Ben X

Ben_X_website_5

Ben adalah pahlawan. Sempurna tak terkalahkan. Lawan-lawan bisa dilibasnya dengan sempurna. Semua mengaguminya. Termasuk Scarlite. Si Cantik yang juga memujanya. Ben adalah pahlawan. Di dalam permainan online tapi. Di luar dia adalah seorang penderita sindrom Asperger yang menjadi bahan olokan orang-orang di sekitarnya. Hanya ibu, ayah, dan adiknya yang pada akhirnya mau menerima kondisinya. Namun, tentu saja bukan penerimaan tanpa kecemasan dan ketakutan. Bukan atas Ben, tapi lebih pada ketakutan mereka sendiri.

Di dunia nyata –jika diasumsikan ada dunia nyata dan dunia maya- Ben adalah sosok yang terlihat lemah. Tak bisa dan tak mau berkata juga melawan jika ditindas. Dunianya adalah dunia di dalam pikirannya sendiri. Tak ada orang yang bisa mengerti dan masuk ke dalamnya. Dia pun tak membiarkan itu terjadi.

Ben tak bisa dan tak mau tersenyum. Bicara apalagi. Tak ada guna, pikirnya. Walaupun dia mampu. Sampai pada akhirnya, dunianya yang aman hancur oleh dua orang yang mengakuinya sebagai “teman baik kami”. Katanya. Dipaksa menjadi tontonan tak senonoh di ruang kelas. Diiringi sorak sorai penuh kepuasan, dari orang-orang yang disebut teman. Ben berontak. Dunianya tak aman lagi.

Ben semakin gelisah. Scarlite datang menemani. Membuatnya percaya bahwa dia tak bisa meninggalkan permainan begitu saja. Tidak tanpa ditemani Scarlite. Scarlite-lah penyelamatnya. Ben tidak boleh mati. Tidak, jika kematiannya tidak kreatif. Maka Ben merancang berangkat ke laut bebas. Keluarganya turut serta. Di atas kapal yang mengarungi lautan luas, dia menerjunkan dirinya. Direkam oleh kamera yang menangkap saat laut tiba-tiba menjadi sangat hening dengan angin yang berhembus lamat-lamat.

„Harus ada kematian dulu jika ingin ada hidup“, begitu ibu Ben berkata. Semua orang berkumpul di gereja. Duduk mengenang akhir hidup Ben yang tak terduga. Siapa nyana Ben bisa bertindak nekat. Siapa pula yang menyangka jika kemudian Ben bangkit lagi saat kamera memutar kembali rekaman wajah-wajah sadis tertawa penuh kepuasan saat mempermalukan dirinya. Ben telah memilih kematiannya. Mati dengan kreatif. Untuk hidup menjadi dirinya yang berbeda dari orang-orang yang hidup di dunia ini. Dia memilih dunianya sendiri. Dengan Scarlite yang juga hanya ada dalam imajinasinya. Dengan kuda yang tampaknya lebih memahami dirinya.

„Bukan hidup Ben yang harus dicemaskan, tapi sebenarnya kita sedang takut hidup kita yang terancam. Dan saya ingin melepaskan ketakutan saya dengan melepaskan Ben untuk hidup di dalam dunianya sendiri.“ Begitulah sang ibu merelakan hidupnya dan hidup anaknya.

Film berjudul „Ben X“ karya Nic Baltazhar dari Belgia tahun 2007, yang katanya berasal dari kisah nyata ini, bercerita tentang pikiran dan perasaan seorang penderita sindrom Asperger dan tekanan sosial yang dihadapinya. Film yang bagus dan detil menangkap fenomena yang saya rasa bisa ditemui di mana saja. Tidak hanya tekanan yang dihadapi oleh penderita suatu penyakit, namun tekanan sosial juga berlaku untuk apapun dan siapapun yang ada „di luar „yang lain“ dari yang kebanyakan ada dan terjadi. Labelisasi yang diberikan oleh yang menjadi mayoritas apapun itu bentuknya: ras, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sosial, psikologis. Apapun. Bahkan agama. Sehingga tidak ada lagi kita. Yang ada hanya kami dan kalian. Tak berani menyebut kamu dan aku. Labelisasi yang diberikan entah atas nama apa dan untuk apa. Selalu ada kepuasaan ketika berhasil menekan dan mendominasi. Dan yang mengerikan adalah jika yang ditekan dan didominasi menjadi sangat tak berdaya dan akhirnya membiarkan semuanya terjadi. Tanpa perlawanan.

Namun, masih adakah rasa bersalah? Karena saya tetap yakin, rasa bersalahlah yang membedakan manusia dari makhluk yang lainnya. Dan saya rasa semua orang –sejahat-jahatnya dia- pasti punya rasa itu. Sekecil apapun rasa bersalah itu pastilah muncul. Pun jika dia tetap tak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan keterbedaan terjadi di depan matanya. Dan apakah diam menjadi tanda setuju atau justru perlawanan yang paling mungkin di saat tak ada kuasa untuk melawan dengan frontal? Di film Ben ada dua orang teman sekelas Ben yang diam, menyaksikan Ben dipermalukan. Diam yang geram. Dan merasa bersalah. Tak berdaya. Mungkin rasanya lebih perih. Seperti saat saya merasa bersalah, saat seorang ibu tua yang kotor dan bermulut kasar ditarik polisi keluar dari halaman rumah saya. Keluarga saya, tetangga sekitar kami terganggu oleh kehadirannya yang tak diharapkan. Dan saya merasa bersalah. Saya juga bersetuju agar dia dibawa ke panti jompo, karena masyarakat di lingkungan kami –yang bukan siapa-siapanya- tak mampu dan bersedia merawatnya. Dengan beragam alasan. Saya diam saat ibu itu dibawa. Diam yang geram, karena saya juga tak berdaya untuk melakukan apa.

Apakah Ben juga merasakan rasa bersalah yang sama saat dia berhasil membalaskan dendamnya saat dia „bangkit dari kematiannya“, tersenyum puas saat melihat orang-orang yang pernah menindas dan mempermalukannya kali ini tertunduk malu, tak ada daya. Apakah dia tak jadi sama dengan mereka? Dan pada manusia tetap puas jika dia bisa mendominasi yang lain. Menguasai yang lain. Mungkin ini juga yang memanusiakan manusia. Lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Advertisements

4 Gedanken zu „Ben X

  1. @ winda: hehe, begitulah jeng wind. katarsisku sepertinya :)
    @ lasta: bagus, las. dari sisi teknis juga bagus. menggabungkan animasi, fiksi, dan dokumenter. endingnya? jahil, hehe.

  2. Filmnya bagus banget dan imajinatif. Sangat direkomendasikan buat penonton muda agar membuka wawasan mereka, tidak berpikiran sempit dan menerima sebuah perbedaan.
    Film ini sukses menggambarkan nasib kaum autis dengan penceritaan yang gak lazim.
    Highly recommanded

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s