Bu Brincker

„Innalillaahi wa inna ilaihi raajiun. Telah meninggal dengan tenang Uwa Kenty Brincker pada hari ini pukul 10.11 di Bonn. Mohon dimaafkan semua kesalahannya.“ Demikian bunyi sms yang saya terima semalam saat saya sedang bertelefon dengan seorang teman dan suasana hati saya saat itu sedang senang. Kaki saya langsung lemas dan jantung terasa berhenti berdetak. Sesaat saya diam. Namun, entah mengapa, saya tidak terlalu sedih. Ada kelegaan dan senang menyelinap dalam rasa. Aneh? Tidak, saya lega dan senang karena Uwa -demikian saya biasa memanggil perempuan yang meninggal di usia 76 tahun itu- sudah lepas dari beban yang selama ini ditanggungnya. Lega dan senang karena keinginan dan mimpinya bertemu Allah sudah tercapai. Lega dan senang yang aneh karena tahu bahwa Uwa justru tidak akan sendiri lagi. Akan ada banyak malaikat yang menemaninya.

Saya mengenalnya tahun 1997. Direkomendasikan oleh salah seorang sahabat saya. Dan saya langsung memanggilnya Uwa. Dan saya langsung menjadi „anaknya“. Dan saya langsung merasa ada di rumah. Di Bonn Mehlem. Di appartment mungilnya yang masih saya ingat detil ruang dan letak barang-barang di sana. Dan setiap akhir pekan kami lewati bersama selama setahun penuh. Saat libur bisa berhari-hari menginap di rumahnya. Berbincang banyak. Berjam-jam.

2001 saya kembali lagi. Ke Jerman adalah ke rumahnya. Rumahnya sudah pindah. Masih di Mehlem, hanya berbeda jalan. Lebih besar. Dengan situasi yang sudah berbeda. Berkumpul kembali dengan suami yang dicintainya dan dirawatnya. Bersama kembali dalam satu rumah, beda kamar, hanya karena masih terikat secara hukum negara. Namun, cintanya pada Allah melebihi semuanya. Dia lebih rela „berpisah“ dengan lelaki yang telah menemani pengembaraan hidupnya di berbagai belahan bumi.

2003 saya juga kembali lagi. Tentu saja, kembali juga ke rumahnya. Menemuinya. Kali ini di Siegburg. Rumah besar yang nyaman. Ditinggalinya sendirian. Sang suami sudah mendahuluinya. Kembali bercerita panjang lebar, pada malam-malam dingin atau pagi-pagi yang hangat. Memasak bersama di dapurnya yang mungil. Berdiskusi panjang lebar tentang hidup, Tuhan. Juga kematian. „Uwa ingin dimakamkan di Indonesia“, begitu katanya selalu. Saya maklum. Amat sangat maklum.

Awal 2006 keinginannya untuk pulang ke Indonesia terkabul. Bahagia dan senang sekali dia. Setiap saat saya diberitahu sedang apa dia di Indonesia. Orang tua saya sempat bertemu dengannya. Itu satu keharusan, karena dia sudah menggantikan orang tua saya selama saya di Jerman.

Pertengahan tahun 2006 saya juga kembali mengunjunginya. Kali ini untuk berpamitan, karena saya akan pulang ke Indonesia. Dia sudah di Bad Godesberg, di Röntgenstrasse. Appartement yang baru ditinggalinya, karena Siegburg terlalu jauh dari Bonn, tempat anak bungsunya tinggal. Dan seperti biasa, dia akan menyediakan semua makanan kesukaan saya. Pagi itu kami membuat jus apel+wortel yang di kemudian hari menjadi minuman favoritnya.

Dan itu ternyata pertemuan terakhir kami. Dia yang tidak suka perpisahan, selalu terburu-buru, begitu pula saat mengantarkan saya ke Bonn Hauptbahnhof. Dan itu ternyata kali terakhir kami makan bersama di restoran Turki di Bonn Hbf. Itu ternyata waktu terakhir kalinya saya mengendarai mobil Nissan warna merahnya. Dulu mobilnya hijau. Mobil kecil yang selalu hilir mudik ke sana ke mari, mengantar jemput jamaah pengajian, mengantar orang sakit, mengantar orang pindahan. Itu semua dilakukannya di usia senja, di saat orang seusianya mungkin sudah tidak bisa melakukan apapun. Dia masih sigap. Dan saat itu ternyata jadi pelukan kami terakhir juga lambaian tangan terakhir saat dia melepas saya kembali ke Bayreuth untuk kemudian terbang pulang beberapa hari kemudian ke Indonesia, tanah air yang begitu dicintainya, walaupun dia sudah menjadi warga negara Jerman.

Kontak masih kami lakukan lewat sms. Sayang, saya tidak ada saat dia menelfon saya untuk membalas sms ucapan selamat ulang tahun dari saya untuknya Juli lalu. Sms selamat idul fitri saya untuknya juga harapan semoga dia sehat selalu tak dibalasnya. Baru hari ini saya tahu, bahwa dia sudah terbaring sakit di rumah sakit selama Ramadhan. Sampai kemudian sms duka (atau suka) itu saya terima.

Jika tiba-tiba sekarang saya merasa sedih, itu hanyalah keegoisan saya. Karena saya tidak akan pernah menerima lagi perlakuan sayang dan istimewa darinya. Masakan dan kue yang lezat. Tempat tidur yang hangat. Fasilitas antar jemput. Bincang-bincang yang hangat. Juga pelukan yang erat. Saya tidak akan lagi bertemu sosok mungil yang menanti atau mengantar saya di dan ke Bahnhof. Menyuruh saya bergegas karena takut terlambat. Duduk menemani saya sampai kereta datang kemudian melambaikan tangan sampai kereta yang saya tumpangi tak bisa dilihatnya lagi. Saya tidak akan mendapatkan keistimewaan itu lagi. Karena sekarang, dialah yang patut mendapat keistimewaan amat sangat dari Sang Maha Istimewa. Dia yang dijemput dan diantar menghadapNya. Tentu di stasiun yang paling indah. Mendapat hidangan yang paling lezat. Peraduan yang paling hangat. Juga dekapan yang paling erat. Sepantasnya kah saya sedih jika dia sekarang mungkin sedang tersenyum lega? Senyum dan tawa yang paling lepas dari yang pernah dia lepaskan dari bibirnya. Karena keindahan sejati sekarang menjadi miliknya.

Jika sekarang saya sedih, itu semua karena ingatan saya pada semua hal dan saat-saat indah dengannya, yang tidak akan pernah terulang lagi. Bukan pada kematiannya. Selamat jalan, Uwa. Wilujeng angkat. Doa saya selalu untuk kelapangan dan keindahan jalanmu di sana.

Advertisements

6 Gedanken zu „Bu Brincker

  1. Hi Dian,
    perasaan kengen saya sama Bu Brincker bareu terasa sekarang. Seperti kilas balik dari perjalanan saya waktu sempat tinggal di Jerman.
    Walaupun cuma sekali dan setaun – dibandingin Dian yang bertaun-taun dan berkali-kali – Bu Brincker adalah satu dari sekian cerita dari diri saya, waktu saya di Jerman.
    Hampir semua perjalanan, kesenangan, kesedihan, ada Bu Brincker di dalamnya. Untung kamu bisa nulis, Dian. Jadi saya ngga usah susah-susah nyari kata-kata seputar Ibu Brincker. Karena ceritamu bisa dibilang sama persis dengan cerita saya. Bedanya Bu Brincker dulu ngga pindah-pindah rumah, tetep di Bonn Mehlem, yang bisa ditempuh cuma 5 menit jalan kaki dari stasiun kereta.
    Menyesal waktu Bu Brincker ke Indonesia, saya ngga ketemu beliau. Padahal saya sempet telpon ke HP atau nomor rumah disini, tapi mungkin bukan jodoh saya ketemu beliau lagi. Saya bisa aja bernostalgia tentang Jerman, tapi ngga ada lagi kesempatan itu.

  2. Hiks, Mia, saya juga kangen. Terima kasih ya, dulu kamu mengenalkan saya ke Bu Brincker. Jerman untuk saya = Bu Brincker. Sekarang, kalau insha Allah saya ke sana lagi, ngga akan ada lagi Uwa. Kamu benar, Uwa sudah jadi bagian dari hidup kita, yang sadar tidak sadar mungkin turut andil membuat diri kita menjadi seperti sekarang. Kamu adalah salah satu sosok yang sering diceritakan dan ditanya. „apa kabarnya Mia?“ Hiks, hiks, makin kangen :(

  3. Sekian bulan saya melakukan pencarian bu Brincker (itu adalah nama yang biasa aku sebut saat sms an sama Ibu yang luar biasa ini) sudah sekitar 1 tahun semenjak tahun 2007 saya kehilangan kontak melalui hp dengan ibu Brincker, selanjutnya saya selalu berkomunikasi lewat email. sampai pada hari ini, saya baca artikel mbak dian tentang ibu. (Entahlah, saya begitu yakin, ini ibu Brincker yang saya maksud), karena kontak terakhir sekitar sebelum Ramadlah… ibu sedang sakit dan harus mondar mandir ke Rumah sakit.

    Saya mengenalnya dari seorang temen di sebuah millist. kabar itu datang dari Nurlinawati.. yang saya juga tidak kenal. kebetulan ada seseorang yang ada di Indonesia yang sangat membutuhkan bantuan materi. seketika itu juga saya kirim email ke Ibu Brincker, berharap saya bisa membantu saudara saya di Indonesia. Saya begitu terharu, Ibu begitu percaya kepada saya, setelah sekian lama kita smsan, terus sebagian lewat email, ibu mengirimkan sejumlah uang lewat temennya yang di jerman, yang kebetulan pulang ke Indonesia. Saya belum pernah ketemu ibu, di internet, bisa saja kami mengarang cerita. tapi ibu begitu percaya dengan kami. akhirnya bantuan itu kita sampaikan kepada „umi“ (cerita ini bisa dilihat di umikuemalia.blogspot.com). kami sangat bersyukur… dan kami merasa punya ibu yang sangat baik, sangat tulus, begitu muslimahnya berdasarkan cerita cerita dia. tapi sayang stelah itu kami lost contact dengan ibu….

    Seandainya yang mbak ceritakan ini bu Brincker yang aku maksud…. kami semuanya pasti berdoa untuk dia. semoga Allah mengampunkan segala dosanya.

    Kami kangen dengan ibu Brincker.

    Yusuf.

  4. Assalamualaikum wrwb mba dian.
    Terima terima kasih telah share cerita indahnya tentang ibu Brincker, beliau adalah uwa saya, saya biasa memanggilnya uwa engken. Saya orang indonesia yang sekarang tinggal di berlin dan menikah dengan seorang warga negara Jerman. Ketika saya mengunjungi Bonn untuk menziarahi makam uwa, saya menginap di rumah sepupu saya/putri bungsu uwa engken. Lalu sepupu saya bercerita tentang berapa hebat dan baiknya uwa yang selalu membantu para pelajar indonesia yang datang ke jerman, khususnya Bonn dan betapa banyak orang yang merasa kehilangan saat beliau meninggal. Sepupu saya bercerita bahwa dia membaca sebuah blog yang menceritakan tentang ibundanya. Dia bilang meskipun bahasa indonesianya tidak begitu fasih namun dia mengerti dan sangat senang dan terharu membaca blog mba dian tentang uwa.
    Uwa adalah teladan saya, beliau persis seperti ibundanya yang sangat suka membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk saudara ataupun orang yang butuh perlindungan.
    Semoga saya bisa menteladani sifat beliau.
    Dan bisa membuat biografi tentang beliau sehingga kisah beliau bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.
    Salam dari kami,
    Keluarga Brincker-Hurni-Gerbig

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s