Pertanyaan

Hari ini adalah kali ketiga saya mengajar di SMP Terbuka. Setiap kali bertemu murid-murid saya di sana, berinteraksi dengan mereka di kelas, selalu ada hal baru yang membuat saya tercengang. Saya selalu terpesona pada antusiasme mereka yang ditunjukkan dengan memandang saya penuh konsentrasi dan mata yang berbinar. Terpesona juga gugup, karena saya merasa tak pantas untuk diberi reaksi seperti itu. Saya juga terpesona pada pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan selama tiga kali bertemu dengan saya.

Minggu lalu kami masuk ke pembahasan bab dua: membuat wawancara. Di rumah saya ”hanya” menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses membuat wawancara dan semacamnya. Saya hanya sekilas membaca judul bab tersebut. Moral. Begitu judulnya. Saya mengernyitkan kening. Mengapa moral? Namun, saya tidak berusaha mencari jawabannya lebih lanjut. Saya hanya heran, mengapa judul bab itu: ”Moral”.

Ternyata, saat di dalam kelas, seorang anak perempuan langsung mengajukan pertanyaan yang menohok saya. ”Bu, moral itu apa?”. Ya, moral itu apa? Saya terdiam, tidak bisa menjawab. Di rumah saya ”hanya” bertanya ”mengapa moral?”, tidak bertanya ”apa itu moral?”. Anak itu lebih kritis lagi, menurut saya. Namun, saya tidak mau mendefinisikan pengertian moral kepada mereka secara literer. Tidak. Selain karena memang tidak tahu, moral menurut saya memiliki makna yang lebih luas dan lebih kompleks daripada sekedar definisi di dalam kamus. Moral begitu abstrak tetapi juga nyata untuk bisa diringkas dengan beberapa kata dan kalimat saja. Kalau mau, saya bisa saja melihat kamus besar bahasa Indonesia untuk melihat definisi itu atau melihat ensiklopedi, tetapi saya tidak mau melakukannya. Saya ajak mereka berdiskusi dan mendefinisikan sendiri apa yang mereka bayangkan tentang kata ”moral”. Berbagai macam istilah keluar, juga berbagai macam contoh diberikan. Ada yang berkata bahwa moral itu ”rasa malu”, ”etika”, ”tanggung jawab”, ada juga yang menjawab ”rasa takut”, ”rasa bersalah”, ”harga diri”. Semua itu kami sepakati ada dalam makna besar ”moral”. Rasa malu jika berbuat sesuatu yang merugikan orang lain. Rasa takut untuk ingkar. Bertanggung jawab pada tugas mereka. Namun, tetap mempunyai harga diri, tak mau direndahkan oleh orang lain begitu saja. Itu sebagian yang mereka ungkapkan dan saya bersetuju dengan itu. Mereka puas, saya juga senang. Dalam hati saya terus bertanya (sampai sekarang): apa moral itu?

Tadi pagi lain lagi pertanyaan mereka. Kami sedang berlatih melakukan wawancara. Mereka yang menjadi pewawancara dan saya yang diwawancara. Setelah mengajukan pertanyaan yang bersifat umum, pertanyaan yang muncul berikutnya juga membuat saya terdiam seperti minggu lalu: „Mengapa Ibu mau mengajar di sekolah ini padahal Ibu tidak dibayar?“. Saya terdiam, hati saya bergetar dan saya tidak menjawab.

Tahukah kalian bahwa saya pun setiap saat selalu bertanya mengapa saya melakukan ini? Mengapa saya ada di hadapan kalian? Mengapa saya ada di depan mahasiswa-mahasiswa saya? Terus terang saya tidak pernah tahu pasti. Namun, setiap kali menatap wajah kalian dan wajah mereka, saat itu juga saya tahu jawabannya. Dan bolehkan saya tidak menjawab pertanyaan itu serta cukup menyimpan jawabannya untuk saya sendiri? Karena jika saya menjawabnya, saya merasa jawaban itu hanya dibuat-buat. Karena kata-kata tidak bisa mewakili segala rasa yang muncul dalam hati dan kepala saya. Dalam hidup saya. Dan, bolehkan sebagai „orang yang diwawancara“ saya juga diam tidak menjawab? Karena rasanya keberadaan saya di sana sudah menjawab segala macam pertanyaan. Semoga.

Advertisements

7 Gedanken zu „Pertanyaan

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s