Nesia yang Indo: Belegug Pisan

Ungkapan cenderung kasar dalam Bahasa Sunda ini (tetapi juga bisa menjadi „pengakrab“ dalam situasi informal) menjadi bagian dari judul makalah Remy Sylado untuk kuliah umum tanggal 27 Oktober lalu. Judul lengkapnya: „Ilmu Bahasa, Sastra, Budaya di Balik Kacamata Belegug Pisan“. Seniman satu ini memang benar-benar mbeling. Judul yang terbaca dan terdengar slengean dikontraskan dengan isi makalah dan kuliah umum yang bernas dan mencerahkan.

Remy –seperti terlihat dari makalahnya yang masih selalu diketik dengan mesin tik biasa- seperti biasa menilik masalah bahasa, sastra, dan budaya awalnya dari sisi etimologis untuk kemudian dikaitkan dengan situasi nyata di masyarakat. Satu nusa (dari kata ‚nuswa’) , satu bangsa (dari kata ‚wamsa’), satu bahasa (‚bhasa’) secara kesejarahan dan dalam perkembangannya tidak pernah benar-benar satu. Mungkin bisa dikatakan bahwa kita punya satu ‚nuswa’: Indonesia. Nesia yang Indo. Mungkin bisa juga dikatakan bahwa kita juga adalah satu ‚whamsa’. Tapi satu ‚bhasa’? Belum tentu. Merujuk bukunya 9 dari 10 kata dalam Bahasa Indonesia adalah Asing dan Bahasa Menunjukkan Bangsa, betapa kita bisa berkata bahwa Bahasa Indonesia tidak bisa diklaim sebagai satu bahasa, melainkan bahasa dengan banyak percampuran di dalamnya. Pun percampuran budaya.

Bersentuhan awal dengan Sansekerta sehubungan dengan jalinan perlintasan Hindu dan Buddha, kemudian dengan Islam dengan bahasa Arab, ilmu bahasa di Nesia yang Indo ini boleh dikatakan tidak cukup kuat berdenyut saat Barat „menurunkan“ ilmunya. Ilmu Bahasa dari Barat yang berakar kuat pada filologi dan ’technike grammatike’-nya Yunani menjadi pegangan orang Belanda untuk melepaskan benang merah sejarah dengan bahasa Sansekerta. Aturan tata bahasa yang ketat menjadi acuan „Bahasa Indonesia yang baik dan benar“ saat ini. Aturan tata bahasa ini pula yang diajarkan di sekolah-sekolah, sehingga mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang amat sangat tidak menarik. Hasilnya? Bahasa Indonesia saat digunakan tetap saja tidak pernah menjadi „baik dan benar“.

Namun, perlukah bahasa yang „baik dan benar“ saat bahasa digunakan dalam proses komunikasi? Bahasa sebagai parolè, bukan langue. Perlukah kita berbahasa Indonesia “yang baik dan benar”, sehingga komunikasi “bisa agak terganggu” dan membuat orang mengerutkan kening? Jawabannya: terserah Anda. Klaim ini yang benar, itu salah, menurut hemat saya bisa menyesatkan, karena bisa menjebak kita pada praanggapan, yang belum tentu benar -dan belum tentu salah juga-. Remy mengemukakan ide penggunaan bahasa yang bernas dan indah. Tepat konteks: waktu, tempat, dan sasaran.

Gejala yang menarik –sekaligus juga menyedihkan- adalah penggunaan bahasa yang centang perenang dengan logika bahasa yang tak terperhatikan (atau tidak diperhatikan?!). Penggunaan bahasa asing yang tidak tepat demi mengatasnamakan gengsi dan kekerenan, membuat bahasa Indonesia –alih-alih bahasa daerah – lambat laun, pelahan tapi pasti semakin halai balai. Perlukah menyalahkan generasi muda yang –katanya- menjadi pengusung “kekacauan bahasa” di Indonesia? Tidak juga. Menurut saya, semua bidang punya andil. Semua orang dan sistem menjadi pelaku. Semua pihak mendukung kekacauan ini.

Lalu, apakah kita juga harus dan bisa mengabaikan arus masuknya bahasa dan budaya lain yang semakin besar? Saya rasa tidak. Saya bersetuju pada penggunaan bahasa yang bernas dan indah itu. Bukan baik dan benar. Bernas sehingga mudah dipahami, tetapi tetap indah, sehingga tak bikin sakit hati. Saya pun bersetuju pada penggunaan bahasa yang tepat konteks dan sasaran. Bukan hal yang mudah, menurut saya ini adalah kecerdasan tingkat tinggi. Kecerdasan berbahasa. Jadi bagaimana? Tentu tidak (bisa) menutup diri dari bahasa dan budaya asing yang menggempur. Terima, tapi lakukan dengan benar. Caranya? Jadi diri sendiri, tetapi tidak kurung batokeun.

Begitu sekilas diskusi menyusul kuliah umum yang berjalan dengan indah, hangat dan penuh semangat  pencerahan. Keberagaman tetap dijaga, tanpa merecah kebersamaan. Minimal kita masih satu nuswa dan satu wamsa. Walaupun mungkin wajar jika kemudian muncul pertanyaan, Indonesia yang mana? Bangsa Indonesia yang mana? Bahasa Indonesia yang mana? Tentu bukan Indonesia yang bangga dengan penyakit bangga jika bisa berbangga dengan segala hal yang berbau luar Indonesia. Mungkin seperti Nesia yang Indo-nya para pesohor di TV, yang dibuat untuk membuat orang membuat dirinya menjadi Nesia Indo yang tidak Indonesia. Lho, kan namanya juga Indo. So what gitu loh. Plis dong ah. Nah, kata Remy (bukan kata saya), hal itu adalah belegug pisan.

Bandung, 28 Oktober 2008

Post Scriptum: Kuliah umum berikutnya, 3 November 2008, dari Ignas Kleden: Kontribusi Bahasa, Sastra, dan Budaya terhadap Perubahan Sosial Budaya“.

Advertisements

2 Gedanken zu „Nesia yang Indo: Belegug Pisan

  1. @ Lasta: nah itu dia, yang standar itu yang seperti apa? nanti sirik-sirikan tuh bahasa-bahasa lain di Nusantara. Aku kok tetap lebih suka bahasa Indonesia yang sekarang ya. Mungkin yang distandarkan -atau ditrendkan- bahasa di bidang dan konteks tertentu

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s