Mendengarkan dan Menyimak

Membaca dan memaknai tulisan Ahda Imran di suplemen Khazanah HU Pikiran Rakyat hari Minggu 17 Mei 2009 lalu tentang pementasan teater „Di Bawah Lapisan Es“, membuat saya merenung banyak. Kebetulan pula sesiangan itu saya ada di Ciwidey: menikmati dan merenungi alam. Seperti biasa dan serta merta pula banyak hal berseliweran di kepala saya. Namun, yang paling dominan adalah pertanyaan tentang apakah bagi kebanyakan orang kegiatan melihat dan menonton itu lebih menarik dan menggairahkan dibandingkan dengan kegiatan mendengarkan dan menyimak?

Kesemuanya mungkin mengesankan tindakan yang pasif, walaupun saya lebih memilih dan menyukai kegiatan mendengarkan dan menyimak. Untuk saya, gelombang bunyi dan suara yang menggetarkan gendang telinga selalu jadi sesuatu hal yang mengasyikkan. Saya sangat menyukai peristiwa saat saya memejamkan mata dan mendengarkan bunyi-bunyian yang ada. Yang lirih yang lebih saya suka. Selalu ada sensasi hening yang menggetarkan dari denting atau gemerisik atau apapun itu bentuknya yang lewat ke telinga saya. Apalagi jika ada melodi yang merdu membuai belai. Walaupun juga jika kata dan kalimat bermakna yang bisa saja sangat menusuk tajam. Kadang hal-hal semacam itu lebih indah dibandingkan pandangan mata yang tusukannya kadang lebih tajam.

Boleh jadi saya memang aneh, ketika untuk kebanyakan orang, pergi menonton (bioskop atau apapun itu) lebih memuaskan dibandingkan menyimak pertunjukan teater yang penuh dengan monolog dan miskin gerak. Monoton. Membosankan. Meletihkan. Bisa jadi. Dan tulisan Ahda Imran di atas menurut saya mempertegas anggapan, bahwa pertunjukan teater akan menarik dan tidak membosankan jika tidak miskin gerak dan tidak banyak bermonolog.

Bolehlah juga dikatakan saya membela diri, karena saya turut andil dalam proses produksi pementasan „Di Bawah Lapisan Es“. Saya turut „membedah“ dan memaknai naskah, juga memberikan masukan bagaimana para pemain „sebaiknya“ bergerak dan berbicara. Kebetulan, yang saya bayangkan pun sama dengan apa yang dimaui sang sutradara. Kami „membaca“ hal yang sama, begitu pula dua rekan lain yang menjadi semacam „konsultan“ pementasan ini. Naskah tak diubah, karena menurut kami, naskah ini sangat padat dan kaya akan pemikiran, konsep, dan kritik terhadap isu-isu kapitalisme. Terhadap hidup. Lebih dalam lagi, naskah ini sangat reflektif. Kekuatannya memang pada kata. Pada kalimat. Pada bahasa. Tubuh dan gerak akan mengikuti makna. Kadang tak perlu bahkan jika sudah terwakilkan oleh bahasa. Paling ditunjang oleh mimik dan intonasi. Itupun mungkin tak terlalu perlu jika ada beberapa ekspresi yang ditekan. Dan naskah ini berkisah tentang kesepian. Yang menurut bayangan kami akan sangat hening dan diam. Dingin. Seperti di bawah lapisan es.

Adalah proses menyimak yang luar biasa meletihkan memang, jika kita tidak terbiasa dengan itu. Mendengarkan dan menyimak monolog panjang sarat pertanyaan bukan pekerjaan mudah. Saya akui itu. Ketika saya menyimak pementasannya secara utuh (biasanya saya menyimaknya saat latihan), saya sadari juga betapa sulitnya menjaga konsentrasi orang per orang untuk tetap sadar dan tetap ada dalam alur kata dan bahasa. Untuk saya mungkin relatif lebih mudah, karena saya terlibat di dalamnya.

Naskah ini memang naskah yang sulit. Idealnya ada lebih banyak tulisan pengantar sebelum pementasan yang membedah naskah ini dari beragam perspektif, sehingga diharapkan akan dapat memberikan semacam gambaran tentang dan untuk naskah ini. Ketika saya diminta membuat tulisan pengantar pun, kepala saya penuh dengan banyak ide, karena naskah ini „bicara“ banyak. Dia membuka diri seluas-luasnya untuk dibedah. Sayangnya, seperti biasa kebiasaan jelek saya muncul, akhirnya saya malah menulis seadanya. Pada akhirnya pula, seperti biasa, kata dan bahasa tak sanggung mewadahi apa yang ada di kepala saya. Dan memang pada akhirnya, suara-suara di kepala saya memang lebih banyak saya dengar dan saya simak, tanpa perlu saya lihat wujudnya dalam bentuk tulisan. Saya cukup puas dengan itu.

Mungkin ini hanya masalah selera. Sangat relatif. Tak bisa dipaksakan. Orang boleh suka pada apapun dan berpendapat sesukanya. Seperti juga saya yang tak bisa berhenti bertanya: mengapa kita tidak mulai belajar mendengarkan lalu menyimak sebelum kita mulai bicara dan bertindak? Pikiran saya melayang pada satu malam yang terasa hangat di tengah rinai hujan di satu tempat di utara kota Bandung:  Mendengarkan dan menyimak Abah Iwan Abdurrachman bersenandung dengan petikan gitarnya, memperdengarkan kekuatan mendengar. The Power of Listening. Mendengarkan suara alam dan suara hati. Dan saya juga selalu mengingat pada kata-kata dari film Babel: “If you want to be understood…Listen!”

Advertisements

2 Gedanken zu „Mendengarkan dan Menyimak

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s