Zoon Logon Echon

Unik. Manusia adalah binatang yang bernalar: Animal Rationale. Makhluk yang dengan keterbatasan fisiknya menggunakan nalar untuk mekanisme pertahanan dirinya. Makhluk yang dengan fenomena „kesadaran“nya memungkinkan dia sadar bahwa dia sadar, memungkinkannya berpikir tentang berpikir, dan membuat tafsiran atas tafsiran. Iseng betul. Dengan „keisengannya“ itu manusia membuat konsep-konsep abstrak berlapis-lapis, abstraksi atas abstraksi, makna atas makna: atas nama bahasa dan logos. „„en arche en ho logos“ . Dan bukankah Dia mengajarimu dengan perantaraan kalam? Untuk membaca dan bernalar. Pun ketika pada akhirnya nalar dan pikir manusia bukan lagi sekedar digunakan untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Atas nama rasionalitas, dipikirkanlah bagaimana manusia bisa hidup dengan memuaskan dan semakin lebih memuaskan. Menyiasati akal budi dan rasio untuk menemukan arah hidup, mengoreksi, dan mengubahnya, agar semakin sesuai dengan pulling factor dari sesuatu yang ideal dan diidealkan. Namun, bukankah rasionalitas pun jadi beririsan erat dengan irrasionalitas? Ketika bahasa, kepentingan, dan skema ontologis tertentu membentuk beragam pola logika, sehingga semua hal menjadi tampak rasional (dan mungkin juga memang rasional).

Itulah hebatnya manusia, mencari terus kebaikan dan perbaikan nalar dan akal budinya. Dengan mempertajam rasionya. Pemikiran-pemikiran religius besar, penemuan-penemuan spektakuler, penciptaan-penciptaan kreatif termungkinkan dengan memainkan rasionalitas spekulatif dan praktis yang dimilikinya. Tak betah hidup dalam pengulangan rutin dan selalu membutuhkan pembaharuan, namun membutuhkan kepastian dan pola-pola tetapan sehingga seringkali takut pada perubahan. Apalagi perubahan yang menjatuhkan. Liar sekaligus butuh kenyamanan. Dogmatis yang pragmatis. Dan alur evolusi menjadi tampak menarik akibat dialektika spekulatif – praktis ini. Jika secara fisik kondisi manusia semakin lama semakin menurun, alangkah ruginya jika tidak diikuti dengan membaiknya kondisi mental, nalar, dan akal budinya.

Lalu, di manakah rasa dan hati nurani? Hmm, sepertinya otak kiri harus mulai diseimbangkan dengan otak kanan. Toh memelihara imajinasi akan membuat kita tetap rasional kok. Dan ngomong-ngomong, saya senang dan bersyukur jadi manusia yang bisa ikut ECF ini lagi, setelah setahun libur. Refreshing setiap Jumat malam. Hah? Ikut beginian refreshing? Ngga salah? Boleh dong, sedikit irasional. Saya butuh stimulus visi dan imaji (terima kasih, Pak Bambang). Walaupun saya jadi semakin (i)rasional dengan urusan buku. Agak gawat, jangan-jangan setiap kuliah beli satu buku baru. So, tema kuliah minggu depan: Homo Faber. Jadi ingat novel Max Frisch yang dibaca dengan susah payah jaman kuliah S1 dulu. Sang pe(ng)rajin.

Advertisements

3 Gedanken zu „Zoon Logon Echon

  1. ulasan dan sudut pandang yang menarik. tumben, gaya penulisannya sedikit „berbeda“ dari biasanya – lagi sedang bersemangat nih? :)

    Jika secara fisik kondisi manusia semakin lama semakin menurun, alangkah ruginya jika tidak diikuti dengan membaiknya kondisi mental, nalar, dan akal budinya.

    mungkin ini yang disebut „umur boros, kelakuan irit“ hahaha…

  2. Jika secara fisik kondisi manusia semakin lama semakin menurun, alangkah ruginya jika tidak diikuti dengan membaiknya kondisi mental, nalar, dan akal budinya.—> iya nih, nendang banget, teh, ihihi

    @ Bang Insan : ‚mungkin ini yang disebut “umur boros, kelakuan irit” hahaha…‘—> wakakakakakak, lucu lucuuu, setujuuu (ini saya sebenarnya sama aja ’ngaca‘, hue he he)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s