Raum 1.4

Sudah banyak ruangan yang saya masuki sepanjang pekerjaan saya mengajar. Di Tengku Angkasa, di Jatinangor, di Dipati Ukur, di ITB, di Bayreuth. Sudah beragam orang juga saya temui di ruangan-ruangan yang saya masuki. Orang-orang dengan dunianya masing-masing. Banyak yang berkesan. Banyak pula yang terlupakan begitu saja. Banyak yang membahagiakan. Tak sedikit pula yang mengesalkan. Baik ruangannya ataupun orangnya. Ruangan yang berbeda. Orang yang berbeda. Cerita yang berbeda. Dengan saya dan orang-orang di dalamnya sebagai tokoh cerita. Ruangan jadi panggung cerita itu berjalan.

Dan ada satu ruangan di Labtek VIII ITB. Ruangan 1.4. Sudah sering saya masuki, jadi tidak ada yang terlalu istimewa saat saya masuk lagi ke ruangan itu di satu petang di bulan September 2007. Cukup penuh. Saya pindai satu-satu siapa-siapa saja yang ada di dalamnya. Beberapa wajah dan beberapa nama menempel dengan cepat di ingatan. Lalu 1,5 jam berlalu dengan cepat. Seperti biasa. Maklum, masih di awal. Bahasa Jerman masih menyenangkan. Biasanya itu bertahan sampai Lektion 3. Setelah itu, selamat belajar bahasa paling menyesatkan sedunia –itu komentar salah seorang murid saya dulu.

Memang terbukti, dari jumlah murid yang awalnya sekitar 20 orang, lambat laun menghilang satu-satu karena satu dan lain alasan atau tanpa alasan sama sekali. Sampai akhirnya ada 8 orang yang bertahan sampai ujian akhir. Delapan orang survivor yang luar biasa dan membawa kesan sangat mendalam untuk saya. Bukannya kelas-kelas lain tidak ada yang istimewa, tapi kelas ini bisa membuat saya amat sangat bersemangat berangkat mengajar ke ITB, dan melewatkan waktu 2,5 jam saat itu (tambahan dari waktu normal 1,5 jam, karena kami ingin berhenti sebelum lebaran) dengan sangat cepat. Delapan orang survivor inilah yang membawa saya pada malam yang istimewa ini. Mereka: Andika, Bahrelfi, Dita, Fima, Ira, Riana, Yusuf, dan Zico (di tahun berikutnya ditambah Meta).

Pertemuan Senin – Rabu kami di Raum 1.4 selalu menyenangkan. Ada banyak cerita (selalu ada cerita baru dari mereka), ada banyak tawa (Dita yang paling ceria dan paling banyak tertawa), ada banyak kisah (ini bagian penting tulisan ini), ada kreativitas (jika sudah diberi tugas mengarang atau membuat dialog jadinya aneh-aneh), ada banyak makanan (Kartoffelsalat dan oleh-oleh kalau ada yang pulang kampung, masak dan makan bersama di rumah Meta, makan soto di dekat gerbang belakang ITB, di Waroeng Pasta, ditraktir Andika di Suis Butcher, hmm…), ada banyak curhat (tentang banyak hal, langsung atau lewat chating), ada kehilangan (Andika kehilangan sepatu dan Zico kehilangan tempat pensil nyawanya), ada bincang-bincang tentang astronomi (Andika dari S1 astronomi dan S2 di SBM), elektro (Yusuf yang tekun sekali membolak-balik kalimat), seni rupa (Zico sang seniman), biologi (Fima dan Bah yang cinta mati pada biologi), fisika (Meta sang fisikawati), ekonomi (Dita dari Ekonomi tapi mengaku tidak bisa menghitung), dan kedokteran (Riana yang gaya belajarnya seperti sedang mendiagnosa pasien. Ada ujian lisan yang membuat saya tak bisa berhenti tertawa sekaligus bangga. Ada diskusi dan canda tawa hanya dari satu tema kecil saja dari buku dengan tokoh utama Timo, Anton, dan Corinna. Plus Koko tentu. Dan saya terlibat di dalamnya. Mereka melibatkan saya dalam hari-hari mereka. Entah kenapa, saya juga bisa langsung masuk dengan nyamannya pada mereka. Ada persahabatan di sana. Kuat. Saya bisa rasakan itu. Jika belakangan ada kisah kasih di sana, saya tidak heran. Di depan kelas saya bisa melihat semuanya dengan jelas. Juga bahasa tubuh mereka. Persahabatan tak berhenti sampai kursus selesai dan beberapa orang harus pergi. Saya tetap dilibatkan. Ini yang membuat istimewa.

Seperti pada malam itu, 24 Oktober 2008, saya makan bersama Andika, Bah, dan Fima di sebuah warung steak di daerah Tamansari. Dari sms yang dikirim Bah untuk saya sebelumnya saya sudah tahu bahwa ada hal istimewa yang ingin disampaikan Andika. Sambil duduk sambil melipat-lipat tissue di depannya, dia bilang bahwa dia mau menikah. Dengan Dita. Saya tidak heran. Saya sudah tahu dari awal bagaimana relasi mereka tumbuh dan berkembang. Mereka menutupinya, tapi tidak bisa membohongi saya. Memang tersamarkan oleh persahabatan yang begitu akrab. Namun, yang membuat saya merasa sangat istimewa, saat itu Andika belum lagi memberitahu orang tuanya tentang rencana mereka. Dia merasa saya harus diberitahu pertama kali tentang hal itu, baru yang lain. Untuk saya ini agak aneh: murid saya „minta ijin“ menikah pada saya? Antara heran dan geli –tiba-tiba saya jadi merasa sangat tua, hehe- saya bahagia mendengarnya. Untuk selanjutnya saya juga masih dilibatkan dalam rencana pernikahan mereka. Sungguh ajaib, Dita di Jerman, Andika di Bandung, lalu ke Amerika, dan rencana pernikahan diwujudkan di Bandung oleh teman-teman mereka.

Malam ini, tadi, saya hadir dan ada di resepsi pernikahan Andika dan Dita. Udara dan nafas bahagia terhidu di seluruh kebun belakang The Kartipah yang sudah didekorasi dengan indah. Ada kehangatan yang menyejukkan. Musik jazz lembut mengiringi senyum dan bahagia yang merebak. Andika dari  ITB dan Dita dari Maranatha bertemu pertama kali di Raum 1.4. Malam itu The Kartipah menjadi saksi awal langkah mereka ke depan. Banyak sekali yang saya ingin ungkapkan. Namun, kata memang tak pernah cukup ruah mewakili rasa. Saya senang, bahagia, bangga, terharu, terpesona pada semua yang sudah Sang Maha Kasih aturkan. Pertemuan-pertemuan. Kisah-kisah dari pertemuan-pertemuan itu. Semua  tidak pernah ada yang kebetulan. Semua sudah diatur begitu indah seperti bintang di langit. Semua indah pada waktunya. Saya rasakan itu. Getaran itu –entah apa- yang membuat saya tak putus syukur. Kalau ini yang disebut bahagia tanpa sebab, tadi saya merasakannya. Indah.

Suatu saat saya pernah ditanya tentang apa itu keberhasilan untuk saya. Bolehkah malam ini saya hitung sebagai keberhasilan saya? Karena keberhasilan identik dengan rasa bahagia, rasanya bisa. Saya senang bahwa saya bisa menjadi bagian dari kehidupan mereka. Bukan Andika dan Dita saja, tapi juga yang lain. Betapa saya sangat bangga dengan apa yang sudah mereka semua lakukan. Dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Entah bagaimana saya yakin, suatu saat mereka akan menjadi orang-orang yang membanggakan negeri ini.

Für Andika und Dita, ich freue mich riesig mit Euch. Herzlichen Glückwünsch! Es gibt kein Ende. Heute ist es ein Anfang für das neue Leben. Und ich bin sehr glücklich, dass ich in einem Teil von Eurem Leben dabei sein konnte. Und für Alle: ich liebe Euch alle und bin wirklich sehr stolz auf Euch. Möge Allah Euch immer schützen.

Bandung, 160809

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s