(Per)minta(an)

Saya termasuk orang yang sulit untuk meminta. Kalaupun saya „terpaksa harus“ meminta, permintaan saya biasanya dikemas dengan menggunakan tindak tutur dan strategi permintaan yang rumit dan berbelit-belit. Tidak pernah bisa langsung ke tujuan utama. Kalaupun akhirnya saya „berhasil“, biasanya itu sudah melewati proses berpikir dan menimbang-nimbang berulang kali.

Kenapa? Satu hal, saya tidak terbiasa meminta (terutama meminta tolong) jika saya rasa saya masih bisa melakukannya sendiri. Alasan lain, saya tidak mau merepotkan orang yang saya mintai tolong. Alasan terbesar di balik semua itu mungkin saja karena sebenarnya saya adalah seorang „penakut“ yang takut permintaannya ditolak dan akibatnya saya akan kecewa. Dengan meminta, maka saya berharap, dan jika harapan tersebut tidak terpenuhi, maka kemungkinan untuk kecewa akan lebih besar. Saya takut kecewa. Padahal dalam hidup kekecewaan tidak bisa dihindari. Hal tersembunyi lainnya dari keengganan saya untuk meminta adalah kesombongan saya untuk menempatkan diri saya „di bawah“ orang yang saya mintai tolong. Dengan meminta, maka saya memosisikan diri „di bawah“, posisi yang „diberi“. Saya tampaknya lebih suka ada di posisi yang ”memberi”. Padahal –sekali lagi- saya bukan manusia super yang bisa terus menerus ada dalam posisi itu. Akibatnya –lagi- untuk beberapa kasus, energi saya bisa terserap habis karena ”kesombongan” saya ini.

Jika saya ”berhasil” meminta, bagaimana saya mengemas tindak tutur saya? Biasanya saya menggunakan tuturan dengan modalitas ”bisa(kah)” atau ”boleh(kah)”, misalnya ”Boleh saya pinjam bukunya?”. Tuturan imperatif yang digunakan pun bukan tuturan imperatif langsung, melainkan berbentuk tindak tutur bertanya dengan tindak ilokusi meminta tolong atau menyuruh, misalnya ”bisa tolong bawakan laptop?”. Jika ”terpaksa” menggunakan tuturan imperatif langsung, partikel ”ya” atau ”dong” serta kata ”tolong” tidak pernah saya lupakan. Misalnya, ”Tolong bawakan buku ini ke Jurusan, ya” atau ”tolong bantu saya dong”. Dengan penggunaan partikel ini, ”nuansa” perintah dalam tuturan saya menjadi lebih halus, apalagi jika ditambah dengan intonasi tuturan yang menurun.

Paraphrase adalah salah satu strategi yang digunakan saat saya meminta dan mengutarakan maksud. Saya akan memberikan dulu berbagai macam keterangan dan alasan, mendeskripsikan situasi atau masalahnya serta memberikan argumentasi yang menurut saya cukup logis dan beralasan, sehingga rekan bicara saya ”sulit” untuk menolak. Antisipatif atau malah justru manipulatif? Saya lebih suka melihatnya sebagai langkah preventif saya terhadap kekecewaan karena permintaan atau maksud saya tak terpenuhi seperti harapan saya. Ketakutan terhadap penolakan? Sungguh ironis karena saya adalah orang yang bisa dengan tegas berkata ”tidak”. Saya akrab dengan berbagai macam ragam tuturan ”penolakan”, baik langsung atau tidak langsung. Terlihat juga dengan jelas, bahwa secara psikologis saya lebih suka menghindar dengan cara menolak.

Kembali kepada ragam tuturan permintaan, apakah tindak tutur permintaan –lebih spesifik lagi pada tindak berbahasa verbal dan nonverbal – ini bersifat individual atau kultural? Bagaimana jika percakapan dengan konteks meminta dan mengutarakan maksud ini dilakukan oleh pelaku percakapan dari budaya yang berbeda? Apakah terjadi persinggungan yang mungkin menimbulkan salah paham? Jika ya, apakah persinggungan ini disebabkan oleh faktor kebahasaan verbal yang bersifat segmental atau dipengaruhi juga oleh faktor suprasegmental seperti prosodi, mimik, gestik, kontak mata, gerak tubuh, dll? Bagaimana faktor psikososial pelaku percakapan berpengaruh terhadap tindak tutur permintaan dan pengutaraan maksud tadi?

Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan sebelumnya dengan menggunakan teknik analisis percakapan terhadap tindak tutur permintaan pada pelaku percakapan dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, ditemukan bahwa ”persinggungan” yang membawa kepada kesalahpahaman hanya sekitar 20 % disebabkan oleh faktor kebahasaan verbal. Pengaruh terbesar disebabkan oleh faktor-faktor nonverbal, latar belakang budaya dan normalitas kultural serta situasi psikologis pelaku percakapan (ruang, waktu, ”jarak” sosial adalah beberapa faktor penyebab).

Bagaimana dengan kasus saya yang tetap sulit ”meminta” kepada orang yang berbahasa sama dengan saya, berlatar belakang sosial dan budaya yang juga sama, bahkan dengan status sosial dan jarak sosial yang relatif sama? Adakah ”masalah” saya ini juga terjadi pada orang Indonesia lainnya? Jika dipersempit lagi ke dalam konteks percakapan antara dosen dan mahasiswa, faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya berbagai ragam tuturan permintaan? Tidak bisa dilupakan, bagaimana pengaruh unsur-unsur nonverbal terhadap ragam tuturan permintaan dan pengutaraan maksud tadi? Apakah ragam tuturan permintaan ini berkaitan dengan unsur-unsur psikososiopragmatik para pelaku percakapan dalam konteks percakapan dosen – mahasiswa? Jika ya, bagaimana keterkaitannya? Apa pandangan filosofis yang melatarbelakangi munculnya ragam tuturan permintaan dalam konteks percakapan di atas?

 — Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengganggu saya, yang akan coba saya jawab dalam penelitian berikutnya. Sudah cukup rumit untuk satu disertasi belum? Hehe. Mudah-mudahan saya tidak malas menguliknya atau keburu tertarik meneliti hal lain :)

Werbeanzeigen