Homo Necans

Kebuasan dan kepuasan metafisis manusia. Ada kepuasan dalam kebuasan. Ada kebutuhan untuk menyakiti dan disakiti. Sado masokis? Begitukah manusia? Disadari atau tidak, rasanya ada benarnya juga. Termasuk pandangan bahwa diri menjadi ada dan berarti saat menyakiti (atau disakiti). Dalam bentuk apapun. Tersurat atau tersirat. Manusia adalah makhluk pembunuh, pemangsa, dan penyerang. Instingtif. Bahkan bisa lebih buas dari binatang. Menjadi ritus. Manusia tetap butuh simbol. Simbolisasi „kebuasan“ dibungkus dengan ritus keagamaan. Kurban. „Memakan“ tubuh tuhan untuk mendekati tuhan. Memaknainya sebagai pagelaran ulang ritus purba masyarakat pemburu? Kok hampir sama seperti adegan-adegan horor dengan mutilasi dan darah segar serta rasa menaklukan yang memuaskan jiwa, mendebarkan, takut, kasihan, tapi tetap dilakukan.

Dalam konteks agama, saya melihat ada iman. Sampai mana? Kembali ke diri. Tak bisa jadi identitas bersama. Walaupun sayangnya sering disamarkan. Oleh siapa? Manusia juga. Katanya, membunuh sudah menjadi sikap dasar manusia. Semakin lama semakin canggih dan halus pula pembunuhan yang dilakukannya. Tanpa perlu berdarah-darah, tanpa perlu pedang atau senjata tajam lainnya, tapi akibatnya sama. Mati juga. Dan bukannya manusia merindukan kematian seperti merindukan kehidupan itu sendiri? Hidup ada jika ada mati. Jika ingin hidup harus ada yang mati. Tidak harus sesama manusianya yang mati, bisa binatang atau tumbuhan, atau tanah, atau gunung, atau sungai, atau alam tempat manusia itu hidup dan ingin hidup.

Dan jika saat kuliah Jumat malam lalu saya berharap kematian untuk nenek saya yang sedang terbaring koma, kemudian dikabulkan hari Sabtu paginya, karena saya tidak mau melihat dokter-dokter itu melakukan tindakan “pembunuhan” pelan-pelan –atas nama kehidupan- dengan menusukkan beragam jarum dengan jurai panjang selang-selang dan memasangi listrik di sekujur tubuh rentanya, menghisap darahnya, memasukkan obat-obatan kimia untuk “merusak” pelahan lambung, hati, dan ginjalnya, mungkin naluri membunuh saya sedang bekerja. Dan ketika saya lega saat tahu nenek saya meninggal, merasa bahagia tak menangis bahkan tersenyum, karena tahu nenek saya sudah lepas dari penderitaan hidup yang sudah dilihat, didengar, dirasa, dan dialaminya selama 90 tahun, mungkin saya sedang menjadi pembunuh berdarah dingin. Dan ketika saya bersyukur karena nenek saya “hanya” mengalami koma selama 3 hari, tanpa didahului sakit yang berat sebelum dia kembali pada Yang Selalu Dirindukannya, mungkin saya sedang menjadi seorang sadistis tanpa empati. Dan ketika saya bahagia, karena harapan nenek saya sudah terkabul: kematian adalah keinginan terbesarnya, kerinduan yang sangat pada Yang Maha Abadi, mungkin saat itu saya sedang menjadi seseorang tanpa perasaan.

Saya tidak peduli apa kata orang. Saya peduli pada kematian seperti saya peduli pada kehidupan. Dan rasanya indah nian jadi manusia. Semua lengkap ada dalam dirinya. Rasional, irrasional, logis, sensitif, rajin, kreatif, serakah, pembunuh pula. Yang saya tahu, masih banyak yang harus saya syukuri. Pada hidup. Pada kematian. Pun insting membunuh itu sendiri.

Advertisements

3 Gedanken zu „Homo Necans

  1. innalilahi wa innalilahi roji’un. Turut berduka cita atas berpulangnya nenek Dian. Saya ingat dulu kalau sedang berkunjung, nenk Dian selalu ada di sana. Sekarang insya Allah beristirahat dengan damai.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s