Pengumuman

“buseeet… jaman gini info kuliah di announce di facebook yah? ck..ck…”, begitu komentar salah seorang alumni di status Facebook saya hari ini. Di sana saya “mengumumkan” batas akhir penyerahan makalah dari mata kuliah-mata kuliah yang saya asuh. Status itu pun baru saya tulis setelah beberapa mahasiswa bertanya (lagi) kapan makalah harus diserahkan dan sms dikirim meminta penambahan waktu penyerahan. Setelah “pengumuman resmi” dipasang di Facebook, muncul beberapa komentar dan sms bertanya (lagi) apakah benar, apakah bisa diundur, masih liburan, masih di Jakarta, belum selesai, harus mengejar deadline dong, dll.

Giliran saya yang geleng-geleng kepala: kebiasaan. Padahal sejak awal kuliah sudah saya beritahukan kepada mahasiswa saya (dan diulang terus menerus saking kompulsifnya saya), bahwa pada akhir kuliah ada makalah yang harus dibuat dan dikumpulkan. Mereka bisa membuatnya saat itu juga, kalau mau, karena semua tema dan materi saya berikan di awal. Saya menyediakan pula waktu bimbingan di Sprechstunde saya, (sekali lagi) jika mereka mau. Perkuliahan saya pun selesai lebih awal dari jadwal “normal”, karena dibuat Blockseminar, mengingat beberapa materi tidak bisa diselesaikan dalam waktu 2 SKS. Logikanya, waktu mengerjakan akan lebih banyak. Logikanya begitu, kenyataan berkata lain. Masih banyak yang bekerja auf dem letzten Drück. Deadline. Mepet. Masih minta penambahan waktu pula. Curhat? Iya, karena –teganya- saya hanya memberi diri saya waktu dua minggu untuk membaca makalah-makalah tersebut, yang sering saking semangatnya sampai berpuluh-puluh halaman (ini makalah atau skripsi?!) atau saking terburu-burunya ada yang hanya 1,5 halaman saja. Seringnya saya abaikan dulu gramatika bahasa Jerman mereka untuk fokus ke isi, tapi mana bisa?!

Dan komentar dari salah seorang alumni tadi membuat saya tersenyum. Informasi lewat situs pertemanan tersebut (apapun: Friendster, Facebook, Hi5, dll) memang sangat efektif untuk “membangunkan” mahasiswa saya. Secara mereka lebih banyak beredar di sana, dibandingkan duduk menulis makalah mereka. Untuk itu saya juga jadi gaul, ikut-ikutan situs-situs tersebut. Ketika informasi verbal langsung tidak lagi menjadi terlalu efektif, media ini jadi salah satu cara mengefektifkannya. Betul? Untuk kasus ini saat ini rupanya iya. Mengapa bisa begini? Saya tidak mau membahasnya lebih lanjut. Nicht in der Stimmung. Komentar salah seorang alumni tadi cukup mewakili perubahan gaya perkuliahan masa kini. Hanya terjadi di Indonesia? Tidak tahu. Namun, saya pernah memberikan kuliah bahasa Indonesia dengan media YM di Bayreuth dulu. Hanya sekali dan saat itu terjadi karena suara saya sedang hilang entah kemana. Bisa dipecat jadi guru saya, kalau saya melakukannya terlalu sering, karena mata kuliah itu bukan berjenis praktikum, sehingga harus ada tatap muka di kelas secara langsung. Saya saja yang suka membandel, karena beberapa kali melakukan kuliah sambil memasak dan makan bersama dengan mahasiswa-mahasiswa saya.

Jadi, saya menjawab komentar alumni tadi dengan jawaban: mahasiswanya juga lebih banyak beredar di Facebook daripada mengerjakan tugas. Saya jawab juga tanggapan dan pertanyaan serta permintaan mahasiswa saya dengan nada bercanda: Selamat Tahun Baru. Tetap tanggal 9. Tidak ada perpanjangan. Libur tlah usai. Saatnya kembali bekerja :)

Sambil tersenyum saya menuliskan itu, karena saya juga tiba-tiba teringat, saat saya di Bayreuth pun sama seperti mereka (saya lupa, waktu kuliah S1 dulu apakah pernah ditugasi membuat makalah atau tidak, hehe). Immer auf dem letzten Drück. Bahkan saya pernah menunda makalah saya selama satu semester, hehe. Untung dosennya masih ingat bahwa saya pernah ikut mata kuliahnya. Dan membayangkan makalah-makalah yang akan saya baca nanti, saya juga jadi teringat makalah-makalah yang pernah saya buat. Dulu pasti membuat dosen-dosen saya mengerutkan kening, menarik nafas panjang, kemudian mengambil ballpoint, menarik garis miring panjang-panjang di beberapa halaman kemudian menuliskan: Katastrophe. Saya begitu jugakah? Ah, saya masih baik. Hanya membubuhkan tanda tanya besar saja. Hehehe…

Tulisanyangsengajadipostingdisinikarenadisinijarangdilihatmahasiswasaya:)

Advertisements

9 Gedanken zu „Pengumuman

  1. Hmmm, ada caranya agar tulisan yang ada di sini sescara ostosmastis termuat sebagai note di Facebook. Andai pun tidak, tetap Googleable.

    Di kantor juga kejadian sih. Ada yang tidak datang diundang rapat, dengan alasan „Nggak diinvite di Facebook sih, jadi nggak ada reminder otomatis.“ *duh*

  2. „karena beberapa kali melakukan kuliah sambil memasak dan makan bersama dengan mahasiswa-mahasiswa saya.“—-> bisa dikloning gak dosen kayak teh Dian? wahahahaha.

  3. Mohon maaf comment nya ga nyambung dikit…

    Sekian bulan saya melakukan pencarian bu Brincker (itu adalah nama yang biasa aku sebut saat sms an sama Ibu yang luar biasa ini) sudah sekitar 1 tahun semenjak tahun 2007 saya kehilangan kontak melalui hp dengan ibu Brincker, selanjutnya saya selalu berkomunikasi lewat email. sampai pada hari ini, saya baca artikel mbak dian tentang ibu. (Entahlah, saya begitu yakin, ini ibu Brincker yang saya maksud), karena kontak terakhir sekitar sebelum Ramadlah… ibu sedang sakit dan harus mondar mandir ke Rumah sakit.

    Saya mengenalnya dari seorang temen di sebuah millist. kabar itu datang dari Nurlinawati.. yang saya juga tidak kenal. kebetulan ada seseorang yang ada di Indonesia yang sangat membutuhkan bantuan materi. seketika itu juga saya kirim email ke Ibu Brincker, berharap saya bisa membantu saudara saya di Indonesia. Saya begitu terharu, Ibu begitu percaya kepada saya, setelah sekian lama kita smsan, terus sebagian lewat email, ibu mengirimkan sejumlah uang lewat temennya yang di jerman, yang kebetulan pulang ke Indonesia. Saya belum pernah ketemu ibu, di internet, bisa saja kami mengarang cerita. tapi ibu begitu percaya dengan kami. akhirnya bantuan itu kita sampaikan kepada “umi” (cerita ini bisa dilihat di umikuemalia.blogspot.com). kami sangat bersyukur… dan kami merasa punya ibu yang sangat baik, sangat tulus, begitu muslimahnya berdasarkan cerita cerita dia. tapi sayang stelah itu kami lost contact dengan ibu….

    Seandainya yang mbak ceritakan ini bu Brincker yang aku maksud…. kami semuanya pasti berdoa untuk dia. semoga Allah mengampunkan segala dosanya.

    Kami kangen dengan ibu Brincker.

    Yusuf.

  4. @ Nukov: hehe, sekarang sedang demam facebook sih, jadi semua lewat sana. ngga akan aku sambungkan ke facebook ah blog ini. biar tetap begini saja. hayoo…siapa yang tidak diundang ke rapat itu? ;)

    @ Tria: jangan, tri, gawat kalau ada dua. satu setengah pun kalau bisa jangan :)

    @ Yusuf: sepertinya bu brincker yang sama. insha Allah doa kita sampai untuknya

  5. Lama gak buka blog teh didi, eh ternyata teh didi juga udah bahas soal facebook lebih dulu. Memang zaman aneh, duduk sebelahan aja ngobrolnya pake fb atau chat. lama-lama mungkinkah ruang kelas tak lagi diperlukan sebagai media belajar? dan mungkinkah kehadiran seorang dosen tak lagi menjadi sebuah penantian? hiks… dunia….dunia…

  6. @ nani: kehadiran dosen dinantikan? yakiiinnn? ;) hehe… dunia memang aneh, ya. tapi kadang daku menikmati juga ada di dunia maya itu, walaupun untuk situs-situs pertemanan begitu lama-lama membosankan. dirimu tidakkah? ;)

  7. hehehe…ya begitulah bu Dian. Aku juga sekarang sedang berusaha ga sering2 buka facebook :D males kecanduan. Penelitian tentang status orang2 di facebook yuks! hehehe

  8. Pingback: Textkompetenz « From This Moment

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s