Feedback

Di akhir perkuliahan semester ini saya kembali meminta feedback dari mahasiswa tentang saya, cara saya mengajar dan materi kuliah yang saya berikan. Walaupun dilakukan setiap akhir semester, feedback yang masuk tidak pernah banyak, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Entah kenapa, sungkan mungkin, takut nilainya jelek, atau alasan lainnya, saya tidak tahu. Yang jelas saya sulit sekali mendapatkan feedback dari mereka, baik lisan ataupun tulisan. Mereka lebih banyak senyum atau berkata, „Apa ya, Bu? Bingung“.

Untuk akhir semester ini, saya meminta mereka untuk membuat feedback tertulis, diketik, dibuat anonim dan disimpan di dalam locker saya. Berhasil? Lumayan mungkin, walaupun hanya ada empat feedback yang saya terima.

Hmm, itu mungkin adalah salah satu tanda bahwa ternyata saya belum berhasil membuat mereka nyaman untuk mengeluarkan pendapat atau kritikan. Padahal saya selalu tekankan, bahwa untuk saya dan di mata kuliah saya, mereka bisa bebas mengeluarkan pendapat atau komentar serta pertanyaan apapun. Butuh waktu lama untuk bisa membuat mereka terbiasa dengan cara saya itu. Empat pertemuan pertama biasanya masih sungkan, setelah itu mulai ada dua tiga orang yang berkomentar atau melontarkan pertanyaan yang tak jarang membuat saya juga berpikir keras, kadang juga tak bisa menjawab. Di dua mata kuliah saat ini sudah jauh lebih baik. Kami bisa berdiskusi dengan sangat asyik tentang satu atau beberapa tema. Jangan salah, kondisi seperti itu saya „perjuangkan“ selama 1 semester penuh di tahun sebelumnya! Setelah 1 semester bertemu saya, mereka baru percaya bahwa it’s oke untuk bicara apapun di dalam kelas saya.

Namun, ternyata situasi nyaman di kelas tetap tidak bisa menjadikan mereka nyaman untuk memberikan kritik pada saya secara langsung. Saya kecewa juga, karena penting untuk saya untuk mengevaluasi apa yang saya kerjakan selama satu semester ini. Tetapi saya tidak bisa memaksa mereka juga untuk memberikan feedback pada saya.

Apa hasil dari empat feedback itu? Disebutkan bahwa saya tidak cukup ”memaksa” mereka untuk melakukan sesuatu. Saya cenderung memberikan kebebasan pada mereka untuk melakukan dan mempelajari sesuatu, sehingga mereka tidak merasa ”diajar” oleh saya. Dengan cara saya seperti itu, mereka jadi bingung dan –tulis salah seorang mahasiswa- saya ”mengajarkan” dan membiarkan budaya malas orang Indonesia semakin berkembang dengan cara saya yang bebas. Dia, yang menulis dan mengkritik saya dengan sangat detil (ini saya suka betul), menulis juga bahwa mahasiswa Indonesia itu harus dipaksa untuk melakukan sesuatu dan itu tugas guru atau dosen untuk ”membuat” mereka mau membaca atau membuat tugas. Tiga orang lagi menulis bahwa cara mengajar saya enak, aplikatif dan mudah dimengerti. Namun, saya tidak memberikan banyak teori dan itu membuat mereka jadi bingung saat harus mengerjakan tugas atau ujian (perlu diketahui, ujian atau tugas yang saya berikan di dua mata kuliah untuk semester 7 bersifat penalaran).

Setelah saya endapkan (maklum, sebagai manusia biasa, saat menerima kritikan –walaupun saya yang minta- biasanya defensif, tetapi setelah diendapkan akan kembali normal), saya rasa ada banyak kompromi yang harus saya lakukan (selalu). Di satu sisi, saya adalah orang yang tidak suka memaksa dan tidak suka dipaksa. Belajar untuk saya adalah kemandirian. Saya belajar apa yang saya mau dan saya sukai. Namun, tampaknya saya lupa bahwa di sisi lain saya ada di satu situasi yang orang-orangnya kadang ”terpaksa” berada di situ karena alasan mata kuliah itu wajib diikuti, misalnya. Suka atau tidak suka. Dengan demikian, mereka menjadi ”terpaksa”, pun harus ”dipaksa” minimal untuk tetap bisa bertahan selama satu semester. Jangan harapkan mau bergerak sendiri, setelah ”dipaksa” pun hasilnya tidak memuaskan.

Latar belakang saya yang membebaskan diri untuk mencari dan hanya melakukan apa yang saya mau ternyata membuat saya menjadi overestimate pada mahasiswa saya. Saya selalu berpikir dan merasa, bahwa mereka adalah individu-individu dewasa yang sudah tahu dan bisa melakukan apa yang mereka suka dan mereka inginkan. Dengan demikian, saya (sangat) mengharapkan pembelajaran mandiri muncul dari diri mereka masing-masing. Fungsi saya adalah fasilitator atau lebih tepatnya mungkin provokator yang merangsang mereka berpikir. Saya tidak mau memberikan dogma apalagi fatwa tentang suatu tema atau hal. Ini selalu saya tekankan di setiap pertemuan. Pada beberapa orang provokasi saya berlaku, pada banyak yang lain, tidak. Karena pada kenyataannya masih banyak orang yang ingin disuruh-suruh dan dipaksa melakukan sesuatu. Dilepas sendiri mereka hilang arah.

Alhasil, masukan mereka bagus untuk saya, karena saya jadi bisa melihat bahwa sistem yang saling menjalin masih belum bisa memfasilitasi mereka untuk bebas dan mandiri. Saya tidak mau menyalahkan itu semua. Saat ini saya hanya akan melihat diri saya, karena saya juga bagian dari sistem itu. Saya pun tidak bermimpi bisa merubahnya seperti yang saya mau begitu saja, tetapi mungkin dengan kompromi dan negosiasi. Cara saya melakukannya pun mungkin harus dipoles lebih halus. Bukankah jika saya keukeuh berpegang pada prinsip pendidikan dan pembelajaran yang membebaskan itu tanpa melihat konteks individu, ruang, dan waktu artinya saya juga memaksakan kehendak saya? Saya tidak tahu juga, apakah prinsip yang saya yakini ini juga tepat untuk konteks individu, ruang, dan waktu saat ini? Saya berinteraksi dengan ”dunia”. Ada saatnya saya harus mundur atau diam sejenak untuk melihat dan mempelajari, ada saatnya juga saya harus maju: cepat atau lambat saja. Pada akhirnya memang saya yang terus belajar dan membebaskan diri saya. Itu semua saya dapatkan dari „pembelajaran“ saya dengan mereka. Untuk mereka? Sepertinya lebih baik saya bebaskan mereka untuk mengambil atau membuangnya. Tetapi mungkin empat feedback yang masuk itu bisa jadi sedikit bukti, bahwa yang saya harapkan sebenarnya sudah berjalan. Itu saya syukuri.

Satu lagi pendapat mereka tentang saya: saya orangnya moody. Kalau sedang bad mood katanya juteknya kelihatan sekali. Hmm, pendapat mereka kurang, karena sebenarnya selain jutek, saya juga posesif, narsis, dan autis. Tampak jelas di tulisan ini. Hehe.

Danke allen!

Advertisements

9 Gedanken zu „Feedback

  1. Disebutkan bahwa saya tidak cukup ”memaksa” mereka untuk melakukan sesuatu. Saya cenderung memberikan kebebasan pada mereka untuk melakukan dan mempelajari sesuatu, sehingga mereka tidak merasa ”diajar” oleh saya. Dengan cara saya seperti itu, mereka jadi bingung dan –tulis salah seorang mahasiswa- saya ”mengajarkan” dan membiarkan budaya malas orang Indonesia semakin berkembang dengan cara saya yang bebas.

    ini dalih dari orang yang memang benar-benar malas (seperti gue) dalam mencari-cari pembenaran diri aja. lihat tulisan yang ditebelin, yang secara langsung – terbuka – sudah mereka akui sendiri. memangnya kuliah mau disamaiin sama TK/SD ??

    apa dian yang agak terlalu berharap dari mereka, ya? terlalu tinggi, vielleicht… :)

  2. Feedback juga aku terapkan dulu untuk murid SMP, dan mereka boleh menggunakan nama samaran. Hasilnya? Udah lupa :). Yang teringat, mereka bilang aku terlalu cepat kalau menerangkan. Hehehe. Ternyata, mahasiswa pun masih harus dipaksa2 ya? :)

  3. Terlalu cepat juga salah satu komentar mahasiswaku, mbak :) Iya ternyata, tepatnya: mereka ingin dipaksa, hehe. Dan dosennya malah memaksa untuk tidak memaksa :) (sama aja ya, hihi)

  4. Dian, out of topic nih. Ada kenalan blog yang tanya sama aku soal silabus bahasa jerman soalnya dia lagi kuliah di sana. Aku merekomendasikan blog Dian. Maaf ya, nggak ijin terlebih dahulu.
    btw, komentar ini jangan ditampilkan ya. Aku cari email Dian nggak ketemu, jadi deh pesannya nyasar ke sini :)

  5. Mengomentari kata kang insan, memang benar bu anak jaman sekarang tidak bisa diberi kebebasan. Dari tahun ke tahun kemampuan untuk berpikir dan tanggap semakin berkurang.
    Coba ibu tengok ke Himasad sekarang, dari tahun ke tahun semakin terbelakang. Dari tahun ke tahun untuk membuat konsep aja mereka tidak mampu, mereka harus dituntun agar bisa melakukan sesuatu, tidak bisa diberi kebebasan. Jika diberi kebebasan hasilnya akan kacau. Mungkin itu pendapat saya untuk blog ibu, berdasar pengalaman di Himasad.

    Bagoes ’01

  6. selama ini setelah didiskusikan dengan teman-teman, jompo2 sastra jerman, kami mengambil kesimpulan memang ssudah jamannya seperti itu. Zeitgeist mereka sudah berbeda, yang mereka pikirkan hanya penilaian benar atau salah, sehingga mereka takut untuk mengungkapkan ide karena ‚takut salah‘.

    Mungkin mereka terpengaruh sistem dari SD sampai SMA yang selalu disuapi dalam pembelajaran, mereka tidak pernah diajak berpikir bebas.
    z.B: dalam sekolah atau tempat bimbel, mereka diajarkan cara untuk menjawab soal, bukan diajarkan untuk berpikir bebas dengan cara mereka sendiri.

    ya ini hanya buah pemikiran dari jompo2 di sastra jerman yang masih tersisa, hasil dari didikan orde lama Himasad hehe.

    Kita masih memikirkan lho bu, kita boleh jompo tapi kita memikirkan juga Himasad ke depannya tidak lepas tangan begitu saja. Pesan saya ke ibu: tetap ajari mereka untuk berpikir bebas, tapi mungkin harus lebih sabar.
    Tetap semangat! Gbu

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s