Homo Faber

„Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain“. Untuk saya rasanya tepat juga jika manusia memang disebut makhluk yang bekerja. Sang pe(ng)rajin. Homo Faber. „Manusia Tukang” menurut Prof. Alex Lanur. Bekerja menjadi tanda kemanusiaan manusia. Bekerja untuk memanusiakan manusia. Bekerja pula yang membedakannya dengan makhluk lain. Manusia bebas bekerja dan sekaligus juga bebas berdiri dengan pendirian.

Dengan struktur tubuh dan akal budi yang sedemikan mengagumkan, manusia menjadi “tuan” atas tubuhnya. Dengan dan melalui tubuhnya pula, dunia bisa „dikuasainya“. Namun, apa itu pekerjaan manusia? Jikalau kita lihat ke asal muasal kata labor yang bermakna kelelahan dan keletihan, apakah bekerja berarti berlelah-lelah, berpayah-payah hingga letih? Apa makna bekerja dan pekerjaan? Apakah hanya sebatas mengubah benda-benda dengan menggunakan tubuh dan alat-alat atau sarana-sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya? Setelah itu apa? Berkeluh kesah karena kebutuhan tak pernah cukup terpenuhi? Atau bekerja lebih giat dan lebih keras untuk terus memenuhi kebutuhan yang tak pernah kian cukup? Bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja? Klise betul.

Dan dalam pekerjaan itu nyatanya ada unsur-unsur subyektif seperti pikiran, kehendak, tindakan, dan kemampuan tertentu yang ada pada setiap manusia yang bekerja. Pun ada unsur-unsur obyektif dari bahan, materi, alat yang digunakan untuk bekerja. Pada akhirnya tidak ada pekerjaan yang lebih „mulia“ dibandingkan dengan pekerjaan yang lainnya, karena sifat pekerjaan itu selalu komplementaris. Yang satu membutuhkan yang lainnya. Ketergantungan. Termasuk ketergantungan pada Tuhan, karena pekerjaan –selain berdimensi objektif dan sosial – juga memiliki nilai yang sangat pribadi dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Maka menjadi penting jika pekerjaan diintegrasikan ke dalam kehidupan beragama. Bekerja adalah ibadah. Begitu mungkin kata para alim ulama. Bagaimana implementasinya? Sudahkah? Benar demikiankah? Ayo ah, lebih rajin, lebih ikhlas dan lebih mencintai pekerjaan kita :)

„Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain“.

Tema kuliah minggu depan: Homo Economicus.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s