Malaysia #4

Hujan benar-benar tak berhenti. Saat kami beranjak pergi meninggalkan appartement pun hujan masih turun. Rencana kami hari itu adalah Kuala Lumpur. Beli sedikit oleh-oleh. Tujuan utama saya sih hanya dua: Kinokuniya dan Starbucks. Yang lain, kalau sempat.

Rombongan berpisah di KL Sentral. Sebagian langsung menuju Sungei Wang, sebagian lagi ke KLCC menuju Kinokuniya. Ani, Iqbal, dan saya masuk ke rombongan kedua. Sempat berputar mencari dulu ketika sampai di KLCC, kemudian menemukan Kinokuniya yang besar itu. Duh, langsung kalap deh. Tidak bisa menahan diri berada di toko buku sedemikian besar. Ani langsung menuju ke bagian buku-buku pelajaran dan pengajaran bahasa. Dia mencari buku-buku pelajaran dan pengajaran Bahasa Rusia. Iqbal dan saya menuju ke bagian Linguistik, Psikologi dan Filsafat. Duh, duh, untuk urusan buku kami memang agak di luar nalar. Sebelum ke Kinokuniya kami sempat mampir ke Hush Puppies, lihat-lihat sepatu, dan masih berpikir ulang ketika melihat harganya, kemudian memutuskan tidak jadi membelinya padahal masih dapat discount. Namun, buku-buku yang kami beli ada yang berharga lebih dari harga sepatu itu. Dan saat menyangkut buku, kami bisa jadi dua mephistopheles. Saling membujuk dan tak tahan dibujuk: untuk membeli. Hiks, karena dana terbatas, akhirnya dikompromikan: saya beli buku yang dia juga ingin baca, begitu juga sebaliknya. Tidak terlalu sulit memang, karena selera dan area minat kami sama. Hanya saja untuk urusan buku tiba-tiba suka mendadak jadi pelit dan posesif. Kalau tidak punya sendiri itu rasanya kurang afdol, hehe. Setelah hitung sana sini, pertimbangan ini itu, sambil terduduk-duduk di lantai dan memiring-miringkan badan pula (duh, saya kok jadi ingat adegan Forrest Gump sedang menonton TV dengan anaknya: posisi badannya sama, miring ke sebelah kanan), jadilah 6 buku yang kami beli. Temanya berkisar pada discourse analysis, nonverbal communication, billingualism, art therapy, cognition dan phenomenology existentialism. Itu hasil negosiasi kami, supaya bisa saling tukar.

Sekitar dua jam kami ada di Kinokuniya. Tak terasa, padahal niatnya cuma sebentar, karena kami mengejar waktu. Eits, tapi mana mungkin sebentar: di toko buku gitu lho. Itu pun bagian yang lain tidak kami jelajahi. Terlalu berbahaya. Setelah membayar, kami segera berlalu cepat-cepat. Baru terasa lapar deh. Ke foodcourt di lantai empat, kami langsung pesan nasi biryani. Hmm, enak. Selesai, tujuan berikutnya adalah Starbucks. Tak lama pula di sana, Perjalanan langsung dilanjut ke Sungei Wang. Ternyata masih sempat untuk membeli oleh-oleh yang lain. Tak banyak pula yang dibeli. Alasannya karena: uang yang tadinya dianggarkan untuk beli oleh-oleh, terserap lebih dari setengahnya untuk buku-buku. Hehe, maaf ya.

Hujan yang turun cukup deras itu membuat kami sedikit kesulitan untuk melindungi buku-buku itu. Maklum, kantungnya dari kertas. Biarlah kami kehujanan, asal buku-buku itu selamat diberi payung. Aneh kan? Apapun, setelah selesai membeli oleh-oleh lain (dipaksa selesai –red.), kami segera pulang ke appartement, karena Pak Azhali akan menjemput kami pukul 18.30. Rombongan lain malah sudah tiba lebih dulu, dan sudah beres-beres barang mereka. Sementara Iqbal dan saya malah sibuk melihat-lihat buku-buku yang baru kami beli. Beres-beres urusan nanti, hehe. Tingkahnya seperti orang yang baru lihat buku saja. Padahal sampai di rumah pasti nanti akan pusing menempatkan buku-buku itu. Tapi, ah, itu urusan nanti.

Sejak dua hari sebelumnya sudah ada pemberitahuan bahwa pesawat kami akan delayed, jadi kami agak sedikit santai. Pak Azhali menjemput kami jam 19.30 untuk diantar ke KLIA. Sangat longgar waktu kami, karena pesawat dijadwalkan berangkat pukul 23.15. Beres check in, makan malam, barulah terasa bahwa tubuh saya sudah sangat lelah dan mengantuk. Bahkan untuk makan malam pun tak ada daya saking capek dan mengantuknya.

Ternyata pesawat mengalami keterlambatan lagi. Pesawat kami baru take off jam 00.30. Hujan tak juga berhenti. Cuaca cukup buruk dan pesawat mengalami beberapa kali turbulence. Alhamdulillah, bisa sampai di Cengkareng dengan selamat jam 01.30 waktu Indonesia dan perjalanan langsung dilanjutkan menuju Bandung. Ah, senangnya tiba lagi di tanah air. Selalu ada kelegaan menjejakkan kaki kembali di tanah hidup saya. Hidup yang senyata-nyatanya hidup.  Tentu dengan segala carut marut dan kebahagiaannya. Namun, saya suka  menjalaninya di sini. Hey, tiba-tiba saya kangen sekali pada mahasiswa-mahasiswa saya :)

 

 

Advertisements

4 Gedanken zu „Malaysia #4

  1. Hush, jangan bawa-bawa negaraku :) Judul bukunya, mmm…. The Art Therapy Resource Book dari Cathy A. Malchiodi, Telling Lies dari Paul Ekmann, Discourses in Place-nya Scollon & Scollon, Billingualism, dua buku dari Rollo May tentang Phenom-Exist, lupa judulnya apa. Punyanya Iqbal :)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s