H +7

Sudah seminggu saya berada di Bayreuth lagi. Kota yang saya tinggalkan 3 tahun lalu. Dan berada di sini lagi, pada H + 7 rasanya masih seperti mimpi. Tujuh hari yang lalu saya tiba. Saat itu mendarat di München, karena ada sahabat saya yang akan menjemput dan berbaik hati mengantar saya ke Bayreuth, dan tentu saja karena bisa pakai Bayern Ticket, sehingga lebih murah ongkosnya. Baru pertama kalinya saya ke bandara München. Tidak besar, jadi tidak terlalu bercapek-capek jalan kaki. Alhamdulillah pemeriksaan lancar. Tidak disambut oleh wajah-wajah kaku dingin petugas imigrasi Jerman dan melihat polisi berseliweran di mana-mana. Cuaca cukup ramah dan hangat untuk pagi di awal musim gugur ini. Dan bertemu sahabat saya tentu lebih menyenangkan lagi. Perjalanan panjang selama 17 jam masih akan dilanjut dengan perjalanan sekitar 4 jam lagi dengan kereta ke Bayreuth. Merasa aneh juga berada lagi di Jerman. Mengulang kembali ritus 3 tahunan. Namun, selebihnya adalah perasaan lega karena sudah sampai dengan selamat.

Di München kami masih menyempatkan diri minum kopi dan coklat panas. München Hbf. masih tetap sama. Masih tetap ramai. Dan bau Jerman yang khas sudah menyergap hidung. Bau Bratwurst dan Bretzel plus gurihnya mentega dan lemak dari Croissant dicampur dengan bau besi yang beradu juga uap dari kereta. Dan angin, udara yang berhembus.  Ada yang khas. Memang bau Jerman. Hampir di setiap kota baunya sama.  Sementara saya masih membawa bau Indonesia -begitu teman saya bilang- mungkin bau keringat campur bensin dan debu :) Teman saya sedang rindu Indonesia, sementara saya sedang senang berada lagi di Jerman. Perjalanan dengan naik kereta murah yang bagus (itu kereta EC yang biasa dipakai jalur ke Austria dan sekarang dipakai jalur antarkota di Bayern) kami lalui dengan tidak terasa. Bercerita banyak hal. Melepas rindu. Sampai di Nürnberg kami masih harus menunggu 1 jam. Seperti biasa. Bayreuth ada di balik gunung. Kereta ke sana jarang sekali. Menyempatkan diri makan di Nordsee (duh, saya kangen sekali makan ikan di restoran ini), 1 jam akhirnya berlalu dan naiklah kami ke kereta arah Bayreuth yang akan dipisah di Pegnitz. Seperti biasa :) Jam 13, kami tiba di stasiun kecil kota kecil ini. Bayreuth – Universitätsstadt. Masih sama seperti dulu :) Dua teman saya sudah menunggu. Duh, senangnya :) kemudian kami langsung diantar ke appartement saya. Frankengutstr. 3. Dulu saya tinggal di Frankengutstr.18. Rasanya meledak-ledak saat saya melewati rumah lama saya. Hei! Saya rindu sekali! Bahkan sampai sekarang, saya masih merindukan kamar saya di No. 18 itu.

Kamar saya yang baru ini juga nyaman. Hanya mungkin agak terasa dingin karena didominasi warna putih dan abu-abu. Namun, saya tetap suka interiornya. Kamar mandi dan dapurnya saya suka. Akhirnya dapur saya agak besar sedikit dan ada meja ekstra untuk saya nanti meracik makanan dan saya jadikan meja makan! Tidak lama saya dan 5 orang Jerman mahasiswa baru lainnya dikumpulkan oleh Hausmeister. 1 jam kami „diceramahi“ tentang aturan rumah, pemisahan sampah, mesin cuci, pembersih debu, blablablabla. Lama-lama saya mengantuk dan mendengarkannya sepotong-sepotong. Apalagi dia bicara dengan dialek Franken yang kental. Ups, saya sudah harus mulai membiasakan diri lagi dengan itu semua. Tak sempat beristirahat, kami sudah pergi ke kota. Teman saya ada janji, dan saya juga harus belanja makanan untuk makan malam. Kami berpisah di kota. Enaknya kembali ke kota lama adalah saya sudah tahu seluk beluknya, sehingga dengan cepat pula saya bisa belanja dan online. Tidak banyak yang berubah, selain stasiun bis yang pindah (dan saya sudah tahu, karena stasiun baru ini memang sudah hampir selesai saat saya meninggalkan Bayreuth 3 tahun lalu) dan semakin banyak cafe di Rotmain Center . Bahkan orang-orangnya pun masih tetap sama. Kasir di Norma masih sama. Pegawai di Telekom masih sama. Tidak banyak yang berubah. Oh, ada yang berubah. Tukang kebab sudah beda. Si mas ganteng penjaga toko buku juga sudah tidak ada. Hmm, saya jadi tidak terlalu bersemangat lagi ke sana, hehe. Tapi, ada toko buku baru di kota. Di bekas Sparkasse. Hugendubel. Besar. Wah, wah. Namun, ini masih saya hindari. Saya belum mau mampir ke sana di hari pertama saya berada lagi di Bayreuth.

Dan malam pertama di Bayreuth saya lewati dengan beres-beres, mandi, keramas dengan hasil saya menggigil hebat, karena kondisi saya sebenarnya masih belum pulih dari flu berat 3 hari sebelum hari H keberangkatan saya. Namun, setelah itu semua kembali baik-baik saja. Tidur nyenyak sampai pagi. Mungkin karena memang suasana hati saya yang sedang senang, jadinya sangat membantu. Keesokan paginya setelah sarapan dengan nikmat (Brötchen, Pfefferminztee), saya bertemu dulu Hausmeister untuk melaporkan kursi saya yang rusak. Hausmeister yang sebenarnya ramah dan memang suka bicara itu malah meminta saya membantu dia jadi tutor untuk mahasiswa-mahasiswa dari Thailand tentang pemisahan sampah (disangkanya saya bisa bahasa Thailand mungkin, hehe). Oke saja. Masalah sampah ini memang luar biasa deh. Apalagi orang Bayern, mereka memandang pemisahan sampah adalah hal terpenting dalam hidup setelah bir. Hehehe. Bagus juga. Cuma kalau sampai kompulsif begitu jadi aneh sih. Walaupun ya, saya harus akui juga, di kamar saya yang hanya 18 qm itu saya punya 4 tempat sampah: sampah dapur, sampah kertas, sampah kamar mandi, sampah plastik dan bungkusan lain. Oh ya, satu lagi wadah kecil untuk baterei bekas.

Urusan dengan Hausmeister selesai. Saya langsung meluncur ke Rathaus untuk mendaftarkan diri. Cepat juga. Data saya masih mereka simpan dan rekam jejak saya juga baik di kota ini. Jadi urusan lancar. Lalu ke bank, buka rekening, transfer uang, dll. Konsultan keuangan saya masih muda. Lumayan ganteng. Ramah dan baik hati. Banyak tertawa. Senang saya. Dia tanya macam-macam, ngobrol ini itu. Bagian dari marketing juga. Karena kondisi perbankan di Jerman saat ini juga cukup buruk. Kemudian ke Telekom lagi, daftar untuk pasang telefon di kamar. Lalu ke kampus. Siapa tahu sudah ada surat asuransi dari DAAD. Ternyata belum. Kemudian makan di Mensa. Wow, kartu saya masih berlaku dan masih ada uang sisa di dalamnya.

Malam kedua saya baru benar-benar merasa capek. 12 jam tidur. Untuk bangun esok harinya dengan segar. Hari Sabtu. Tanggal 3 hari libur. Penyatuan Jerman. Berbincang dengan teman saya per telefon, selanjutnya saya jalan-jalan. Niatnya mau ke Bahnhof. Toko yang buka hanya di sana, dan saya perlu air minum. Menyusuri Hofgarten lagi. Melewati Hauswahnfried lagi. Melewati Neues Schloss lagi. Dan saya girang segirang girangnya. Bahagia sebahagia bahagianya. Ada lagi di hutan kota yang rindang. Pepohonan masih belum sepenuhnya memerah, menguning dan coklat. Masih hijau. Dan kembali, saya suka bau hutan, pohon, dan tanah, dan daun, dan air, dan bunga, dan…matahari masih bersinar hangat. Masuk ke sela sela daun dan pepohonan .  Dari sana ke Sternplatz lalu lurus ke Bahnhof. Jalur yang sering saya lewati. Setelah beli minum, saya mampir ke toko di sana. Hmm, kok sekarang lebih banyak dijual majalah ya dibandingkan buku-buku? Tak berlama-lama, saya kembali lagi ke kota, lalu pulang.

Hari ketiga. Hari Minggu. Saya ingin berjalan kaki ke tempat teman saya. Menyusuri jalan lurus khusus untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda dari belakang Wohnheim sampai ke Jakobshof lalu menyeberang ke Fantaisiestr. Hai, hai. Jalan ini juga sering saya lalui saat jalan-jalan hari Minggu dengan Aisha kalau cuaca cerah. Masih sama. Masih nyaman dan menyenangkan. Orang-orang lalu lalang, jogging, naik sepeda, atau hanya sekedar jalan kaki seperti saya. Lewat Röhrensee dan Tiergarten. Duh, kalau ini yang disebut kebahagiaan tak beralasan, saat itu saya mengalaminya. Hanya senang karena matahari, daun, pohon, awan, dan langit. Semua menyambut saya dengan ramah. Dan segar sekali rasanya saat itu.

Cuma sebentar di sana. Saya kemudian diantar ke kota. Langer Sonntag. Toko-toko buka hari Minggu.  Jalan-jalan di Rotmain Center tidak terlalu menarik. Duh, saya kehilangan Plus dan Handelshof, dua supermarket favorit saya. Sudah diganti dengan toko baju. Kemudian saya ke Restoran Istanbul. Ingin beli Falafel. Kangen saya dengan makanan Turki itu. Pemilik restoran itu teman saya. Dan kami bercerita panjang. Senangnya. Si ini masih ada, si itu di sana, si ini di situ, dan lain-lain. Mungkin rasanya seperti orang yang mudik ke kampung halaman. Karena itu pula, saya kemudian menghubungi nomor telefon teman-teman yang masih tersisa di HP saya. Banyak nomor hilang, karena HP saya yang lama hilang juga. Dan Nina! Tak lama kemudian Nina telfon. Duh, duh, duh! Senang sekali! Dia di Hamburg sekarang. tapi suatu saat kami harus bertemu.

Hari Senin. Pagi-pagi saya sudah ke Ausländerbehörde untuk mengganti visa dengan ijin tinggal. Hmm, tumben, pegawainya masih muda semua. Dan ramah-ramah :) Syarat saya belum lengkap, karena saya harus imatrikulasi dulu di kampus. Ke kampus. Bertemu Profesor saya tak sengaja. Senang sekali dia :) Saya belum bisa daftar, karena surat asuransi baru tiba siang. Siangnya kembali lagi. Untungnya data saya juga masih tersimpan, jadi lancarlah segala urusan. Saya tetap pakai nomor induk yang sama, ID komputer dan perpustakaan yang sama, serta password yang sama. Rasanya semua kembali ke 6 tahun lalu, saat saya pertama kali terdaftar di sini. Sorenya saya ada jadwal bertemu Profesor saya. Hmm, perbincangan yang aneh. Saya diminta ganti tema. Tapi lihat saja. Dia tahu benar bahwa saya tidak mau, jadi..kita lihat saja :)

Hari Selasa. Pagi-pagi saya sudah mendapat email tawaran menerjemahkan dari Goethe Institut. Tentang Junghuhn. Tentu saja saya mau. Sebelum itu saya masih ke Ausländerbehörde untuk menyerahkan berkas sisa. Tetap ada yang kurang, tapi selebihnya oke. Saya tetap diminta mengisi setumpuk formulir tentang teroris, tapi itu sudah jadi bagian dari urusan begituan :) Herr Wagner. Masih sangat muda. Cukup ramah. Tidak berlogat Franken untungnya. Namun, tiba-tiba saya merindukan petugas yang dulu. Siapa namanya? Richter? Schreiber? Kok saya lupa ya. Tawaran terjemahan saya terima. Dan, saya bertemu Qian! Wow! satu teman lagi. Oh ya. di hari kedua di Bayreuth saya bertemu dengan satu teman dari Rusia. Duh, namanya lupa. Senang betul. Kami bercerita banyak :) Kabar lain, Ahmad dan Tahani masih di Bayreuth. Wah, wah. My big brother.

Siang itu saya ada janji dengan Walter dan Andhika. Yang kedua ini dosen UGM yang sedang ambil S3 Biologi Bayreuth. Dengan Walter, duh duh. Senangnya bertemu dia lagi. Belum apa-apa dia sudah mau mengundang saya ke rumahnya yang nyaman di Mistelgau. Oke. Dan untuk pertama kalinya setelah 1 tahun lebih saya minum kopi lagi. Tak tahan godaan latte machiatto ditraktir Walter :) Setelah itu ketemu Andhika. Saat ngobrol, ada Sarah! Wow! Sarah murid kelas Bahasa Indonesia saya dulu. Lalu kami janjian untuk bertemu lagi beberapa hari ini, sebelum dia kembali ke Salzburg. Kuliah di sana dia sekarang. Selanjutnya penerjemahan dimulai. Tulisan yang menarik tentang Junghuhn. Saya akan tulis khusus tentang ini. Namun, sebelum menerjemahkan saya mampir dulu ke tempat Ahmad dan Tahani. Duh, Abudi sudah kelas 2 SD dan Zena…sie ist voll süß! Hadiah kerudung untuk Tahani malah dipakainya. Dan gadis kecil itu cantiik sekali! Waktu memang cepat sekali berlalu. Dia sudah berumur 5 tahun sekarang. Sudah jadi gadis kecil yang cantik :)

Rabu pagi saya sempatkan melanjutkan terjemahan sebelum jam 12-nya saya ada pertemuan dengan Co.Pembimbing saya. Hmm, dan saya memang ternyata -seperti sudah saya duga sebelumnya- lebih cocok dengannya dibandingkan dengan pembimbing saya sendiri. Berdiskusi lumayan banyak dan banyak mendapat masukan juga, dia akhirnya bersedia mengambil alih posisi pembimbing utama.  Yang paling penting, dia tertarik dan setuju dengan tema penelitian saya. Yang lebih penting lagi: saya bisa melakukan penelitian di Indonesia, dengan orang Indonesia, dan dalam bahasa Indonesia (walaupun nanti harus diterjemahkan ke Bahasa Jerman) :) Saya tahu tidak akan mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Pelan-pelan dan satu-satu saja dilakukan. Mudah-mudahan semua lancar.

Hari ini. Terjemahan terjemahan terjemahan. Akhirnya selesai juga :) Tadi saya bertemu Peter. Hehehe, sepertinya memang berjodoh dengan dia. Berbincang lama dan banyak, tentang semua hal. Menyenangkan. Relasi dengan dia memang begitu. Kami sering tidak bisa saling mengerti, dan sering saling menjelekkan, tapi ada kedekatan dan kasih sayang. Dia membenci dan sekaligus mencintai Indonesia dengan caranya, tetapi selalu datang dan datang lagi ke Indonesia. Sama seperti saya membenci dan mencintai Jerman sekaligus dengan cara saya, juga selalu datang dan datang lagi. Dulu dia dosen dan pembimbing skripsi saya, sekarang jadi kolega.

Tidak terasa saya sudah tujuh hari di Bayreuth. Saya langsung hidup di sini. Seperti dulu. Penyesuaian yang cepat seperti waktu yang juga berlari cepat. Untungnya cuaca dan udara masih cukup nyaman menyambut saya yang datang dari negeri bermandi matahari di timur sana. Agar tidak kaget. Dan saya masih merasa berlibur di sini, sama seperti tiga tahun yang lalu. Masalah dengan DAAD seperti biasa saya alami di awal. Namun, rupanya saat ini saya sudah lebih bisa santai dan bersabar menghadapinya, sudah kenal dengan masalah dan resikonya. Jadi tidak ada acara marah-marah di telefon pada ibu yang baik hati dan bicara lemah lembut itu. Email pendek dan tajam cukuplah. Saya tidak mau melanjutkannya lagi, biar saja berjalan sebagaimana seharusnya. Besok saya akan bertemu Sarah dan Thorsten. Wah, saya kangen betul dengan mereka. Bertemu Herr Wagner lagi dan menukar pesawat telfon yang rusak padahal baru dibeli. Di kepala sudah berseliweran ide menghias dapur dan kamar mandi. Di meja tulis saya sudah ada buku kecil jadwal konser dan pementasan teater sampai tahun 2010. Sudah banyak yang saya tandai. Salah satunya pementasan Le Petit Prince dalam Bahasa Perancis bulan November nanti. Darauf kann ich nicht mehr warten :)

Advertisements

4 Gedanken zu „H +7

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s