Paranoid

Jonathan Noel terkejut saat suatu pagi dia mendapati kotoran burung merpati di depan pintu kamarnya. Pikirannya melayang-layang. Cemas dan takut menghantui pikiran dan perasaannya. Dia akan mati. Kotoran itu akan membuatnya mati. Hidupnya yang lurus-lurus saja akan terancam oleh kotoran burung yang sangat tidak tahu adat. Dibuang begitu saja di depan pintu kamarnya. Jonathan Noel terancam. Dia tersiksa oleh perasaan cemas dan curiga tak menentu. Bagaimana selanjutnya? Baca saja buku Die Taube dari Patrick Süskind yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berjudul Paranoid. Tergambar jelas bagaimana kegilaan seseorang akan sesuatu yang mungkin untuk orang lain sangat kecil. Apalagi untuk merpati. Hanya buang kotoran. Alami saja.

Saya Dian. Dalam beberapa hal saya seperti Jonathan Noel. Curiga berlebih terutama pada urusan kesehatan. Semakin saya cemas justru semakin saya sakit. Jadinya, saya sakit karena takut sakit. Sudah lama sebenarnya saya alami ini. Kadarnya dulu kecil. Walaupun sudah tampak bahwa sakit-sakit saya biasanya karena psikosomatis. Penyakit-penyakitnya pun penyakit psikosomatis. Asthma, maag, dan gatal-gatal. Asthma dulu kambuh kalau panas dan gelap. Maag dan sakit perut kambuh saat mau ujian. Gatal-gatal pun muncul saat tugas menumpuk dan dikejar deadline. Jelas kan?

Sepulangnya dari Jerman pertama kali, saya jadi semakin paranoid dengan urusan kesehatan. Sok steril jadinya. Apalagi jika menyangkut urusan dokter, obat, dan rumah sakit. Saya pembenci mereka semua. Obat adalah racun. Dokter adalah eksekutor. Rumah sakit adalah tempat jagal. Namun, di sisi lain saya kadang  tak bias menghindari itu semua. Dilematis. Itu yang saya benci. Dilema-nya itu. Apalagi di Indonesia. Maaf, mungkin saya memang sok. Saya memang banyak curiganya dengan cara kerja dokter dan rumah sakit di sini. Trauma dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Yang menimpa saya atau kerabat dekat serta teman-teman saya. Dokter memang jadi eksekutor yang dengan mudahnya memberikan racun kimia tanpa melihat detil, apakah memang tubuh memerlukannya atau tidak. Saya pernah keracunan obat yang mengakibatkan kulit jadi terbakar dan melepuh. Masih hidup sampai sekarang itu anugerah yang tak terkira. Belum lagi rumah sakit dengan pelayanan yang buruk dan lambat (padahal tentu saja memang tak bisa saya bandingkan dengan film ER yang overdosis saya tonton). Dan tentu saja dengan tetap meminta uang yang tak sedikit. Padahal kebersihan dan sikap ramah tamah tak pernah muncul. Tidak ada standar baku pelayanan. Bukan mengecilkan usaha mereka, tapi penghargaan pada manusia dan kemanusiaan. Yang terjadi bukan kesembuhan malah trauma-trauma dan kecurigaan-kecurigaan lain yang terus muncul. Akibatnya orang lebih suka tidak berurusan dengan ketiga hal tadi. Saya salah satunya. Contoh kasus lain yang berhubungan dengan ketiga hal ini bertebaran di beragam media.

Dasarnya memang saya pencemas. Setiap perubahan kecil dalam tubuh saya menjadi sangat terasa dan cukup sering membuat saya cemas. Padahal bukan apa-apa. Faktor usia juga mungkin. Makin tua makin penakut. Tubuh saya pun justru semakin manja. Namun, tindakan preventif membuat saya merasa cukup nyaman. Yang penting saya tidak harus berurusan dengan dokter, obat, dan rumah sakit. Baik untuk saya sendiri, maupun untuk kerabat dekat dan teman-teman saya. Namun, tindakan preventif saya juga suka sangat berlebihan. Tak puas dengan informasi dari dokter yang sering sepotong-potong, saya cari di internet. Sampai pada suatu saat saya pernah merasa tidak kuat menanggung apa yang saya baca dan saya ketahui. Tubuh saya ambruk. Salah sendiri, suka sok ingin tahu. Sejak saat itu saya berusaha membatasi intensitas pertemanan saya dengan internet yang jadi samudera luas yang saya pikir bisa memuaskan keingintahuan saya. Jangan berlebih memang. Kamerekaan, kata orang Sunda sih.

Dan rasanya setahun terakhir ini paranoid saya sudah berlebihan. Saya jadi takut sendiri dengan kecemasan dan ketakutan saya, yang seringnya sangat tidak jelas. Terlalu curiga juga tentu tidak menyehatkan. Terutama secara psikis. Saya sadar, kuncinya adalah percaya. Percaya dan mengakui bahwa saya punya banyak keterbatasan. Bahwa saya tidak bisa mengendalikan apapun. Hidup saya jadi melambat. Memang saat ini itu yang membuat nyaman. Dan saya bahagia sudah bisa mengatur tempo hidup saya. Tidak perlu cepat-cepat. Ada banyak hal yang bisa dipandang, dihirup, dan dinikmati saat berjalan, bukan berlari. Bukankah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Atau terbalik ya? Di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat :)

Ayo paranoid, terbang jauh-jauh seperti merpati. Eh, tapi kata bibi saya, kotoran burung itu bawa rejeki. Hehe.

Advertisements

2 Gedanken zu „Paranoid

  1. penyakit-penyakit kita koq mirip-mirip ya…:)
    saya punya maag dan pilek yg sering muncul kalo lagi stress berat. Akhir2 ini pake tambah batuk2 kronis yg muncul kalo lagi dingin (dalam artian harfiah dan gak harfiah nih…hahaaaaa)
    Payah deh jadi org psikosomatis…hahaaaa

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s