Bayarlalaa

Wajar saja rupanya jika ada yang bilang pada saya, bahwa saya ini naif, kuper, dan ekstremnya „bodoh“. Gelar akademik saja cukup tinggi, tapi untuk beberapa urusan saya memang naif, kuper, dan bodoh, hehe. Beberapa waktu lalu saya mengalami lagi situasi yang menunjukkan kekuperan saya, yaitu saat saya melakukan proses pendaftaran online untuk studi lanjut di Universitas Zürich, Swiss. Percobaan pertama dan kedua gagal. Saya kemudian menulis surat elektronik pada administratornya juga pada sekretariat urusan mahasiswa asing untuk mengadukan kesulitan melakukan pendaftaran online. Saya juga bertanya apakah mungkin saya mendapatkan informasi tentang studi di sana beserta formulir pendaftarannya dan dikirimkan per pos. Email langsung dibalas, isinya pendek saja, hanya berupa link kepada informasi tentang studi di sana serta link ke pendaftaran online (itu sih saya sudah tahu dan sudah saya lakukan), serta pemberitahuan bahwa server mereka sedang rusak, maka pendaftaran online tidak bisa dilakukan sampai beberapa hari ke depannya. Rupanya email saya diforward oleh sekretariat urusan mahasiswa asing kepada administrator pendaftaran online disertai catatan ”Diese Frau hat Probleme mit Online-Registrierung”.

Pada hari yang disebutkan server akan berfungsi kembali, saya coba lagi mendaftar. Kali ini berhasil. Cepat dan mudah. Saya puas. Ketika semua proses sudah beres, saya menerima email konformasi bahwa saya harus membayar 50 Franc untuk membeli formulir dan proses pendaftaran tadi. Kaget saya, karena selama saya studi di Jerman, dan sering berkorespondensi dengan beberapa universitas dan institusi lainnya di sana, tidak pernah sedikit pun saya dikenai biaya. Apalagi untuk pendaftaran. Biasanya saya tinggal minta informasi dikirim per pos, maka akan datanglah beberapa waktu kemudian. Gratis. Terakhir saya minta ijazah saya dikirim per pos, karena saya keburu pulang sebelum ijazah jadi. Yang saya dapatkan bukan hanya ijazah dan transkrip nilai, melainkan sudah disertai beberapa lembar foto copy-nya yang telah dilegalisir. Itu semua gratis. Sebelumnya bahkan disertai tawaran apakah saya mau dikirimi legalisirnya dulu tanpa tanda tangan asli dekan dan rektor, jika saya perlu ijazah dan transkrip nilai itu segera. Saat dulu mendaftar kuliah, mengajukan permohonan kamar di asrama, semua berkas informasi, brosur, formulir, dll dikirim dari sana cuma-cuma.

Tidak hanya dengan universitas, itu terjadi juga dalam pengurusan visa , ijin tinggal, legalisir passport, surat wajib pajak, dll, berkas selalu gratis. Biaya hanya dikenakan untuk membuat visa (tetapi karena saya tinggal di Jerman dengan beasiswa, maka visa dan ijin tinggal pun gratis). Pendek kata, untuk semua yang berbau informasi, saya bisa dapatkan gratis.

Kupernya saya, saya menyamaratakan itu dengan Swiss. Di sana ternyata semua harus membayar. Bahkan untuk kuliah pun, biaya yang harus dibayarkan cukup banyak. Memang tidak ada tuition fee, hanya biaya lain-lainnya itu lho. Ada Kollegialpauschal khusus untuk program doktor, bantuan untuk mahasiswa asing, biaya untuk kas kelompok olah raga, dll. Bagus juga saya pikir, karena jadi terperinci saja uang larinya ke mana dan digunakan untuk apa. Di Jerman pun ada biaya demikian berupa sumbangan wajib (Studentenbeitrag) yang besarannya berbeda di setiap universitas, kisarannya antara 50 – 200 €. Biaya itu sudah termasuk tiket bis dan kereta api untuk satu semester. Dengan menunjukkan kartu tanda mahasiswa (Studentenausweis), kita bisa naik bis dan kereta apir gratis di zona yang ditentukan. Ini lumayan betul. Dan lagi-lagi, karena saya mendapatkan beasiswa, saya juga tidak membayar penuh Studentenbeitrag ini, hanya setengahnya (dulu membayar 50 €/semester). Sejak tahun 2007, di Jerman sudah diberlakukan tuition fee (Studiengebühren) sebesar 500 €/semester. Ini masih terhitung murah jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Inggris dan Perancis.

Tempat tinggal dan biaya hidup di Swiss pun termasuk mahal. Demikian pula dengan asuransi. Dihitung-hitung, memang benar, Swiss adalah negara mahal. Kalau boleh memilih saya lebih suka sekolah di Jerman. Namun, apa mau dikata, pembimbing saya pindah dari Bayreuth ke Zürich, suka tidak suka saya juga jadi ikut dia. Dan saya jadi seperti orang desa yang pindah ke kota (Bayreuth memang desa, hehe). Biasa hidup di Bayreuth dengan 200 € per bulan (sudah rumah dan asuransi lho), melihat biaya hidup di Zürich –yang mungkin standar- kagetlah saya (iyalah, bandingannya Bayreuth).

Kemudian saya bercerita dan mengeluh pada salah seorang sahabat dan dia malah menertawakan saya, „Dian, kemana ajaaa….di mana-mana juga kalau mau daftar mah bayar. Di Singapur harus bayar 50 dollar. Di Amrik juga sama. Di Inggris sama. Di Australi bayar. Kemana aja, neng?“ sambil terbahak menertawakan saya yang dengan polosnya menjawab. „Di Jerman ngga…“. „Ya itu di Jerman. Makanya gaul dong, jangan kuper gitu. Lagian Swiss kan memang mahal. Salah sendiri mau ke sana.“

Hehehe, ya begitu deh. Semua serba mahal.Di Jerman juga memang tidak murah sebenarnya. Pajak semakin tinggi, harga-harga ikut naik. Di Indonesia sudah jelas lah. Uang sudah tidak ada harganya lagi. Semua harus bayarlalaa…:) Eits, bayarlalaa itu dalam bahasa Mongol artinya „terima kasih“. Terima kasih untuk informasi, terima kasih untuk pajaknya, terima kasih untuk biaya ini itu. Terima kasihnya pakai uang, hiks :( Lagian, hari gini masih mau gratisan :p


Advertisements

4 Gedanken zu „Bayarlalaa

  1. @ Insan: Gott sei Dank! :) selama masih ada yang gratisan :) malas pakai yang bayarlalaa…(ini males atau „malas“?!:))

    @ Koen: Diolch yn fawr iawn… :) Jangan nakut-nakutin ya :p

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s