Malaysia #1

Perjalanan minggu ini mengunjungi negeri jiran. Dalam rangka ikut seminar psikolinguistik internasional yang diselenggarakan Universiti Putera Malaysia. Rombongan dari Bandung 6 orang. Yang ikut seminar hanya 3, sisanya jalan-jalan. Berangkat dini hari pukul 00.30 memakai Primajasa dan diisi dengan obrolan tentang diferensiasi emosi marah, kesal, sedih, dsb. Dih, subuh subuh gitu lho. Hehe. Tak apa lah, saya sudah biasa dengan pikiran ajaib  bapak satu ini kok. Sampai Jakarta pukul 3, pesawat akan take off pukul 6.25. Setelah anggota rombongan lengkap, check in, urusan prosedural dll, berangkat lah kami berenam ke Kuala Lumpur. Mengantuk, tapi tak bisa tidur nyenyak.

Perjalanan pendek ke Kuala Lumpur dihabiskan dengan melanjutkan obrolan. Iqbal rupanya cemas karena makalahnya belum beres. Tapi itu sih salah sendiri, hehe. Landing di KLIA, kepala dan telinga saya sakit. Tumben nih, perjalanan pendek kok malah sakit. Dijemput oleh Ibu Normaliza dari UPM yang menyambut kami dengan amat sangat ramah dan ramai. Literary, benar-benar ramai. Iqbal sudah langsung ”diancam” untuk menyelesaikan makalah hari itu juga. Tak bisa tidak. Perjalanan ke UPM diisi dengan obrolan ringan dan tawa canda serta tanya ini itu. Selama di Malysia kami akan menginap di Rumah Tetamu Universiti. Kampus UPM luasnya hampir 1200 hektar, Rumah Tetamu ada di belakang kompleks kampus. Ibu Normaliza sendiri tak tahu letak Rumah Tetamu itu karena Fakulti Bahasa Moden dan Komunikasi ada di kampus bagian depan. Sampai di sana ternyata kami kepagian, karena kami baru bisa check in pukul 15, sedangkan saat itu baru pukul 10 pagi. Akhirnya Ibu Normaliza membawa kami ke Fakulti dan menyediakan kami tempat untuk beristirahat sebentar dan menyimpan barang. Iqbal sendiri diberi ruangan khusus untuk bekerja lengkap dengan komputer, internet dan printer. Dia sebenarnya sudah membawa perbekalan lengkap: laptop dan buku serta diary bahan penelitiannya. Ruang kerjanya di Bilik Nomor 13.

Sambutan yang luar biasa, pihak Fakulti mengundang kami makan siang dan kami diajak berkeliling serta berkenalan dengan staf mereka, termasuk bertemu Dekan. Menyenangkan. Karena Iqbal sudah ”ditahan” oleh Ibu Normaliza, dan dia memang berniat tinggal di sana menyelesaikan makalah, maka kami berlima menunggu waktu check in dengan pergi ke Kuala Lumpur. Oh ya, kampus UPM ini letaknya di Serdang, sekitar 1 jam dari Kuala Lumpur, diantar oleh Merry, salah seorang anggota staf pengajar di Jurusan Bahasa Jerman di Fakulti tersebut. Merry ini satu satunya orang Indonesia di sana, jadi dia antusias sekali bertemu kami. Kami tentu senangjuga, karena mau tak mau Bahasa Melayu masih harus coba kami ”terjemahkan”. Kurang mengerti lah. Adanya Merry cukup membantu kami. Dia lama pula tinggal di Siegen, jadi bertemu saya seperti bertemu teman lama.

Cuaca panas sekali hari Senin itu. Kepala saya semakin berdenyut saat masuk ke Komuter yang akan membawa kami dari stasiun Serdang ke KL Sentral. Kesan pertama saya saat itu adalah: hening sekali di kereta. Orang bercakap pelan saja. Rasanya kami berenam saja yang ribut dan tertawa-tawa. Jadi tak enak hati sendiri. Tiba di KL Sentral, kami berpindah kereta menuju KLCC. Turun di stasiun KLCC yang tepat berada di bawah mall besar Suria KLCC di depan Menara Petronas. Mall-nya sendiri biasa saja. Sama seperti mall-mall besar di Jakarta dan Bandung. Ke atas. Yang menarik perhatian saya langsung Starbucks dan Kinokuniya. Kedua tempat itu langsung jadi jadwal kunjungan di hari terakhir, karena hari Selasa dan Rabu saya ikut seminar.

Merry harus langsung kembali ke Fakulti, sementara kami berfoto-foto sejenak di depan Suria KLCC dengan latar Menara Petronas. Kembali ke dalam, shalat dhuhur dan masuk ke Vincci. Saya memang berniat membelikan adik saya sepatu. Saat itu sedang ada sale akhir tahun, jadi harga-harga dipotong cukup besar. Lumayan juga. Panas terik di luar menahan kami di dalam KLCC. Menunggu matahari condong, kami minum juice di foodcourt lantai 3. Tak terlalu berniat ke Menara Petronas karena antrian yang panjang. Kami kemudian memilih melanjutkan acara jalan-jalan ke Sungei Wang di daerah Bukit Bintang. Berjalan cukup memutar karena setiap orang yang ditanyai selalu menjawab tak tahu. Heran juga. Peta di tangan memang cukup membantu. Membantu berputar.

Di Sungei Wang, kami berlima berpisah. Saya berdua dengan Ani lebih suka bertanya-tanya harga souvenir di depan. Sementara yang lain memilih segera ke dalam. Sungei Wang juga tak terlalu istimewa. Saya kok merasanya seperti di King’s Dalem Kaum. Dan karena sakit kepala saya sudah tak bisa diajak kompromi lagi, Ani pun sudah capek pula, kami memutuskan untuk pulang ke Rumah Tetamu lebih dulu. Saya heran, tiga lainnya kok lebih kuat ya daripada kami, padahal dari segi usia jauh lebih tua dari kami. Oh ya, tujuan mereka kan memang jalan-jalan.

Sampai Serdang perjalanan kami lancar, sempat pula membeli nasi lemak untuk makan malam. Dari Serdang ke Rumah Tetamu cukup bermasalah. Sesuai petunjuk Merry, kami naik bis 416 ke arah UPM. Namun, yang jadi masalah adalah kami tak tahu harus berhenti di mana. Bertanya lagi, tak ada yang tahu pula. Saya pun kembali heran, karena yang saya tanya mahasiswa UPM. Alhasil kami turun di halte seperti yang ditunjukkan oleh mahasiswi tersebut dan kami tak tahu itu ada di mana. Pilihan terakhir adalah taksi, karena berjalan kaki tampaknya tak mungkin dan tak mau.

Tiba di rumah tetamu, kami kaget karena front office tutup, tak ada orang satu pun dan saya baru sadar bahwa saya sama sekali tak tahu nomor appartement kami. Menghubungi Iqbal tak bisa. Parahnya lagi, telefon genggam saya sudah low bat. Saya harus benar-benar irit. Akhirnya kami nekat mengetuk seluruh pintu apppartement di gedung itu. Sambil curiga jangan-jangan appartement kami ada di block 1 bukan di block 2 tempat kami menunggu saat itu. Block 1 tak kami temukan letaknya di mana. Jadilah kami nongkrong duduk di depan sambil berharap bahwa Iqbal suatu saat keluar mencari kami. Herannya, tak ada satu pun orang yang lewat. Jadilah kami menunggu dari pukul 19 sampai sekira pukul 21. Barulah ada Petugas Keselamatan alias Satpam Kampus yang berkeliling patroli. Saya pinjam telefon genggamnya untuk menghubungi Merry dan Ibu Normaliza. Mereka pun panik, karena Iqbal tadi sudah didrop di sana dan yang lebih membingungkan adalah dia tak bisa dihubungi. Saya curiga dia tidur atau dia sedang konsentrasi menyelesaikan makalah sehingga melupakan kami teman-temannya dengan pikiran bahwa kami sedang bersenang-senang di luar.

Dugaan saya yang kedua ternyata benar. Setelah cemas dan juga karena semua telefon genggam kami low bat –itu mengherankan juga-, setelah mengetuk pintu salah satu rumah meminta bantuan yang ditanggapi dengan jawaban ”Saya memang tinggal di depan Rumah Tetamu tapi saya tak tahu apapun”, kok tiba-tiba saya menemukan secarik kertas tulisan tangan Iqbal menyebutkan nomor appartement kami. Dan benar saja, appartement kami ada di Block 1. Mencari-cari lagi, ketemulah. Ugh, leganya. Iqbal langsung diberondong dengan ungkapan kekesalan. Terkaget-kaget dia karena tepat seperti dugaan saya, dia terlalu berkonsentrasi pada pekerjaannya sambil menggerutu bahwa kami bersenang-senang terlalu lama di luar dan membiarkan dia kelaparan di appartement. Dari 2 appartement yang luas sekali dengan dua kamar, 2 kamar mandi, dapur, ruang tamu dan ruang makan, akhirnya kami hanya memakai 1 appartement saja untuk berenam, karena ternyata lebih dari cukup. Lagipula agak menyeramkan juga, karena di bangunan itu cuma kami sendiri yang tinggal, sedangkan appartementnya begitu luas. Satu kamar tidur dipakai untuk perempuan, 1 lagi untuk 2 orang lelaki dalam rombongan.

Begitulah. Malam pertama di Malaysia dilalui dengan kejadian-kejadian aneh bin ajaib dan lucu seperti itu. Namun, untuk saya saat itu sama sekali tidak lucu, karena kepala saya semakin sakit. Sakitnya agak mereda setelah saya memuntahkan seluruh isi perut saya dan berbaring sebentar di kamar yang gelap gulita tanpa suara apapun. Setelah mandi, saya menemani Iqbal sebentar menyelesaikan makalahnya yang sudah hampir jadi. Esok harinya kami akan dijemput pukul 8 untuk pergi ke tempat seminar di Marriot Putera Jaya.

Bersambung

Advertisements

4 Gedanken zu „Malaysia #1

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s