Malaysia #2

Jam 8 kurang, Pak Azhali dari pihak Fakulti sudah menjemput kami, lalu kami dibawa dulu ke Fakulti, karena Iqbal masih harus mencetak dan memperbanyak makalahnya. Merry sudah ada di sana dan menemani kami. Ada tema yang serius yang dia bicarakan dengan saya, yaitu tawaran menjadi pengajar tetap di Jabatan Bahasa Jerman Fakulti Bahasa Moden UPM. Merry ternyata sudah membicarakan tentang hal ini kemarin dalam rapat jurusannya. Saya sendiri tidak tahu menahu, karena di awal kami hanya membicarakan kemungkinan kerja sama Unpad dan UPM dalam bentuk dosen tamu saja, bukan dosen tetap. ”Jangan-jangan kamu hanya ingin teman saja, Mer”, canda saya. Namun, rupanya dia serius mengajak saya. Saya langsung dipertemukan dengan Dekan dan Ketua Jabatannya. Mereka pun serius menawari saya. Wah, ditodong begitu tentu saja saya tidak siap. Saya datang ke UPM untuk ikut seminar, bukan untuk melamar kerja. Tawarannya cukup menarik. Kemungkinan berkarir dan studi lanjut cukup besar. Jangan tanya urusan finansial: lebih dari cukup. Berlebihan malah. Duh, pagi-pagi sudah ditodong begitu. Saya minta waktu untuk berpikir sampai hari terakhir saya di Malaysia. Tetapi tampaknya ada yang kurang suka jika saya mengambil tawaran itu dan menetap di sana, hehe ;)

Jam 9 kami diantar Pak Azhali ke Hotel Marriot Putrajaya. Acara seminar dimulai dibuka dengan sidang pleno yang menampilkan makalah kunci satu dari Dekan tentang pengantar psikolinguistik. Lumayan lah. Bahasa tidak terlalu menjadi halangan, walaupun banyak kata-kata yang baru kami dengar dan cukup membuat kami terkaget-kaget. Kemudian dilanjutkan dengan rehat kopi. Ehm, snack-nya enak terutama Samosa-nya. Dan saya tiba-tiba jadi ingat Samosa buatan Fakheera dan Jumhur yang enak itu.

Sidang pleno dilanjutkan dengan pembentangan tema polygraphic. Ada beberapa info baru dari sajiannya, tetapi ujungnya sudah bisa ditebak. Apalagi kalau bukan UUD alias ujung-ujungnya duit. Pembentangan makalah kunci sesudahnya tidak terlalu menarik, saya sudah mulai terkantuk-kantuk. Untungnya Merry kemudian mengajak saya keluar dan kami berbincang cukup lama di luar membicarakan tawaran kerja itu. Karena saya bukan TKI, maka kontrak kerja, job description juga masalah gaji harus jelas sebelum saya memutuskan menerima tawaran itu atau tidak. ”Sombong kali kau, Dian”, kata Merry kesal ketika saya bertanya bagaimana kurikulum Jabatan Bahasa Jerman di UPM. Hehe, maaf, Mer, kebiasaan. Semua harus jelas dulu sebelum diputuskan. Lagipula saya hanya akan bekerja di bidang yang saya sukai. Kalau sudah begitu, uang biasanya akan menjadi urusan ke sekian. Tetapi kalau saya tidak suka, uang sebesar apapun bisa saya tolak. Perbincangan itu dilanjutkan dengan pertemuan dengan Ketua Jabatannya. Ehm, pertemuan itu kemudian menjadi salah satu pertimbangan saya untuk memutuskan.

Makan siang diadakan kemudian. Hmm, lagi-lagi makanannya enak. Saya bisa menikmati salad kesukaan saya sepuas-puasnya. Empat orang Indonesia yang memilih duduk di pojok ini sepertinya paling ribut sendiri. Peserta lain makan dengan tenang dan penuh sopan santun, sambil makan kami malah sibuk juga foto-foto dan tertawa-tawa. Setelah itu shalat dan acara kemudian dilanjutkan lagi. Apa acara selanjutnya? Pembukaan, hehe.

Untuk saya ini hal yang baru karena acara resmi pembukaan baru diadakan setelah sidang pleno. Entah karena alasan apa acara pembukaan disimpan setelah makan siang. Lazimnya begitu atau karena yang akan membuka baru bisa datang siang hari. Apapun, tapi cukup membuat saya terkaget-kaget karena tak biasa. Diawali dengan lagu kebangsaan Malaysia yang liriknya membuat saya semakin mengerti kenapa saya ”menangkap” dan ”merasakan” suasana penuh represi di sana. Di dalam ruangan, di lingkungan UPM, di Serdang, di KL, di kereta, di bis. Di sana. Saya merinding ketakutan. Tiba-tiba saya rindu Indonesia.

Dilanjutkan dengan lagu mars UPM. Hadirin masih berdiri. Setelah itu acara dibuka dengan acara pembukaan seperti biasa. Namun, entah kenapa, kengerian tiba-tiba semakin melingkupi saya. Saya kok takut ada di ruangan itu. Sesak rasanya melihat dan mendengar satu per satu orang bicara. Ada yang ”berkuasa” di sana. Entah apa. Dan semua orang tunduk. Patuh. Ada yang berkelibatan di benak saya. Bayangan protes minoritas India beberapa waktu sebelumnya, orang-orang Cina yang tidak inklusif tapi juga tidak eksklusif, orang-orang Melayu yang juga tak setara, kemudian wajah-wajah pekerja perempuan dari Indonesia yang menunduk dan memilih memalingkan wajah seolah tak mau dekat. Saya ngeri karena ini universitas. Saya melihat menara gading yang memang begitu tinggi dan agung. Apakah ini hanya di UPM? Saya memang tidak bisa menggeneralisasikan. Anyway, mungkin cuma Iqbal dan saya yang merasakan ”represi” itu. Mungkin juga kami berlebihan alias sukanya memang protes. Maaf, maaf, kepada pembicara dan pembentang di depan yang terganggu melihat ekspresi wajah kami yang sering berubah cepat.

Sesi setelah pembukaan tidak kami ikuti, kami memilih pulang cepat karena capek dan mengantuk. Diantar sampai ke Fakulti oleh Pak Arbaak dan Merry, perjalanan dilanjutkan dengan bis. Hmm, tapi mungkin memang kami tidak boleh bolos dari acara, niatan pulang cepat tetap tidak tercapai karena: nyasar. Biasa, salah arah. Akhirnya kami memutar dulu ke Serdang dan kembali dengan bis yang sama. Capek, tapi lumayan, 1 RM bisa keliling naik bis seharian.

Sampai appartement terkaparlah kami di kamar masing-masing.

Advertisements

6 Gedanken zu „Malaysia #2

  1. Yup setuju sama bapak Koen mengenai „toleransi“. sepertinya (sejauh yang saya lihat) di Malay itu masih „sedikit“ rasis ya? Apalagi meilhat kelakuan petugas2 RELA. Wuiih, kasarnya – terutama sama orang Indonesia.

    Btw, bagaimana rasanya nasi lemak? cocok dilidah? :D

  2. @Koen: Hehe, i think you already knew what kind of decision i’ve made :p

    @Insan: gitu deh, in :) nasi lemak? masih enakan nasi uduk. btw, yang jualan nasi lemaknya orang purwokerto :)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s