Bahasa, Sastra, Budaya, dan Identitas Diri

Identitas diri yang mana? Apa kaitannya dengan bahasa, sastra, dan budaya? Apakah ada pengaruh bahasa, sastra, dan budaya terhadap ”penciptaan” identitas diri? Apakah identitas yang dimaksud adalah yang tercantum dalam formulir-formulir saat harus dituliskan: bahasa ibu, nasionalitas/suku bangsa? Terus terang jika ”hanya” itu saya bingung menjawabnya, karena saya berbahasa ibu bahasa Sunda (Sunda yang mana?) dan bahasa Indonesia (Indonesia yang mana?), plus bahasa Jerman yang sudah ”merasuki” alam bawah sadar pikiran dan perasaan saya. Bahasa Jerman jadi bahasa ibu? Sok betul. Saya bukan orang Jerman, saya orang Indonesia dengan separuh darah Sunda dan Jawa Tengah. Jadi, apa hubungannya? Saya orang Indonesia yang ”pernah” cukup intens menggemari sastra dan budaya Sunda, menolak berbahasa Jawa tetapi ”pernah” cukup gemulai menari Jawa, kemudian belajar bahasa Inggris dan lebih intensif lagi belajar dan mengajar bahasa, sastra dan budaya Jerman. Pernah hidup cukup lama di ruang dan waktu sebuah tanah orang-orang Teutsch. Saya adalah orang Indonesia yang beruntung bisa menelusuri Zeitgeist dan elan vital orang-orang dan pemikir-pemikir dari sumber dan bahasa pertamanya. Merasakan Stimmung pemikiran dan semangat mereka secara langsung. Bekerja di lingkungan yang Sunda, tetapi mengajarkan bahasa bukan Sunda, melainkan bahasa milik orang-orang Teutsch tadi. Menaruh minat besar pada linguistik, namun tak bisa melepaskan diri dari sastra. Dan saya adalah orang Islam, dengan segala kekurangannya. Islam yang setengah Sunda, setengah Jawa, Indonesia, yang berbahasa Arab pasif saja, bersentuhan dengan ”Barat” tetapi tetap berpikir dan merasa ”Timur” (jika ”Barat” dan ”Timur” diasumsikan ada). Berada di ”Timur”, tetapi tak lepas dari logika ”Barat”. Kalau begitu, identitas yang mana? Rasanya kok kacau balau.

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin tidak hanya ”menghinggapi” dan menggelisahkan saya. Ternyata saya tidak sendirian, beruntung. Banyak teman yang juga gelisah –terutama di tempat saya bekerja-. Ada banyak sekali hal yang menjadi pemikiran kami saat kami berhadapan dengan situasi kerja, dengan mahasiswa, dan situasi hidup yang rasanya kok begitu ya? Ada yang tidak sreg. Mengapa bahasa, sastra, dan budaya ”terpinggirkan” di era ”katanya” globalisasi ini? Apakah bahasa, sastra, dan budaya ini hanya sebatas aura tak tersentuh? Berjarak dengan tubuh fisikal yang ditempeli identitas seragam, lencana, ijazah, peci, kerudung, jam tangan, baju, dan seterusnya masih panjang lagi. Lalu bagaimana kesejarahan tubuh yang penuh tempelan itu ada? Apakah berjarak juga dengan “sejarah” tubuh itu sendiri? Tubuh yang berbahasa, bersastra, dan berbudaya? Apakah bisa lepas dari itu semua? Mengapa masih ada minderheitwertig, saat harus mengisi kolom: fakultas sastra. Mahasiswa sastra. Terus terang, saya juga dulu merasakan hal yang sama. Fakultas Sastra cuma jadi pilihan kedua, karena saya tidak suka ilmu hukum dan ekonomi. Itu saja alasannya. Ketika pada akhirnya saya selalu jatuh cinta pada bahasa, sastra, dan budaya, itu adalah satu proses panjang yang membuat saya jatuh bangun.

Kegelisahan kami diakomodasi (atau dikerjai atau kami yang memaksa – apapun itu) oleh pimpinan Fakultas, sehingga kami akhirnya bisa mengundang Yudi Latif dari Reform Institute untuk bicara pada kuliah umum kemarin. Tema yang diusung adalah ”Kontribusi Bahasa, Sastra, Budaya terhadap Penciptaan Indentitas Diri”. Menarik sekali mengikuti kuliah di bulan Ramadhan yang penuh cahaya terang ini. Yudi Latif tidak hanya bicara tentang bahasa dan sastra sebagai ”ibu pengetahuan”, tetapi dia pun menyinggung soal sejarah peradaban dan kebangkitan bangsa-bangsa besar di dunia yang berawal dari bahasa dan sastra. Indonesia pun ”pernah” menjadi bangsa yang sangat besar dan penting dalam percaturan bangsa-bangsa dunia, sampai akhirnya budaya materialisme mendominasi kehidupan. Sampai ketika bahasa, sastra, dan budaya disejarahkan. Sampai ketika identitas keberagaman bangsa Indonesia diseragamkan pada beberapa babakan sejarah, dan masih berlangsung sampai sekarang. Tak ada diri dengan kerumitan identitas yang justru membuatnya jadi khas, yang ada hanya orang-orang dengan cara berpikir dan bertindak seragam. Yudi Latif membahasnya dengan lugas dan tajam, pun memberikan solusi-solusi yang bersifat teknis dan praktis ketika ada pertanyaan: apa yang bisa diberikan oleh Fakultas Sastra yang ”abstrak” terhadap peradaban dunia yang semakin bersifat teknis dan pragmatis. Ternyata banyak sekali.

Contoh yang diberikan Yudi Latif adalah pemikir-pemikir besar dunia, termasuk di antaranya Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka. Mereka berbahasa, mereka bersastra, dengan itu mereka menciptakan ”budaya” dan ”alam berpikir” untuk merdeka. Untuk sebuah kemerdekaan dan kebangkitan. Tidak hanya diri mereka, tetapi juga bangsa yang sudah amat sangat lama dijajah oleh ”pikiran” bangsa lain yang lebih kuat bahasa, sastra, dan budayanya. Dan ketika bangsa ini sedikit demi sedikit menghilangkan peran penting bahasa, sastra, dan ”akar” budaya-nya, pelahan tapi pasti bangsa yang sempat besar ini menuju kehancurannya.

Di mana peran Fakultas Sastra -yang sebentar lagi akan berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya seperti di universitas-universitas lain di Indonesia? „Idealnya“ di garda depan. Kembali kepada kata. Kepada puisi. Kepada sejarah. Agar tidak jatuh untuk kesekian kalinya. Issue terpenting lainnya adalah kurikulum yang sudah harus -mau tidak mau- diubah. Bukan yang mengikuti pasar dalam arti ikut arus ke mana si pasar itu menderas. Namun, kurikulum yang punya ciri dan identitas yang jelas. Kami mau jadi apa? Kami ingin ke mana? Karena kami adalah universitas. Universal. Bukan multifakultas yang tersebar tak saling kenal dan sapa pada lautan ilmu yang seharusnya jadi samudera yang indah.

Ini tugas kami semua, untuk fakultas dan ilmu yang kami cintai dengan segala carut marut dan tambal sulamnya. Dan ini adalah awal untuk langkah yang masih sangat panjang ke depan.

Tertulis di situ: „Pada mulanya adalah kata!“. Sejenak aku berhenti cemas! Siapa dapat membantuku meneruskannya? Aku menilai kata tak sedemikian tinggi. Betapapun aku harus menerjemahkannya, jika benar aku dibimbing jiwa. Tertulis di situ: Pada mulanya adalah tujuan. Pikirkan benar-benar, karena itulah kalimat pertama, agar penamu tidak terlalu tergesa! Apakah segalanya dipengaruhi dan dicipta oleh tujuan?. Seharusnya tertulis: Pada mulanya adalah kekuasaan! Namun, selagi aku menuliskannya, sesuatu memperingatkanku agar tak berhenti di situ. Ruh itu membantuku! Sekaligus aku mendapat tuntutan untuk menulis dengan lega: Pada mulanya adalah perbuatan! – (Goethe „Faust“, terjemahan Agam Wispi)

Bandung, 110908

Tulisanmenjelangmatahariyangterpaksaterhenti.

Post Scriptum: Kuliah umum berikutnya oleh Remy Sylado, yang akan mengusung tema: ”Kontribusi Bahasa, Sastra, Budaya, dan Identitas Bangsa”.

Advertisements

10 Gedanken zu „Bahasa, Sastra, Budaya, dan Identitas Diri

  1. bicara soal bahasa, sastra, budaya. satu hal yang jadi pertanyaan: dimana posisi/peran agama? kenapa kontribusi – yang justru sangat besar – „dipinggirkan“? agama yang kaya akan pengalaman-pengalaman spiritual

    contoh: seni khat (kaligrafi) pada peradaban islam yang begitu mendunia.

    di indonesia, pujangga2, sastrawan, ulama dari ranah minang/melayu begitu kuat pengaruhnya, mis. dibawah lindungan ka’bah (hamka), rubuhnya surau kami (aa navis), dsb.

    kita ketinggalan karena kita sudah terlalu sekuler, liberal – melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

    heheheh.. udah ah. jadi ngoceh. kepanjangan. :)

  2. @ Insan: „satu hal yang jadi pertanyaan: dimana posisi/peran agama?“ –> rasanya jadi pertanyaan retoris. ngga usah dijawab kali yaa…udah dijawab kan oleh komenmu ;)

    @ Koen: ogah ah jadi siegfried. capek :) lagian ngga ada yang nawarin cincin juga, hehe.

  3. Teh didi, sedih sekali ya aku gak bisa ikut kuliah bersama itu. kayanya seru. Dua minggu lepas juga aku di sini baru aja ngikuti syarahan perdana tentang peranan bahasa dalam peradaban suatu bangsa. Di situ juga dibahas tentang runtuhnya beberapa peradaban yang diawali dengan „dimatikannya“ bahasa bangsa tersebut. Kematian suatu bahasa secara otomatis juga akan mematikan peradaban suatu bangsa karena melalui bahasalah budaya sebagai wujud sebuah peradaban akan mati juga.

    Di akhir syarahannya, ada sebuah kutipan menarik sbb „Tidak pernah ada suatu bangsa yang membina peradabannya tanpa kepustakaan. Bahkan tidak pernah juga ada bangsa yang membina peradabannya atas kepustakaan dalam bahasa orang lain. Setiap bangsa, meskipun kecil akan membina peradaban bangsanya atas kepustakaan dalam bahasanya sendiri

  4. @ NN a.k.a Nani :): Kutipan darimu itu sama juga dengan yang dikuliahkan tempo hari: keberaksaraan. Menghidupkan kembali budaya membaca dan menulis. Bacalah dan tuliskanlah. Pesan sponsornya sih gitu :)
    Eh, dikau mudik kan lebaran nanti? Siapa tahu bisa ikutan kuliah umumnya Remy Sylado. Insha Allah tanggal 15 Oktober. Atauuu…dirimu kan sudah mau aku culik untuk ngasih kuliah umum juga ;)

  5. tantangan yang mesti dihadapi oleh fakultas (sastra) adalah menciptakan alam berpikir „YANG“ merdeka. Ayo ibu dan bapak dosen, ubahlah „prosedur“ standard kuliah. Kalau ada pertanyaan mahasiswa yang nyeleneh atau subversive, tanggapilah dengan cool, sistematis, empiris, dan logis (apa lah namanya, you know what I mean) dan buatlah situasi nyaman untuk berdebat tanpa mempengaruhi hubungan di luar kelas

    Dan yang terpenting, bukan mahasiswa saja yang mesti terus membaca, tapi dosenpun terutama mesti keeping up to date

  6. @ Lasta: setuju, Las. Tugas berat untuk dosennya sih memang. Karena ngga mudah untuk „mengubah“ budaya yang sudah sedemikian mengakar (lihat tulisanku tentang: Feedback). Tapi, tak mudah bukan berarti ngga bisa, ya ngga?

  7. Setelah baca „feedback“, saya bisa bayangkan tuh ada pertanyaan „mahasiswa maunya bagaimana dong?“. But rest assured Dian, semua tak akan sia-sia. keep doing what you’re doing and some will probably get it (even though it might take 7 years :)

  8. @ Lasta: dukungan-dukungan seperti ini yang bisa bikin aku bertahan, las. kalau ngga, udah kabur dari dulu, hihi. untung juga aku rada autis, jalan sendiri aja :) dan alhamdulillah juga, jurusan memberikan kebebasan penuh sama aku untuk melakukan apapun di kelas (dan untuk ini aku merasa beruntung aku ada di unpad :))

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s