Berada (lagi) di Surga Buku-buku

Ada acara yang tidak bisa tidak saya lewatkan di Jerman ini. Frankfurter Buchmesse. Pameran buku terbesar di Jerman ini selalu menarik-narik saya. Dan kali ini, kesempatan untuk pergi ke sana juga tidak saya sia-siakan.  Jadi, akhir pekan lalu saya ke Frankfurt. Kali ini ikut bis wisata dari Bayreuth ke Frankfurt. Lumayan lebih murah, tidak usah pindah-pindah kereta. Berangkat dari Bayreuth jam 7 pagi dengan penumpang yang kebanyakan orang-orang tua (sudah saya duga), bis yang nyaman dengan sopir yang ramah itu istirahat di Würzburg. Waktu istirahat hanya bisa dimanfaatkan untuk ke toilet, saking antrinya. Perjalanan kemudian dilanjut ke Frankfurt. Tiba di area Frankfurter Buchmesse sekitar jam 11 lebih. Cuaca agak mendung, tapi tidak sedingin di Bayreuth yang tiga hari berturut-turut bersalju dengan suhu di bawah nol.

Kami tiba di Halle 9. Jadi ada area 9 hall yang dipakai untuk pameran ditambah ruang terbuka untuk panggung dan acara penyerta lainnya. Tiket masuk seharga 14 €. Ehrengast atau negara yang menjadi  tamu kehormatan tahun ini adalah Cina. Jadi nuansa pameran kali ini merah.  Saat saya berjalan menuju tempat tiket, seorang lelaki tua menghampiri saya. Ternyata dia dari Bayreuth juga, kami pergi bersama tadi. Dasarnya saya juga tidak terlalu mempedulikan orang, jadi tidak sadar kalau dia berangkat dengan bis yang sama. Berjalan sambil berbincang-bincang. Cukup cerewet juga bapak satu itu. Bercerita macam-macam, dia pendeta protestan yang juga seorang  wasit sepak bola dengan bermacam penghargaan. Segala macam diceritakan. Dan memang Bayreuth kota kecil, semua orang saling mengenal. Jadi orang yang saya kenal juga dia kenal, begitu juga sebaliknya. Awalnya nyaman, lama-lama kok saya jadi merasa tidak nyaman, karena dia menempel saya terus. Tidak mau lepas. Kami hanya berpisah di Halle 3, karena dia ingin melihat bagian buku-buku agama, sedangkan saya ingin melihat buku-buku sastra. Yah, tidak apa-apalah sesekali menemani bapak tua yang butuh teman untuk bercerita atau tepatnya mendengarkan ceritanya.

Oh ya, saya mau bercerita tentang Frankfurter Buchmesse. Seperti biasa selalu menarik, walaupun dengan penjagaan dan pemeriksaan yang semakin ketat. 3 Halle dipakai untuk penerbit-penerbit internasional. Halle lain untuk penerbit-penerbit Jerman. Ada bagian khusus untuk buku anak dan remaja, sastra, buku teks ilmiah, sport, religi, turisme, dll. Ada juga Halle khusus untuk media, tempat diskusi dan acara live. Tidak hanya penerbit-penerbit besar yang mengisi stand pameran, tetapi juga penerbit-penerbit kecil, penerbit alternatif yang hanya menerbitkan buku-buku khusus dengan jumlah terbatas dan edisi special saja.

Walaupun tidak semeriah dan sepenuh saat tahun 2005 saya ke sana (saat itu negara tamunya adalah negara-negara Arab), pameran ini tetap layak untuk dikunjungi. Tidak akan pernah cukup waktu untuk melihat-lihat buku yang dipamerkan di sana. Sayangnya tahun ini Indonesia tidak membuka stand di sana. Entah kenapa. Namun, di stand penerbit pemerintah Belanda saya justru banyak menemukan buku-buku tentang Indonesia. Salah satunya buku tentang Si Doel dan fenomenanya (jadi ingat, sepertinya buku itu yang dibawa oleh Rano Karno saat mengisi acara di Fakultas Sastra Unpad tahun lalu). Menarik sebenarnya ada di Halle penerbit internasional ini. Bahasanya bermacam-macam, dan kita bisa mengetahui trend dan gaya penerbitan serta buku-buku yang diterbitkan di beragam negara.

Di Halle 3 tempat buku-buku sastra dipamerkan (dari penerbit-penerbit Jerman), saya cukup banyak mendapat buku gratisan, belumlah lagi kartu pos atau pembatas buku. Di Halle ini juga diadakan demo masak di stand buku masakan, acara mendongeng, diskusi dengan Peter Maffay yang dibuat biografinya. Beberapa diskusi diadakan di foyer penghubung antar Halle. Sayang diskusi dengan Hertha Müller dan Günther Grass diadakan di hari-hari pameran yang tidak dibuka untuk umum.

Sambil melepas lelah sejenak setelah berjalan dari stand ke stand dari Halle ke Halle, saya duduk sambil membaca buku di stand dtv, reclam, dan beberapa stand menarik lainnya, karena stand-stand tersebut dibuat senyaman mungkin, lengkap dengan tempat duduk dan sofa yang nyaman, sehingga pengunjung yang datang juga bisa ikut membaca dengan tenang. Tidak terburu-buru dan berdesak-desakan layaknya pameran buku di Bandung.

Hari itu saya tidak membawa oleh-oleh sebanyak waktu 2005 dulu saya ke sana, karena buku-buku dijual baru keesokan harinya. Namun, beruntung juga, kalau tidak, saya bisa kalap. Enam jam berlalu begitu cepat di sana. Saya masih belum puas sebenarnya, tetapi bis akan berangkat pulang ke Bayreuth jam 5. Saya harus ikut juga. Kami tiba di Bayreuth jam 21 kurang. Cukup menyenangkan, walaupun saya agak terganggu karena ditempeli si bapak tua yang doyan bercerita itu. Tak apalah, yang penting saya senang karena bisa berada (lagi) di surga buku-buku itu. Ngomong-ngomong, saya juga senang karena kiriman buku dari Indonesia sudah datang. Lucu, buku-buku itu dikirim dari Jerman ke Indonesia, kemudian dikirim lagi ke Jerman dari sana. Tak apalah, yang penting saya tenang di tengah-tengah mereka. Tidak semuanya kok, karena saya sudah membeli dan berniat membeli buku-buku lain tentu.

Catatan: foto diambil sembunyi-sembunyi, karena dilarang memotret di area pameran. Untung juga kamera bisa selamat dari pemeriksaan.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s