga rupanya hal-hal semacam ini. Namun, di luar saat istirahat, mereka berdua berpelukan, dan saat diskusi selanjutnya, si bapak meminta maaf di depan forum pada si profesor muda. Rasanya hal seperti ini yang jarang –atau mungkin belum pernah- saya temukan di seminar-seminar yang saya ikuti di Indonesia, mungkin karena memang jarang juga sampai ada debat cukup sengit dan semua peserta dan pembicara saling menjaga perasaan. Mungkin bagus juga.

Saya berharap presentasi yang disampaikan semenarik debatnya, sayangnya tidak saya temukan. Hanya satu orang yang mempresentasikan materinya dengan bebas, tidak membaca teks, sisanya membaca teks yang bisa sampai berlembar-lembar, seperti sedang memberikan ceramah. Kalaupun ada power point biasanya hanya jadi latar belakang saja, tidak membantu banyak, karena slide-slide yang ditampilkan pun tidak terlalu menarik. Ini yang sering dikritik oleh teman-teman dari jurusan eksakta, bahwa orang-orang ilmu sosial itu hanya memindahkan word ke dalam power point. Tidak menarik, katanya. Tema-tema yang disampaikan pun sayangnya hanya berkutat di masalah teori. Hanya dari Spanyol dan Swiss yang memberikan penelitian empirisnya. Saya tidak tahu apakah ini kelemahan atau kelebihan, ketika seseorang mendalami bidangnya dengan begitu dalam, akhirnya jadi tidak tahu –atau mungkin tidak tertarik- pada hal-hal lain di luar bidangnya. Namun, ini akan membuat dia menjadi tahu sampai sedetil-detilnya. Dan hal ini terjadi dalam seminar kemarin. Mereka paham bidang mereka sampai detil, sampai pemilihan kata dan istilah pun diperdebatkan. Saya tertarik pada sosiologi, tapi karena memang tidak mendalami itu sedalam-dalamnya, akhirnya jadi bertanya-tanya –sambil kadang terkantuk-kantuk juga- untuk apa mereka mendebatkan itu. Walaupun mungkin memang begitu ketika orang sudah mendalami suatu hal, hal kecil saja akan menjadi perhatian. Saya juga ternyata bisa berdiskusi panjang lebar tentang kata ganti orang, misalnya. Hal yang untuk banyak orang juga tidak perlu diperdebatkan. Jadi, ya, memang begitu.

Hal lain yang menarik perhatian saya –juga dari pengalaman mengikuti konferensi di Wina dulu- adalah mereka tidak terlalu heboh mengurusi makanan. Enaknya mengikuti seminar atau konferensi di Indonesia adalah makanannya: berlimpah dan sering ada jeda waktu minum teh dan kopi. Dan itu disiapkannya dengan sungguh-sungguh. Menyenangkan, walaupun sering kita jadi kekenyangan karena kebanyakan makan dan terkantuk-kantuk saat mengikuti seminarnya. Di sini tidak, makanan disediakan seadanya. Yang jelas kopi dan teh harus ada. Minuman yang cukup banyak. Makan siang hari pertama cuma Gemüse Lasagna untuk yang minta makanan vegetarian (dan porsinya besar!) dan Fränkische Küche (3 iris tipis daging dan 1 Knödel besar) untuk nonvegetarian. Rehat kopi cuma kopi, teh, dan kue kering yang bisa dibeli murah di supermarket. Malah, teman saya tadi cerita, dia diundang ke acara pembukaan cabang suatu bank, untuk makanan dan minuman, dia harus membayar ekstra 1 €.

Acara makan memang boleh sederhana, tapi saya salut dan kagum dengan profesor-profesor itu, yang bisa tahan minum kopi bercangkir-cangkir sambil diskusi dan berdebat. Saya juga kagum pada daya konsentrasi mereka mendengarkan, sehingga diskusi tidak lari ke mana-mana, melainkan sambung menyambung dari pendapat satu ke pendapat lainnya. Dan mereka bisa mengutip dengan tepat kalimat-kalimat yang diucapkan sebelumnya.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya ini peserta seminar atau pengamat seminar? Dua-duanya. Seminar ini tentang kommunikative Gattung -bahasan saya juga-, dan untuk saya yang lebih tertarik pada masalah bahasa, interaksi pengguna bahasa, serta bagaimana bahasa verbal dan nonverbal diterapkan dalam konteks situasi komunikasi tertentu, menjadi pengamat justru lebih menarik perhatian saya. Biarlah mereka  memperdebatkan teori yang mereka buat dan kritisi sendiri, saya justru melihat aplikasinya. Dalam hal ini bagaimana budaya komunikasi di “ilmiah”kan dan bagaimana budaya “ilmiah” dikomunikasikan. Pelajaran yang belum tentu saya dapat di perkuliahan rutin dan buku teks.

Advertisements

2 Gedanken zu „Budaya Komunikasi – Komunikasi Budaya?

  1. ini comment buat budaya „makanan“ nih. Saya juga perhatikan kalau ada acara ultah anak bule sini, biasanya makanan itu kok nomor kesekian ya. Yang ada biasanya cuma sausage roll, pizza, crackers and dips, yang seringnya dibeli dari supermarket. Dan porsinya gak banyak, sehingga kita yang ibu-ibu tahu diri enggak ikutan makan. tapi kalau orang indo atau orang asia in general, wah…makanan dibuat sendiri dengan penuh kasih sayang dan berlimpah-limpah, sampai-sampai kita yang tua-tua bisa makan sampai kekenyangan. Dan kalau kebetulan ada orang bule. mereka ikutan asik juga menikmati makanan kita. memang lain ya.

  2. Iya, las, menarik melihat budaya „makanan“ ini. Mungkin karena konsep „serving“ dan makna makanan yang berbeda di tiap budaya ya. karena kalau dilihat, di sini, kalau kita diundang privat, „serving makanan“ mereka juga cukup istimewa. tapi dalam lingkup sosial, lebih longgar. di kita kan ngga, makanan = serving = menghargai/menghormati orang lain = menghargai diri sendiri. Beda konsep, dan keduanya menurutku ada bagus ada ngganya. Wah, bisa bahas panjang soal ini, nih. Btw, aku coba menelfonmu kemarin, tapi kok salah ya?! Salah nomor mungkin ya

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s