Bahasa, Sastra, dan Budaya: Suatu Pendekatan Multidisiplin

Dua hari ini melengkapi kebahagiaan saya. Capeknya mempersiapkan rangkaian acara kuliah umum, diskusi buku, diskusi panel plus menyiapkan makalah (yang tentu saja hasilnya amat sangat jauh dari sempurna) terbayar lunas oleh diskusi panel dengan tema di atas pada dua hari ini. Ini adalah mimpi saya dan teman-teman, yang juga berpayah-payah berusaha menjadikan rangkaian acara ini ada. Mimpi tentang jejaring kerjasama keilmuan. Mimpi tentang universitas yang bukan multifakultas.

Diskusi panel hari pertama, 29 Oktober, mengangkat tema ”Bahasa, Sastra, Budaya, dan Kesehatan”. Empat panelis menjadi pembicara dalam diskusi ini, yaitu Ari Asnani dari Jurusan Kimia Unsoed, Gani A. Jaelani dari Jurusan Sejarah Unpad, Gilang Yubiliana –dokter gigi dari FKG Unpad, dan Dien Fakhri Iqbal dari Fapsi Unpad. Kok bisa orang kimia, dokter gigi, dan psikolog bicara tentang bahasa, sastra, dan budaya di Fakultas Sastra? Bisa saja. Sesi pertama yang dipandu oleh Bima Bayusena, dosen Sastra Inggris Unpad, diawali dengan paparan yang amat sangat menarik dari Ari tentang ”Pengobatan Herba: Modernisasi Falsafah Pengobatan Kuno”. Ari memaparkan tentang tendensi pengobatan di dunia yang kembali ke pengobatan tradisional setelah melewati trend pengobatan modern –yang selalu dikaitkan dengan dokter dan obat-obatan kimia. Uraian sejarah –yang sangat lengkap- tentang sejarah pengobatan di dunia dikemukakan oleh Ari, lengkap contoh-contoh yang sangat dekat dengan keseharian. Gaya lembut Ari yang sangat njawani tidak mengurangi tegasnya kritik terhadap sulitnya mendapatkan naskah-naskah kuno juga naskah yang sudah ditransliterasi. Padahal naskah-naskah kuno, terutama yang berisi tentang pengobatan dan obat-obatan tradisional, sangat diperlukan oleh para ahli biokimia sepertinya untuk penelitian dan pengembangan obat-obatan dan pengobatan alternatif. Bukan untuk menyaingi pengobatan dan obat-obatan modern, namun menjadi ”alternatif” bagi siapapun yang memerlukannya. Tugas orang sejarah dan orang-orang dari Fakultas Sastra untuk mencari dan menelitinya. Selanjutnya dilanjutkan oleh teman-teman peneliti dari jurusan lain, di antaranya biokimia, seperti Ari. Sayangnya, tradisi titen di Indonesia yang lisan, menyulitkan orang menemukan bukti tertulis yang bisa dijadikan acuan. Jikapun naskah-naskah itu ada, kebanyakan sudah dalam keadaan sangat rusak, atau dijadikan benda pusaka yang hanya bisa dibuka di hari-hari dan jam tertentu, bahkan sering diperciki air atau minyak sehingga naskah itu rusak.

Paparan Ari dilanjutkan dengan paparan Gani yang melihat isu kesehatan sebagai alat kolonialisme di Hindia. Pada saat itulah, pengobatan modern dari Eropa masuk ke Hindia. Segala sesuatu yang berbau tradisional adalah buruk, terbelakang, dan primitif. Pengobatan yang baik adalah pengobatan dari Eropa, karena identik dengan kebersihan dan higienitas. Padahal, jaman penjajahan Belanda, dokter menempati strata sosial yang rendah. Tidak ada orang Belanda yang mau jadi dokter di Hindia, karena harus berhubungan dengan segala rupa penyakit ”kotor” para pribumi. Dengan demikian Belanda bisa melancarkan proses kolonialisasinya di Hindia dengan cara menjadikan rakyat pribumi sebagai kelinci percobaan untuk menemukan obat. Dengan dokter-dokter yang dikontrol oleh Belanda pula ditentukan hidup mati, sehat sakitnya seseorang. Namun, rupanya Belanda lupa, ada banyak dokter yang tidak bisa termakan oleh praktek pecah belah ini, sehingga mereka menjadi embrio meretasnya kebangkitan nasional Indonesia. Gani juga mengkritik fenomena bergesernya strata dokter di Indonesia, sehingga eksklusifitas sangat terasa. Hal ini memungkinkan arogansi yang terbangun dan kejumawaan dokter sebagai penentu sakit sehat, hidup matinya seseorang. Akibatnya, malpraktek sangat sering terjadi di sini, juga biaya kesehatan yang sangat tinggi. Orang miskin hanya bisa pergi ke dukun dan praktisi pengobatan tradisional lain yang sering juga tak terjamin mutu dan kebersihannya.

Pada sesi ke dua, Gilang tak menampik adanya eksklusifitas itu. Walaupun ini tentu saja terjadi juga di jurusan-jurusan dan fakultas-fakultas lainnya. Eksklusifitas ini mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya komunikasi yang tidak efektif dan komunikatif antara dokter dan pasien. Akibat dari kurang lancarnya proses komunikasi ini, maka proses pengobatan pun tidak akan efektif. Waktu konsultasi yang sempit karena jumlah pasien yang banyak, relasi kuasa yang tidak setara sehingga memunculkan stereotype bahwa dokter adalah yang paling tahu, membuat proses komunikasi pengobatan antara dokter dan pasien tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Kecerdasan sosial yang ditandai dengan kecerdasan berbahasa dan berkomunikasi, sayangnya masih belum dimiliki oleh banyak dokter. Kepekaan terhadap perbedaan bahasa dan budaya dituntut dimiliki oleh setiap dokter, karena dia semestinya adalah pelayan bagi si sakit. Tanda-tanda nonverbal seperti gestik, mimik, dan benda-benda yang ada di ruang praktik dokter turut andil dalam menciptakan jarak antara dokter dan pasien. Meja yang sebatas dada misalnya, membuat jarak sosial menjadi lebih kentara, demikian juga dengan ruang praktik yang serba putih dan dengan furnitur yang kaku. Akibatnya, tak sedikit orang yang ciut jika harus ke dokter, apalagi dihantui dengan mahalnya biaya pengobatan dan obatnya. Untuk itu, penting sekali adanya kerja sama dengan para linguis dan ahli budaya untuk mengatasi hal ini, karena walau bagaimana pun ujung tombaknya adalah bahasa.

Iqbal menutup diskusi panel hari pertama ini dengan mengangkat isu kembali ke dalam diri. Diri kita sendiri yang menentukan kita mau sehat atau sakit. Imbasnya akan terasa pada cara kita merasa, berpikir, dan berperilaku. Self-awareness menjadi point yang penting. Ditawarkan beragam cara untuk mengenali diri sehingga kita bisa merdeka untuk menjalani hidup. Bahasa memang tidak akan pernah bisa mengungkap segala pikir dan rasa, tetapi hanya bahasa yang kita punya.

Diskusi pun berjalan hangat dan menarik, masih pula dilanjutkan setelah acara selesai. Jalinan kerjasama penelitian sudah ditenun.

Tema hari kedua adalah ”Bahasa, Sastra, Budaya, dan Teknologi”. Lebih tepatnya lagi mungkin Bahasa dan Teknologi, Teknologi Bahasa, karena kali ini lebih kental unsur bahasanya dibandingkan dengan bahasan diskusi panel hari sebelumnya. Kami mengundang Pak Arry Akhmad Arman dari ITB, Pak Andri Abdurrochman dari Jurusan Fisika Unpad. Dari Sastra ada Ibu Nani Sunarni, dosen Jurusan Jepang. Saya sendiri terlibat kerjasama dengan Bu Nani, sehingga kami memaparkan bersama hasil penelitian kami.

Pak Arry dengan sangat menarik memaparkan tentang perkembangan teknologi bahasa di Indonesia dan pentingnya kolaborasi dengan para peneliti bahasa. Dimulai dengan makin sempitnya dunia dan mudahnya hidup dengan bantuan teknologi, dilanjutkan dengan paparan yang menarik dan interaktif tentang teknologi text to speech dan translator yang dikembangkannya. Beberapa kemungkinan pengembangan dan penggunaan teknologi termasuk untuk membantu teman-teman tuna netra, tuna wicara, dan tuna rungu dalam berkomunikasi. Disertasi Pak Arry tentang pemodelan intonasi dalam Bahasa Indonesia menjadi modal awal untuk kerjasama membuat database suara vokal dan konsonan Indonesia (dengan petutur dari beragam latar belakang budaya di Indonesia). Indonesia adalah lahan ilmu yang kaya, yang masih sangat dalam untuk diteliti. Kerjasama dengan linguis dan pakar bahasa Indonesia tentu penting dilakukan. Namun, bukan berarti hal ini tidak pernah dijajaki. Yang terjadi pada akhirnya hanya sampai sebatas wacana, sementara negara lain sudah maju melaju di depan. Mimpi saya sebagai peminat analisis percakapan adalah adanya alat speech to text yang bisa otomatis mentranskripsikan percakapan. Bukan tak mungkin alat ini diwujudkan.

Selanjutnya Pak Andri membawakan tema emosi dalam intonasi dari beberapa pemodelan. Menarik untuk dicermati emosi-emosi yang muncul dari intonasi yang diujarkan para pelaku komunikasi. Bekerja sama dengan Iqbal dari Fakultas Psikologi diadakan triangulasi untuk keadaan emosi yang muncul dari intonasi yang sudah diukur dengan menggunakan salah satu software khusus. Software ini yang sedang dikembangkan oleh teman-teman dari Jurusan Fisika. Mereka membutuhkan orang bahasa –dan sekali lagi data base suara- untuk melihatnya dari segi satuan lingual dan aturan tata bahasa.

Bu Nani dan saya membahas tema intonasi sebagai penentu sikap. Kajian tak lepas dari kajian pragmatik untuk melihat tindak tutur dan sikap para pelaku komunikasi dari satuan lingualnya juga dari satuan nonlingual. Intonasi masuk ke dalam satuan paralinguistik, disertai dengan tanda-tanda nonverbal lain sebagai penunjang tuturan. Dengan bantuan software Praat, kami bisa mengukurnya pula secara fisis. Masukan dan tambahan berharga kami dapatkan dari Pak Arry dan Pak Andri untuk kelanjutan penelitian ini.

Acara yang dihadiri kebanyakan oleh mahasiswa ini, bagi saya menambah banyak pencerahan. Sayangnya memang -seperti biasa- sangat sedikit dosen yang hadir, tetapi teman-teman dan saya tidak mau menyurutkan langkah. Kami hanya mau melangkah, dengan mereka yang juga mau melangkah. Langkah itu sudah dimulai, walaupun kecil saja. Rasanya kemungkinan perkuliahan dan pembimbingan mahasiswa lintasfakultas sudah harus bisa diwujudkan. Pun dengan proyek besar pembuatan data base suara bahasa Indonesia insha Allah akan segera kami mulai. Demikian pula dengan kajian naskah-naskah kuno dan pelatihan komunikasi terapeutik, rasanya tidak bisa menunggu lagi. Kami harus bergerak. Melakukan hal kecil yang kami bisa lakukan dengan baik dan menjalin tali kerjasama yang erat. Saling mendukung. Harapan saya membuncah seiring dengan kebahagiaan yang memuncak.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktu dan tenaganya untuk berbagi di dua hari yang mencerahkan. Insha Allah hal ini tidak akan berhenti sampai di sini dan semoga tidak hanya menjadi wacana yang lambat laun hilang seiring bergantinya hari.

Advertisements

9 Gedanken zu „Bahasa, Sastra, dan Budaya: Suatu Pendekatan Multidisiplin

  1. semoga sukses ya proyeknya. Dan moga-moga mengilhami yang masih pada berkecimpung di universitas.
    komentar buat malpraktek: dokter di Indon pada tahu bahwa kalau ada kesalahan, mereka enggak bakalan bisa berhasil dituntut. Jadinya kadang kurang hati-hati.

  2. @ Lasta: danke, Las. Pelan-pelan aja sih. Soal malpraktek, iya nih dokternya yakin begitu mungkin karena pasien juga ngga mempermasalahkan. sudah takdir, begitu kebanyakan berpikirnya :( terlepas dari masalah takdir atau bukan, aku rasa dokter harus profesional dan tidak semena-mena

  3. Teh, terharu banget dweeeh (malu nih sebenernya ngomong kayak gini)!.
    Mudah-mudahan dimudahkan dan diberkahi Allah SWT semua cita-citanya.
    Sampai sakit tenggorokan karena nahan perasaan terharu nih, gak kebayang perjuangannya kayak apa.
    Terus semangat ya, Teh! Kalau suatu hari saya liat Teh Dian jadi ‚orang besar‘, saya gak heran.
    Mudah-mudahan saya bisa punya semangat kayak Teh Dian.
    Amin.
    Saya bangga sekali bisa kenal sama Teh Dian.
    (… speechless..)

  4. suatu penyesalan dan kesedihan yang teramat dalam ketika tidak bisa berada di tengah-tengah rangakaian acara yang sangat berharga tersebut…hiks…

    sebuah perjuangan tampaknya sudah mulai menemukan titik terangnya ya teh didi…selamat ya…semoga semakin banyak -bahkan semuanya- mulai mengikuti titik terang ini, dan tidak hanya menjadi wilayah bagi mereka yang muda atau merasa muda hehehe…

    semoga aku tidak dilupakan atas ketidakhadiranku tersebut…:)

  5. @ Tria: amiin…ngga segitunya sih, tri, semangatku. sedang mencoba mengaturnya, supaya ngga bersemangat di depan aja, ke belakang-belakangnya malas (seringnya malah begitu, hehe). kami tetap perlu banyak bala bantuan nih :)

    @ Nani: huaaa…mana mungkin daku melupakanmu, malah justru kangen dan sangat berharap dirimu ada di unpad saat-saat itu. daku kehilanganmu, say. baru awal, bu. hayo, sebagai PD 1 dari fakultas sebelah, dirimu akan jadi pemegang tampuk utama perubahan ini, hihi. sukses ya, bu!

  6. sukses buat guru ku yang satu ini..
    ngga salah punya guru spt bu dian.. banyak ilmunya, disiplin lagi.. disiplinnya pun multi, terbukti dari diskusi panel yang diadakannya.. multidisiplin..
    mudah2an ibu selalu sukses dalam Bahasa, Sastra, Budaya, Kesehatan, dan Teknologi, dan tidak lupa Multidisiplin.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s