The Power of Dream

Seperti iklan saja. Sebulan lebih tidak mengisi blog. Kemana saja? Baik-baik saja? Tanya seorang sahabat yang heran karena tidak biasanya saya menghilang begitu saja dari dunia maya. Kemana saja? Ada. Awal November disibukkan dengan rangkaian puncak acara Dies Natalis Sastra: kuliah umum dari Ignas Kleden (belum sempat saya tuliskan laporannya di sini), kemudian acara puncak. Cukup menyita waktu dan menguras pikiran. Apalagi mengajar masih pula berjalan, belum deadline buku yang –karena saya malas- jadi tertunda beberapa lama dan order terjemahan dari Institut für Interkulturelle Kommunikation Düsseldorf. Lalu akhir pekan minggu pertama itu dan di seminggu berikutnya hidup saya benar-benar ada di titik nadir: physically dan emotionally collapse. Life is like roller coaster benar-benar saya rasakan dalam dua minggu pertama bulan November. Rasanya benar-benar dijungkir balik. Pada saat itu pula saya merasa bahwa harapan lah yang membantu manusia tetap hidup. Dan saya memutuskan untuk terus memegang harapan itu.

Setelah membuat heboh sebuah supermarket di BIP pada hari Sabtu tanggal 15 November, hari Minggunya saya berangkat ke Sawangan. Masuk karantina selama dua minggu, tapi saya meniatkannya bukan karantina, melainkan liburan. Dan memang saya benar-benar berlibur. Dua minggu yang indah, bugar, dan teratur. Betapa tidak, setiap hari bangun pagi, setelah shalat shubuh kemudian olah raga, lalu sarapan, jam 10 sudah ada snack, jam 12 makan siang, jam 15 ada snack lagi dan jam 18 sudah makan malam. Jam 20 paling lambat jam 21 sudah tidur. Buat saya yang insomnix itu luar biasa. Dan saya benar-benar menikmatinya. Bertemu dengan orang-orang baru, semangat baru, jiwa-jiwa yang masih penuh idealisme, yang cerdas, dan peka. Saya bahagia betul bersama mereka. Saya bahagia betul bisa berada di antara mereka, merajut mimpi bersama, memperkuat kepercayaan yang sama. Itu dua minggu yang sangat berarti.

Pulang ke Bandung, pekerjaan sudah menunggu. Namun, saya juga menikmatinya. Sempat diselingi pergi ke Jakarta untuk wawancara dengan DAAD dan reuni kecil dengan teman-teman baru saya, selanjutnya tiga hari berturut-turut menjadi moderator dan interpreter dadakan dan tidak dadakan untuk Martin Jankowsi dalam acara pembacaan puisi dan diskusi buku ”Detik-detik Indonesia” miliknya, serta dalam diskusi tentang gerakan sosial pasca runtuhnya Tembok Berlin dan pasca runtuhnya Soeharto dengan pembicara Martin Jankowski dan Fadjroel Rachman, serta hari Jumatnya mewakili Jurusan melakukan presentasi untuk tamu dari DAAD. Hasilnya? Menyenangkan. Salah satunya adalah tawaran untuk menerjemahkan cerpen-cerpennya Brecht dan puisi-puisinya Nietzsche. Juga satu berita yang cukup menyenangkan: hidup saya tampaknya tak bisa lepas begitu saja dari Wagner. Di Zürich atau di Bayreuth, sama saja. Walaupun tampaknya saya akan memilih yang terakhir. Kembali ke Bayreuth. Semoga lancar semua. Dan saya ingat pertanyaan salah seorang pewawancara Selasa minggu lalu: apakah tidak akan terlalu banyak jika saya hidup di Bayreuth selama 3 tahun lagi? Saya hanya tersenyum, tidak bisa menjawab juga. Tepatnya, tidak tahu harus menjawab apa. Lihat saja dan jalani saja.

Kemudian, saat yang lain bersenang-senang piknik ke Dufan dan menonton Jiffest di Jakarta, saya lebih suka menghabiskan waktu di Kebun Binatang Bandung dengan si Iya. Memperhatikan binatang-binatang itu selalu menyenangkan. Terakhir ke Kebun Binatang Bandung waktu kuliah dulu, sudah 10 tahun lewat. Dan hari ini, berbincang seharian dengan sahabat-sahabat yang membangkitkan lagi mimpi-mimpi dan keinginan-keinginan saya. Mengingatkan lagi pada kekuatan mimpi. Hidup memang seperti mimpi. Tapi hidup saya pun dibangun dari mimpi. Jika pelan-pelan banyak mimpi saya mewujud satu persatu menjadi nyata, saya selalu merasa ajaib. Siapa yang pernah mengira saya akan menjadi seperti ini, melakukan banyak hal yang menyenangkan (yang kadang membuat iri sebagian orang), melakukan banyak perjalanan ke tempat-tempat yang dulu hanya ada di dalam angan-angan saya (atau ada dalam buku yang saya baca dan film-film yang saya tonton), bertemu banyak orang yang inspiratif dan memberi pencerahan (semua, siapapun itu), dan mengalami banyak peristiwa yang memperkaya pengalaman lahir, batin, perasaan dan proses pendewasaan saya. Jika kata orang mimpi itu punya kekuatan, saya percaya. Seperti saya juga percaya pada kekuatan doa dan harapan. Seperti saya juga sangat percaya pada Yang Maha Mengabulkan doa, mimpi, dan harapan. Untuk itu, saya masih dan akan terus berdoa, bermimpi, dan berharap. Dengan itulah saya hidup.

Advertisements

5 Gedanken zu „The Power of Dream

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s