Memanusiakan Manusia

Sore tadi saya berangkat naik bis dengan senang, setelah mendapat telefon bahwa pesanan laptop saya sudah datang dan sudah bisa diambil. Suhu hari ini yang cukup ekstrem untuk pertengahan bulan Oktober (nol derajat dan sudah turun hujan salju walaupun tak banyak) tidak mengganggu suasana hati saya. Matahari pun tetap bersinar cerah. Di Haltestelle Uni Verwaltung naiklah beberapa orang mahasiswa. Ada dua orang yang menarik perhatian saya. Dua orang anak muda. Keduanya berambut rasta dengan dandanan a la punk. Yang seorang berjaket merah, berambut rasta panjang. Yang seorang lagi berjaket agak kehijauan, rambut kepangnya diikat, dengan kepala sebagian botak. Si jaket merah berwajah menarik dan duduk di kursi roda. Wajah keduanya cerah. Kursi roda agak sulit dinaikkan. Cukup berat memang. Walaupun pada akhirnya memang bisa juga. Sepanjang perjalanan menuju kota, mereka berdua terus bercanda ceria, tertawa-tawa. Ada rasa haru menyelinap di hati saya menyaksikan keakraban dua orang sahabat yang setia berbagi hari, berbagi tawa, dan cerita.

Namun, bukan keindahan persahabatan itu saja yang membuat saya akhirnya menuliskan ini. Saya membayangkan si teman yang mengangkat kursi roda ke atas bis tentu tidak bisa setiap hari membantu sahabatnya. Pasti ada saat-saat dia harus melakukan pekerjaannya sendiri. Dan apakah dunia jadi berhenti karenanya? Apakah dia jadi tidak bisa naik bis lagi, pergi ke kota, atau berangkat kuliah? Hidup berjalan terus. Dengan atau tiadanya sahabat yang membantu. Duduk di kursi roda bukan berakhirnya dunia, Dan mereka, nyatanya sungguh-sungguh selalu lebih kuat dari orang-orang yang -disebut- “normal”.

Di Jerman ini, dan saya juga berharap di seluruh belahan dunia, mereka difasilitasi dengan baik oleh pemerintahnya. Dari mulai hal yang paling sederhana seperti fasilitas jalan yang ramah untuk semua pejalan kaki dan sepeda, trotoar yang lebar dan tidak naik turun, tidak berlubang, dengan jalur khusus untuk sepeda, sampai ke masalah aktualisasi diri. Di Bayreuth ini ternyata banyak hal baru setelah saya perhatikan lebih detil, yang tidak akan terlihat jika kita hanya melihatnya sekilas. Salah satu di antaranya adalah dipasangnya informasi dalam huruf-huruf Braille di setiap fasilitas umum, di kampus, di kendaraan umum, juga di setiap kotak kemasan makanan, minuman, dan obat-obatan. Di bioskop ada ruangan khusus untuk penderita tuna rungu, sehingga mereka bisa juga ikut menikmati film yang diputar. Itu yang baru. Janganlah tanya soal bis yang didesain sedemikian rupa bisa turun naik rata dengan jalan, sehingga memudahkan orang yang menggunakan kursi roda, membawa kereta bayi, menggunakan kereta dorong, menggunakan tongkat, atau untuk anak kecil dan orang-orang tua yang akan naik. Desain di dalam bis, trem, atau kereta api juga ramah bagi mereka yang membutuhkan. Selalu ada kursi yang dilipat untuk memberi tempat pada kereta bayi, kursi roda, kereta dorong, dan lain sebagainya. Bahkan ada juga semacam papan panjang yang bisa digunakan untuk meletakkan keranjang bayi. Selain itu masih pula dipasang petunjuk kursi yang dikhususkan untuk orang tua atau mereka yang difabel. Tanda itu biasanya dipasang di dekat pintu atau di bagian depan kendaraan umum. Seolah sudah diatur, kursi-kursi bagian depan bis biasanya diisi oleh orang-orang tua, dan anak-anaknya mudanya biasanya langsung mengambil posisi di bagian belakang, jarang yang mengambil posisi di depan. Kalaupun mereka duduk di sana, kemudian ada orang tua yang masuk, mereka langsung pindah. Bagian belakang bis biasanya memiliki tempat duduk dengan posisi yang lebih tinggi. Ruang untuk berdiri pun cukup luas. Tidak hanya trotoar yang ramah pejalan kaki dan bagi para difabel, fasilitas umum selalu dilengkapi lift untuk mereka, atau di samping tangga selalu ada juga jalan khusus. Lantai dasar perumahan dan asrama biasanya dikhususkan untuk para difabel, sepanjang tidak ada permohonan khusus dari mereka. Toilet di fasilitas umum, kampus, perkantoran juga khusus. Di pusat perbelanjaan selalu ada ruang mencoba baju khusus bagi pengguna kursi roda.

Saya perhatikan semua orang juga mendapat kesempatan yang sama dalam proses pengaktualisasian diri. Semua mendapat kesempatan kerja yang sama selama mereka memang mampu. Di kampus saya, kepala bagian khusus mahasiswa asing berkursi roda. Beberapa orang yang bekerja di bagian kemahasiswaan juga difabel. Beberapa orang dosen dan professor juga sama. Dulu dosen bahasa Jerman saya juga menggunakan alat bantu berjalan. Seorang yang kuat, yang sering tidak mau dibantu untuk naik tangga. Belumlah lagi mahasiswa-mahasiswanya. Dari yang menggunakan kursi roda, sampai yang menggunakan alat bantu dengar juga ada. Tidak hanya di kampus, saya melihat orang-orang hebat itu juga bekerja di beberapa pusat perbelanjaan.

Ya, mereka semua memang manusia yang berhak untuk naik bis, berhak untuk membeli baju, berhak untuk jalan-jalan di taman, berhak untuk sekolah, kuliah, dan juga bekerja. Mereka manusia yang sama seperti manusia lainnya, yang juga sudah sepantasnya saling memanusiakan. Menyaksikan dua sahabat di bis tadi, pikiran saya melayang ke Bandung. Ke Indonesia. Sudahkah manusia-manusia di sana saling memanusiakan manusia lainnya? Sudah mulai. Syukurlah. Di Bandung, kampus ITB saya lihat sudah jadi kampus yang ramah pengguna. Beberapa departemen pemerintahan sudah pula dilengkapi fasilitas yang sama. Dan syukurlah bahwa Depdiknas, departemen yang memang sepantasnya sangat berkepentingan untuk memulai pendidikan yang memanusiakan, sudah mulai pula melakukannya. Saya ingat saat Prajab, beberapa orang peserta Prajab adalah rekan-rekan yang kuat tadi. Mereka adalah orang-orang hebat yang memang layak diberi kesempatan yang sama.

Masih dengan haru yang terus menyelusup di rongga dada, saya tersenyum melihat dua orang sahabat yang ceria itu turun di kota sambil terus bercerita riang. Senyum saya juga disertai harap, suatu saat negeri hangat nun jauh di seberang samudera pun akan lebih memanusiakan manusia-manusianya, sehingga persahabatan dan keceriaan seperti yang saya lihat tadi bisa juga semakin terlihat di sana. Semoga harapan saya ini tidak berlebihan, karena saya yakin hal ini sudah dimulai dan akan terus menjadi lebih baik.

Udara masih tetap dingin menusuk tulang. Salju turun sedikit-sedikit. Namun, matahari juga bersinar dan daun-daun masih ada yang hijau, belum sepenuhnya merah, kuning, coklat, lalu luruh. Tuhan memang Maha Kuasa.

Advertisements

Ein Gedanke zu „Memanusiakan Manusia

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s