Homo Economicus

Baru pada pertemuan kemarin saya merasa tidak bisa mengikuti tema kuliah yang diberikan. Homo Economicus. Entah karena memang bahasannya cukup sulit dan teknis, atau sayanya saja yang memang ngga mudeng. „Tetangga“ sebelah saya duduk pun mengatakan hal yang sama. Maklum, kami –saya khususnya- masih belum sampai taraf bisa mencerna bahasa para filsuf yang benar-benar filsafat. Tetap harus disederhanakan. Jadi, sambil terkantuk-kantuk saya ikuti kuliah kemarin malam.

Tema pembahasan kuliah kemarin sebetulnya menarik, tentang manusia yang mengatur rumah tangganya sendiri. Pada perkembangannya, asumsi tentang homo economicus ini berkisar pada keegoisan, keserakahan, dan materialistis. Tujuan akhir adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan usaha yang sekecil-kecilnya. Dan pada perkembangannya pula –terutama dengan perkembangan ilmu ekonomi- ciri esensial dari homo economicus ini tidak lagi berkisar pada egoisme dan keserakahan, melainkan pada daya rasionalitas yang tinggi, yang ditunjukkan oleh kemampuan menyusun keinginan secara konsisten dan lengkap serta kemampuan untuk mengetahui segala cara yang tersedia untuk memuaskan keinginan sang homo economicus ini.

Sampai titik itu bisa saya pahami, keterangan selanjutnya tidak terlalu dapat saya tangkap, terutama saat pembahasan dikaitkan dengan „egoisme gen“. Pusing, hehe. Saat diskusi, saya heran, karena pemberi materi seolah-olah bersikap defensif dengan pertanyaan-pertanyaan peserta dan begitu pula sebaliknya. Bagi saya pribadi, sampai batas tertentu saya bersetuju dengan pemahaman terakhir terhadap homo economicus, bahwa dengan daya rasionalitas dan keinginan yang dikerjakan dengan konsisten, manusia bisa memuaskan keinginannya. Sampai batas tertentu. Karena saya tetap percaya pada batasan moral, rasa, dan takdir. Namun, tidak berarti pula hidup jadi berarti jadi bukan tanpa usaha. Hmm, apa lagi ya? Hari Senin besok saya diminta bicara di Fakultas Ekonomi tentang content analysis. Untungnya saya diperbolehkan (harus malah :)) melihatnya dari bidang saya: bahasa dan budaya. Gott sei Dank! Hehehe. Mungkin saya juga bisa sambil belajar lebih lanjut tentang homo economicus ini.

Kuliah minggu depan: pemutaran dan diskusi film “Generasi Biru“ dengan Garin Nugroho.

Advertisements

Ein Gedanke zu „Homo Economicus

  1. Di kuliah Discourse Analysis tadi bu Evi menerangkan tentang teori Karl Marx yang menyatakan bahwa manusia itu SEMUANYA selalu mencari keuntungan dalam setiap tindakannya seperti teori ekonomi, bahkan sampai hal beragama. jadi seram saya….

    oh ya, Terima kasih banyak atas sarannya… wah wah, sebenarnya saya menulis sebagian teks di blog seperti menulis artikel, jadi pendapat sendiri dihilangkan, full berita. tetapi ternyata alangkah lebih baik dan indah apabila kita menambahkan sikap dan pendapat sendiri. terima kasih atas sarannya, akan dicoba. yang saya keluhkan itu gaya tulisannya, kadang saya bosan dengan gaya tulisan saya sendiri. bagaimana agar bisa mengkreasikannya? banyak baca sudah saya lakukan… danke

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s