Bahasa dan Salah Paham

Saya selalu merasa sedikit ”terganggu” jika membaca atau mendengar penggunaan kata ganti tidak pada tempatnya. Terutama kata ganti ”saya”, ”aku”, „kami“ dan „kita“. Cukup membuat saya terhenyak untuk kemudian bertanya pada diri sendiri bagaimana saya harus bereaksi. Apalagi jika hal tersebut terjadi dalam percakapan lisan.

Seorang teman selalu menggunakan kata ganti ”kita” jika bercakap dengan saya, padahal dia sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Misalnya: ”Kalau sudah cocok, kita ambil saja rumahnya“, atau „Besok kita angkut barangnya dan masuk ke rumah baru“. Saya biasanya kaget dan merasa agak kesal, karena kesannya saya di“libatkan“. Akibatnya reaksi saya menjadi defensif. Padahal sebenarnya reaksi seperti itu tidak perlu, karena setelah beberapa lama saya akhirnya tahu bahwa kata ganti ”kita” dalam konteks budaya salah satu suku bangsa di Indonesia itu bermakna ”saya” dan digunakan untuk kesopanan. Jadi, teman saya itu justru sedang menghormati saya dengan menggunakan kata ganti ”kita”.

Kesalahpahaman seperti ini tidak hanya terjadi sekali dua kali. Beberapa waktu lalu saya pernah mendapat email berbunyi: „Ini rumah online kita, tapi kamu ngga bisa lihat langsung karena kontaknya terbatas, jadi ngerepotin maneh“. Saya benar-benar bingung. Bunyi email yang pendek itu –untuk saya- tidak jelas referensinya. Siapa punya ”rumah online”, untuk siapa, dan siapa direpotkan oleh siapa? Kembali, setelah beberapa saat, baru saya sadar, bahwa itu ”rumah online” –sebut saja si A-, ”kamu” ditujukan kepada saya, alih kode ke dalam bahasa daerah ”maneh” juga mengacu pada saya.

Contoh lain, tadi sore saya mendapat telefon dari seorang pegawai bagian kredit salah satu bank swasta –sebut saja Bank P-. Selama percakapan, pegawai tersebut tidak menyapa saya dalam bentuk kata sapaan apapun, misalnya ”Bu” atau ”Mbak” atau apapun. Saya tetap anonim selama percakapan itu. Sedangkan dia menggunakan kata ganti ”aku” untuk menyebut dirinya: ”Aku itung dulu berapa besar cicilan yang harus dibayar” atau ”Mau nyatet nomor telepon aku?”. Sekali lagi saya terganggu dan langsung merasa harus berjarak dengannya. Penggunaan kata ganti ”aku” dalam percakapan telefon formal menurut saya juga tidak pada tempatnya. Artinya, saya tidak mengenal dia -begitu juga sebaliknya- dalam kapasitas yang tidak lebih dekat selain relasi penyedia dan pengguna jasa. Apalagi itu adalah percakapan telefon yang untuk pertama kalinya dilakukan.

Lain lagi dengan kejadian yang menimpa teman saya yang lain. Bahasa Indonesia yang dia gunakan disebut ”kaku” oleh rekannya, karena dia tidak terlalu banyak menggunakan istilah bahasa gaul dalam percakapan mereka. Dalam hal ini mungkin dia tidak terlalu salah, karena selama dia tinggal di Jerman, dia tidak terlalu mengikuti perkembangan ragam bahasa gaul di Indonesia dan dengan latar belakang sosialnya (pendidikan dan pekerjaan), teman saya memang lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia ”yang baik dan benar”. Sepertinya hal itu terbawa ke dalam kesehariannya. Sedangkan rekan bicaranya memiliki latar belakang usia, pendidikan, dan pekerjaan yang cukup berbeda dengannya.

Ketidaktepatan pemakaian kata ganti atau suatu ragam bahasa dalam konteks penggunaannya sangat membuka peluang untuk terjadinya kesalahpahaman. Dari sini bisa diketahui bahwa kompetensi berbahasa juga harus diimbangi dengan pemahaman konteks sosial, budaya, psikologis, sehingga kemungkinan salah paham dalam berinteraksi dengan menggunakan bahasa sebagai medium dapat diminimalisir. Tetapi itu tidak berarti interaktan yang satu harus meniru interaktan yang lain. Kesadaran dan pemahaman bahwa ada perbedaan inilah yang diharapkan dapat meredusir kesalahpahaman. Hal ini tentu saja tidak bisa terjadi begitu saja, melainkan harus ada timbal balik dari masing-masing pelaku interaksi. Dan di sinilah letak masalah terbesar saat orang berinteraksi. Harus ada kesediaan dari masing-masing pelaku interaksi untuk ”memahami” rekan bicaranya. Ada keaktifan dan dinamika di sini. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan memperhatikan ketepatan atau kesesuaian pemakaian satuan lingual dalam konteks percakapan atau tulisan oleh masing-masing pelaku interaksi. Ragam ungkapan dan bahasa informal bisa menimbulkan ”irisan” jika digunakan dalam situasi formal. Begitu pun sebaliknya. Jangan-jangan akan muncul prasangka, seseorang itu tidak sopan atau ngelunjak, atau bahkan seseorang menjadi ”kaku” dan jaim. Ini berawal dari bahasa. Dan bersetuju dengan Humboldt bahwa bahasa itu bukanlah ergon ’hasil’ melainkan energeia ‚energi, kegiatan‘, maka berbahasa pun harus aktif. Tidak hanya aktif bicara, tetapi juga mendengar dan memahami rekan bicara dengan aktif. Utopia? Bukankah itu yang menjadikan manusia tetap hidup? :)

Lihat juga tulisan terkait di sini.

Bandung, 050208

Advertisements

8 Gedanken zu „Bahasa dan Salah Paham

  1. asik, akhirnya ngebahas ttg bahasa lagi. eh, tapi kok artikel gue dibawa-bawa? artikel cupu gitu.

    kembali ke tulisan dian. contoh nomor 3 (pegawai bank), gue sih cuma bilang dia itu „orang yang ga bisa berbahasa“ atau mungkin tepatnya, „seorang yang cacat dlm berbahasa“ kali ya…

    kayak ngomong sendiri aja. lawan bicaranya (Dian) hanya dianggap sebagai objek-pendengar belaka * bentar, ketawa dulu…. hahahaha *

  2. Kalau mau baca silakan baca karena ada perlu jadi mohon dimaafkan. Bentuk tanpa kata ganti ini betul2 mengandalkan konteks. Ditanggapi negatif: huh, khas Indonesia. Ditanggapi positif: hah, bisa dipakai buat memeriksa kecerdasan komputer.

  3. @ Insan: hehehe, iya, in, yang ada aku bingung. Ini orang lagi ngomong apa dan sama siapa ya?! :) dan tiba-tiba jadi merasa sangat bodoh (atau memang iya?! :)) Tulisan cupu? Ah masa ;)

    @ Koen: aku ngerti, aku ngerti kalimatnya, hehe…aku lebih pilih ditanggapi positif deh. Ayo dong kalian berdua (ya, kalian) buat software untuk memudahkan proses interpretasi (duuuhh…mimpi dari dulu…:))

  4. @pak Koen: bentuk tanpa kata ganti -> kalo yang berbicara anak kecil (lebih sering menggunakan kata perintah dlm mengutarakan maksud/keinginan) atau berbicara kepada teman dekatnya (konteks keakraban) mungkin bisa diterima, pak.

    tapi dalam kasus dian ini, hubungannya antara (calon) pelanggan dan penyedia jasa (komunikasi yang membutuhkan feedback/tanggapan dari masing-masing komunikan) – merujuk ke paragraf terakhir dari tulisan Dian

    @Dian: kita jadi merasa bego? kesal, iya :). gue pernah ngalamain (bbrp kali) sama tele-marketer2. setelah sedikit disentil biasanya mereka baru „ngeh“.

    TM: „Halo, kami dari X. Bisa bicara dengan pimpinan perusahaan?“
    ICH: „Ya, ada apa yach?“ * pura-pura bego*
    TM: „Begini, kami ingin menawarkan.. bla.. bla…“ * langsung nyerocos pake penjelasan panjang lebar, capek dengerinnya. *
    ICH: „sebenarnya, bapak ingin bicara dengan siapa?“ * sengaja, sedikit shock-therapy *
    TM: „Dengan pimpinan perusahaan. Bisa dipanggil?“ * mulai kurang-ajar. pertanyaan yang harusnya dijawab dengan „Bisa atau „Tidak Bisa“ *
    ICH: „Ya, saya sendiri. Ada perlu apa memangnya?“ * payback-time – ngaku-ngaku jadi pimpinan perusahaan. hahahaha… *
    TM: „Oooh, begini pak….. bla.. bla.. bla..“ * nah, baru deh keluar kata-gantinya. terus dia ngejelasin lagi panjang lebar. capeeeek deccch… *
    ….
    selanjutnya, pembicaraan pun jadi lebih „hangat“ (bukan intim, lho ya) :)

    „kalian“? gue berasumsi ini untuk pak Koen dan temannya (tulisannya kan ditujukan ke pak Koen)

  5. hahaha, dasar insan jahil dan iseng :p tapi sesekali memang perlu dibecandain begitu ya. ehm, kalian berdua itu memang pak koen dan temannya….yang nulis komen di sini.

  6. Ya, kayak yang aku cerita, pemilihan kata ganti, terutama di Indonesia, lebih rumit daripada seharusnya, karena ada konteks dan nilai rasa. Huh sebal.

    + Ada kopi baru nih, Mas.
    – Apa tuuh?
    + Gua teh malah kasih ‚ci elo.
    – Hah? Apa tadi?
    + Guatemala Casi Cielo
    + Oh. Ya deh, ambil 5 bungkus. *lega*

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s