Ritus

Rasanya bulan Agustus dan September tiga tahun sekali seperti ritus yang saya jalani sejak tahun 1997. Pengulangan-pengulangan yang sama, tapi saya tetap saja tidak terbiasa. Terutama urusan rasa. Tidak banyak yang berubah. Namun, tetap saja saya tidak terbiasa, atau tepatnya tidak mau membiasakan diri.

Tahun 1997 pertama kali saya kunjungi satu area di Jl. Thamrin No. 1. Bersibuk-sibuk dengan berkas-berkas. Belum terlalu rumit saat itu, walaupun saat itu saya harus beberapa kali datang ke sana. Maklum, pengalaman pertama. Belum tahu harus bagaimana. Akhirnya beres. Dan di akhir Agustus terminal keberangkatan Bandara Soekarno Hatta menjadi tempat yang sangat tidak saya sukai. Sampai sekarang. Tempat di mana saya harus selalu berperang dengan perasaan saya. Siapa bilang pergi itu enak? Meninggalkan dan ditinggalkan sama-sama tidak enak. Lain halnya dengan terminal kedatangan. Selalu menjadi tempat favorit saya. Menunggu dan ditunggu adalah hal paling mendebarkan. Debar yang sangat menyenangkan. Kebalikannya, terminal keberangkatan Frankfurt menjadi tempat yang menyenangkan (walaupun hampir setiap saat selalu kena masalah kelebihan berat bagasi di sana) dan terminal kedatangannya yang abu-abu metalik membuat hati ikut beku.

Tempat-tempat itu tidak disadari saya kunjungi hampir 3 tahun sekali. Dengan rasa yang tetap sama. September 2001 kembali saya kunjungi Jl. Thamrin No. 1. Sudah paham, jadi cukup mudah. Apalagi penjamin saya jadi jaminan terbaik. Dan terminal keberangkatan Bandara Soekarno Hatta jadi saksi air mata saya. Cuma sebulan. Namun, rasanya saat itu saya pergi untuk setahun. Tahun itu pula, selain masalah bagasi, saya harus melewati pemeriksaan super ketat, beradu argumen lagi dengan petugas imigrasi, karena saya pulang setelah peristiwa 11 September. Di Hongkong pun saya harus menjalani pemeriksaan ekstra. Gara-gara gunting kuku saya harus masuk ruangan khusus. Dan tentu saja terminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta selalu menyambut saya dengan hangat dan penuh cinta.

September 2003, keberangkatan kesekian kalinya, namun lebih berat dari sebelum-sebelumnya. Jl. Thamrin No. 1 sudah mulai cukup ramah, karena penjamin saya juga, dan saya yang mulai terbiasa dengan berkas-berkas yang seabreg. Saat itu Frankfurt hanya jadi tempat transit sebelum saya terbang lagi ke Nürnberg. Namun, lorong panjang dengan lampu warna warni dan musik entah dari dunia mana, tetap terasa sangat dingin dan asing. Selamat datang. Nürnberg sama dinginnya. Hanya lebih kecil. Hari-hari berikutnya terasa panjang, sampai akhirnya saya terbiasa dan merasa nyaman. Cukup berat juga meninggalkan Bayreuth dan segala kehangatan yang ada di sana. Namun, terminal kedatangan Bandara Sukarno Hatta sudah menanti saya dengan hangat dan penuh cinta.

Itu 2006. Bulan September juga. Bulan Agustusnya kesibukan saya sama: mengepak dan mengirim barang, beres-beres ini itu, menyelesaikan urusan ini itu. Selalu demikian. Terutama mengurus hati. Siapa bilang pergi itu enak? Walaupun saya pergi untuk pulang ke tempat yang disebut rumah. Biasanya di saat-saat mau berangkat saya baru mau membereskan koper saya. Itu karena keengganan saya untuk berangkat.

Dan Agustus tahun ini, kesibukan saya sama seperti Agustus 2003. Jl. Thamrin No. 1 saya kunjungi lagi. Lebih selektif dan protektif dari sebelum-sebelumnya karena banyak kejadian setelah September 2001, Bali 2002, Jakarta 2003, Bali 2005, dan Jakarta lagi 2009. Di Bayreuth dulu selama 3 tahun, 6 bulan sekali saya harus lapor ke urusan orang asing pemerintah kota di sana. Mengisi formulir berlembar-lembar karena saya dari Indonesia, negara teroris ke 5 di dunia. Miris dan entah rasa apa lagi yang muncul saat saya mengisi lembar-lembar itu. Dua minggu lalu saya kembali diminta mengisi formulir yang sama, tetapi lebih tipis, dan urutan Indonesia sudah turun ke urutan 12 kalau saya tidak salah. Senang? Saya tetap merasa miris.

Dan bulan-bulan Agustus, September, hampir tiga tahun sekali, saya berkutat dengan urusan dan perasaan yang sama. Namun, saya tetap tidak terbiasa dengan itu. Emosi saya tetap naik turun. Kondisi fisik dan psikis saya tetap tidak stabil. Ada kecemasan, ada rasa senang, ada khawatir, ada gairah, penasaran, ada rindu, ada gelisah, ada takut, ada harap. Semua. Rasa-rasa yang selalu terulang hampir tiga tahun sekali. Di bulan Agustus, September. Hampir jadi ritus. Saya hanya berharap yang terbaik.

Advertisements

4 Gedanken zu „Ritus

  1. di sini gak bisa klik : I like this ya? heuheuheu

    sama teh! hampir sebagian besar sama. Tulisan yang ini ‚mewakili‘ perasaan aku juga nih , huehehehe (tsah, mewakili :p) , apalagi pas bagian ini:

    „Siapa bilang pergi itu enak? Meninggalkan dan ditinggalkan sama-sama tidak enak. Lain halnya dengan terminal kedatangan. Selalu menjadi tempat favorit saya. Menunggu dan ditunggu adalah hal paling mendebarkan. Debar yang sangat menyenangkan.“

    setuju :D

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s