Mei

Pertemuan singkat tapi (selalu) menyenangkan dengan seorang sahabat –yang sudah setahun tak jumpa fisik- di penghujung April lalu, membuat saya sadar, bahwa saya sudah lama tenggelam dalam dunia saya sendiri. Tulisan-tulisan saya belakangan ini sedih terus, menurutnya. Dia bisa membacanya dengan jelas. Benar juga, tapi memang demikian adanya. Istilah (ngga) kerennya depresi dan paranoid. Sampai akhirnya saya sudah lama melupakan hal-hal kecil yang justru lebih banyak terjadi dan seperti biasa selalu membahagiakan. Jika saya mau melihatnya. Jadi, terima kasih atas pertemuan singkat yang sangat berarti waktu itu.

Setelah bertemu dengannya, saya melanjutkan acara saya di Kedubes Jerman. Ya, saya memutuskan kembali ke Bayreuth. Ke kehidupan lama saya. Setelah melalui beragam proses dan pertimbangan, cukup lama, hari itu saya memutuskan menghadiri undangan Kedubes dan DAAD untuk acara penyerahan beasiswa. Tak disangka tak dinyana, ternyata saya termasuk ke dalam tiga penerima beasiswa terbaik. Hehe, kalau ingat bagaimana saya „bersitegang“ saat wawancara dan sikap ngeyel saya saat diminta ikut ujian Test DaF (dan hasilnya tes-nya pun di luar dugaan), kaget juga saya dengan hasil tersebut. Di sana bertemu dengan teman-teman sesama penerima beasiswa. Masih muda-muda. Hebat-hebat. Pulang ke Bandung dengan dua orang teman baru. Seru. Tiga perempuan yang kemudian merencanakan dengan seksama acara main ke mana saja setelah kami sampai di Jerman nanti. Eh, harus kuliah ya? Ehm, bagaimana ya, sayangnya kami bertiga berprinsip sama bahwa kuliah tidak boleh mengganggu main. Eropa timur sudah menunggu, hehe.

Dan awal Mei adalah minggu yang sibuk. Seminar kolloquium mahasiswa semester delapan, belum lagi tamu-tamu dari Jerman dan Austria yang berdatangan ke Jurusan. Wara wiri ke sana ke mari (bukannya selalu begitu? ;)). Dua minggu sebelumnya, tiba-tiba pula saya ditelfon oleh pihak Goethe Institut, bertanya apakah saya bersedia menjadi interpreter utusan kementrian luar negeri Jerman untuk acara pembukaan dan diskusi tentang Islam di Jerman. Tanpa pikir panjang saat itu saya menyetujuinya. Sampai tanggal 6 dan 7 Mei lalu. Sedianya saya hanya menerjemahkan Heidrun Tempel perempuan muda nan energik dan menyenangkan, utusan khusus kementrian luar negeri Jerman di Berlin, tapi pada kenyataannya saya pun jadi diminta menjadi penerjemah Direktur Goethe Institut Indonesia dan Wakil Gubernur Jabar. Cukup berkeringat juga, ketika dua orang Jerman itu banyak mengutip puisi dan bermetafora ria, belum lagi Wagub cukup centil menggunakan bahasa Sunda dalam pidatonya. Alhamdulillah semua bisa dilewati. Semua puas. Saya senang tentu saja. Direktur Goethe Institut langsung menawari saya ikut dalam salah satu proyek terjemahan dan … mengikuti kursus menjadi interpreter profesional di Heidelberg atas biaya Goethe Institut. Wow! Ini berkah tak terduga. Tak berhenti tersenyum saya saat itu.

Hari kedua, acara diskusi pun berlangsung dengan lancar. Cukup melelahkan, tapi saya senang dengan antuasiasme peserta dan pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan. Momen paling membuncahkan bahagia adalah saat akhir diskusi, Frau Tempel memuji saya dengan amat sangat tulus dan mengundang saya untuk datang ke Berlin untuk menemuinya, dan menjadi penerjemah untuk acara yang sama di Berlin. Dan dia meminta saya menerjemahkan semua perkataannya tersebut agar publik mengetahuinya. Ini momen luar biasa. Alhamdulillah. Alles gut Ende gut. Semua pihak senang. Saya apalagi. Kebahagiaan dan kesempatan yang saya dapat, juga jejaring yang terbangun ditambah kepercayaan yang sedemikian besar, jauh lebih berharga dibandingkan dengan uang (tapi besar juga memang, hehe).

Hari-hari selanjutnya, selain kesibukan rutin di kampus, saya pun diminta Wawan Sofwan dari mainteater untuk menjadi konsultan naskah „Unter Eis“, yang dipentaskan tanggal 15, 19, dan 20 Mei. Tanpa Wawan minta pun sebenarnya saya akan dengan senang hati melibatkan diri. Kali ini saya bekerja sama dengan Iqbal dan Syaiful. Untuk saya ini bukan pekerjaan, tapi kebutuhan batin. Ikut talkshow di radio, deg-deg-an berdoa semoga tidak hujan saat pementasan di Selasar Soenaryo, lumayan „terbakar“ saat membaca tulisan Ahda Imran, merancang diskusi, dll, puncaknya adalah eforia dan kelegaan ketika keseluruhan pentas berakhir dengan sukses.

Di sela-sela itu sempat ada lokakarya di Jurusan tentang metodik didaktik. Di saat itu pula saya ditanya tentang tujuan dan alas an saya menjadi pendidik. Jawaban saya ternyata tetap sama, bahwa saya tidak pernah bisa membayangkan pekerjaan lain selain menjadi dosen. Dan tujuan saya pun ternyata masih tetap sama: membuat mata mahasiswa saya berbinar-binar dengan apa yang mereka pelajari. Saya hanya medium.

Saya memang hanya medium di tengah lautan ilmu yang masih amat sangat sedikit saya ketahui. Saya memang hanya medium, di tengah banyak orang hebat, kuat, dan tulus mengabdi untuk ilmu dan pendidikan. Maka ketika saya diminta menjadi validator instrumen penilaian buku ajar bersama-sama dengan para profesor, saya merasa sangat beruntung. Saya bukan siapa-siapa, namun saya beruntung bertemu dengan salah seorang teman di acara Kedubes akhir bulan lalu. Lewat dia-lah saya mendapat kesempatan belajar lebih banyak, karena kebetulan pula saya menulis buku. Ada beberapa hal yang mengganjal, tetapi tujuan untuk kebaikan dan perbaikan yang coba saya maknai. Saya tetap berjalan sesuai dengan kata hati saya.

Dengan itu pula saya datang ke Sabuga, 26 Mei lalu untuk gladi resik acara puncak Hardiknas. Tiga hari yang aneh menurut saya, ketika malam minggu lalu –benar-benar malam- saya ditelfon oleh salah seorang petinggi DIKTI, menanyakan apakah saya sudah menerima undangan untuk hadir mewakili para penerima beasiswa DIKTI ke luar negeri di acara puncak Hardiknas dan menerima SK beasiswanya langsung dari RI 1. Ini bercanda, saya bilang, karena saya sudah memutuskan mengambil beasiswa DAAD dan tidak jadi mengambil beasiswa dari DIKTI. Tapi saya tetap diminta datang. Hehe, dari sini saya semakin tahu, bagaimana cara mereka bekerja. Sambil senyum saya berpikir, tak heran negara dan pendidikan Indonesia kacau balau, mengurus hal kecil dan acara seperti ini saja juga kacau. Tapi sudahlah. Cerita behind the scene acara puncak Hardiknas dan kisah berdirinya saya di panggung menerima SK dari RI 1 dan Mendiknas mungkin akan saya tulis khusus di tulisan dengan tema kritik dan opini deh, hehe, cukup mengganggu soalnya. Tapi itu nanti saja, ini temanya kan yang happy-happy. Btw, SK tersebut sebenarnya sudah saya download jauh-jauh hari sebelumnya di internet, hehe.

Setelah pertemuan langsung dengan RI 1 yang ternyata cukup simpatik –jabat tangan erat, senyum tulus, dan tatapan yang langung menatap masuk mata saya-, mendadak saya jadi terkenal deh. Permintaan wawancara dan jadi narasumber talkshow di TVRI datang, belum lagi orang-orang di kampus yang tiba-tiba jadi ikut heboh. Hehehe, saya senang dan berterima kasih, sekaligus geli dan miris mengingat cerita di balik layarnya. Tapi ngomong-ngomong juga, saat talkshow langsung di TV menyenangkan juga. Mungkin karena presenternya pun teman saya sendiri, jadi saya bisa sangat rilex. 30 menit terasa sangat sebentar, hehe.

Kado istimewa lainnya saya dapat dari Wawan Sofwan, dengan pementasan monolog „Perang Klamm“, hari Rabu lalu. Luar biasa! Saya tergetar, seperti kaca dan daun jendela yang ikut bergetar dengan gelegar suara Wawan. Saya tidak bisa melukiskan pementasan itu dengan kata-kata. Semua yang hadir juga terpesona dan terhenyak dengan pementasan yang sangat menusuk hati. Membuat semua yang hadir –mahasiswa dan dosen- berpikir ulang tentang makna ada di dalam kelas dan untuk apa. Saya kembali disadarkan untuk apa saya menjadi dosen. Mahasiswa kembali disadarkan, bahwa dosen juga manusia. Terima kasih, Kang Wawan, untuk kado yang sangat istimewa. Hari itu memang lengkap, selain Wawan yang datang, di Sastra hadir juga Yasraf Amir Piliang dan Putu Wijaya yang memberikan pencerahan-pencerahan lain.

Paling istimewa tentu saja Abschlussfest mahasiswa kemarin. Ini yang selalu membuat saya dan tentu saja dosen-dosen lainnya terharu campur bangga dengan kreativitas mahasiswa. Semua berpartisipasi. Dan sebagai dosen linguistik yang paling banyak terlibat dengan mahasiswa semester 8 pengutamaan linguistik, saya kembali bangga dengan kreativitas mereka dan bagaimana mereka mengaplikasikan apa yang sudah mereka dapat selama 2 semester berada di pengutamaan linguistik. Saya yakin, mereka akan menjadi linguis-linguis andal yang sangat peka dan cinta pada bahasa. Kali ini mereka menampilkan Sprachkabaret, berkisah tentang proses produksi acara berita, lengkap dengan reportasi dan iklan. Di situlah saya tahu bahwa mereka benar-benar paham apa yang mereka mereka pelajari di perkuliahan Psycholinguistik, Semiotik, dan Sosiolinguistik. Dengan kreativitas yang luar biasa mereka tampil penuh percaya diri, dan kocak tentu saja. Kembali saya dan semua yang hadir terpingkal-pingkal sambil juga mengangguk paham karena mereka tetap menyelipkan materi-materi perkuliahan yang mereka dapat. Usaha dan kerja keras mereka selama satu tahun ini membuahkan hasil yang manis. Tidak saja untuk hal-hal yang bersifat akademis saja, tetapi juga untuk masalah kreativitas. Saya amat sangat bangga pada mereka. Dan ini adalah kebahagiaan saya terbesar sebagai pendidik. Kebahagiaan yang tak terkira. Untuk itu saya sangat bersyukur dan juga berterima kasih pada mahasiswa-mahasiswa saya yang sudah memberikan kebahagiaan yang besar ini pada saya. Semuanya menjadi sangat indah. Maka nikmat Tuhan yang mana lagikah yang bisa saya dustakan? Tak ada dan tak bisa, walaupun sambil sakit gigi dan harus dicabut :)

Advertisements

13 Gedanken zu „Mei

  1. Wow, sebuah Mei yang sibuk dan mengesankan!
    Erh, tapi tau nggak? Juni biasanya lebih keren lagi. Percaya deh. Bisa dimulai misalnya dengan mengeksekusi sebuah gigi jail.

  2. Oh, jadi itu toh cerita behind the scene-nya???
    Benar-benar menyebalkan ya?
    Tapi, jadi mau kuliah dengan beasiswa dari Dikti? Atau itu hanya formalitas? Tetep ngambil yang DAAD?

  3. @ Koen: Juni? Mmm, sepertinya akan ada yang mentraktir ;) Satu gigi? Si pembuat gigi ilang a.k.a gilang bilang: 4! ihik ihik
    @ Tria: hehehe, begitulah
    @ Ratih: Belum, Rat. Ada lagi, boleh ketemu langsung untuk cerita. Saya jadi ngambil DAAD, DIKTI akan dikembalikan

  4. Aku suka dengan closingnya..

    „Maka nikmat Tuhan yang mana lagikah yang bisa saya dustakan?“

    Bulan mei yang cantik. Kita kadang memang terlalu banyak mengeluh, padahal keluh kesah itu tidak pernah menyelesaikan masalah. Ketika semua dihadapi dengan keikhlasan dan ketulusan ternyata semuanya jauh lebih indah dari yang kita harapkan. Alhmadulillah.

  5. @ Nani: betul, nan, kebanyakan lupanya :) eh, daku belum cerita ya tentang behind the scene itu? belum sempat chating, hehe

    @ Insan: hahaha, ngga akan ah nanti mah. aku udah ngga insomnix lagi :p

  6. Wah, ibu Dian nih memang luar biasa deh. Udah sangat berbakat, bersemangat menggebu-gebu lagi. Sukses selalu ya dan have lots of fun in Germany!

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s