Dian

Nama ”Dian” selalu saya gunakan untuk memperkenalkan diri. Latar belakang cerita dan makna di balik nama itu diceritakan oleh orang tua saya dan saya senang memiliki nama itu. Waktu kami –empat bersaudara- masih kecil, saya menyebut diri saya sebagai ”Mbak Iyang”. Adik-adik saya pun memanggil saya dengan sebutan itu. Latar belakang budaya Jawa dari bapak saya yang melatarbelakangi panggilan ”Mbak”. Seiring berjalannya waktu dan tumbuhnya kami, sebutan itu hilang dengan sendirinya. Mungkin karena kami berempat tak terlalu jauh berbeda usia dan mungkin karena pada akhirnya postur adik-adik saya menjulang melebihi saya sebagai anak pertama, mereka pun tak lagi menggunakan sapaan ”Mbak” di depan nama saya, melainkan hanya ”Dian”. Saya sendiri tidak bermasalah dengan itu. Hilangnya sapaan ”Mbak” membuat posisi kami di rumah jadi setara. Namun, tentu saja untuk beberapa hal (sayangnya) saya tetap jadi anak pertama :)

Di sekolah, teman-teman dan guru-guru saya pun memanggil saya ”Dian”. Sering juga saya disapa ”Di” oleh teman-teman (herannya hanya oleh teman-teman perempuan, sedangkan teman laki-laki lebih sering menyapa saya dengan ”Yan” atau ”Ian”). Lama-lama, kata sapaan di depan nama saya pun bertambah. Yang lebih muda memanggil saya ”Teh Dian”, ”Teh Di” ”Teh Didi”, ada juga ”Mbak Dian” dan ”Kak Dian”. Yang lebih tua memanggil ”Dek Dian” atau ”Dian” saja. Mahasiswa saya, orang-orang dari lingkungan kerja atau orang yang baru kenal dengan sapaan ”Bu Dian”. Di kampus panggilan ”Bu Dian” ini perlu diperjelas lebih lanjut karena ada dua ”Dian” di jurusan kami, dan satu lagi teman di lain jurusan. Akibatnya nama saya jadi ”Dian Jerman” untuk lingkungan fakultas, dan ”Dian Kecil” untuk lingkungan jurusan. Beberapa orang di jurusan juga dengan ”paksa” memanggil saya ”Di” (dilafalkan /dai/) atau ”Dian” (dilafalkan /daien/). Tetapi sejujurnya saya tidak suka dipanggil Dian dengan lafal Inggris.

Di Jerman lain lagi kasusnya. Pertama kali saya datang ke Jerman, orang memanggil saya dengan sebutan ”Frau Ekawati”. ”Ekawati” adalah nama belakang saya dan saya tidak menggunakan nama bapak saya. Akibatnya, saat itu saya tidak bereaksi selama beberapa detik, karena saya selalu merasa nama saya ”Dian”, bukan ”Ekawati”. Lama-lama saya terbiasa dengan sebutan ”Ekawati” dan akhirnya dalam lingkup resmi dan saat menjawab telefon, saya selalu memperkenalkan diri sebagai ”Ekawati”. Papan nama tempat tinggal serta kotak surat saya pun bertuliskan ”Ekawati”. Namun, di sana nama ”Dian Ekawati” ini ternyata dilematis juga. Di surat-surat resmi saya sering juga diidentifikasikan sebagai laki-laki, sehingga bernama ”Herr Ekawati”.

***
Sebutan, sapaan, gelar di depan dan di belakang nama saya langsung atau tidak langsung memberikan beberapa efek pada saya. Baik dalam berpikir atau merasa. Saat saya disapa dengan sebutan ”Mbak” atau ”Teh”, secara tidak langsung saya diposisikan sebagai orang yang dari segi usia lebih tua. Saya sendiri menyapa orang dengan ”Mbak”, ”Teh”, ”Kak” atau „Bang“ dan „Mas“ juga „Pak“ jika (saya tahu) mereka lebih tua dari saya atau –seringnya- jika saya respek kepada mereka walaupun dari segi usia mereka sebaya bahkan ada juga yang lebih muda. Menyapa dengan nama tanpa embel-embel apapun untuk saya membuat relasi menjadi lebih egaliter dan akrab. Begitu juga dengan sapaan ”Dek” atau ”Ibu”. Sapaan ini membawa efek adanya relasi yang tak setara. Satu ”lebih” dihormati dari yang lain. Di Jerman, sapaan ”Frau” juga membawa pengaruh adanya ”jarak sosial” antara saya dan rekan bicara saya. Dalam situasi formal, hal ini adalah hal biasa. Untuk kesopanan. Namun, jika berinteraksi cukup sering dan intens, lambat laun sapaan ini akan hilang berganti dengan panggilan dengan nama depan saja atau jika dari awal memang diminta untuk ”dutzen” (menyapa dengan ”du” – kamu) bukan ”siezen” (menyapa dengan ”Sie” – Anda).

Demikian juga dengan kata ganti ”saya” atau ”aku”. ”Saya” biasanya saya pakai dalam situasi formal, dengan orang-orang yang baru saya kenal atau jika saya ingin ”berjarak” dengan rekan bicara saya. ”Aku” dipakai dalam situasi informal dengan orang-orang yang sudah akrab dengan saya. Biasanya kata ganti ”aku” ini juga saya gunakan jika saya ingin memperkecil ”jarak sosial” dengan rekan bicara saya dan membangun situasi yang lebih intim dan akrab. Kadang-kadang keluar juga kata ganti ”gue” (walaupun sangat jarang) dalam situasi bercanda. Namun, di rumah saya membahasakan diri saya sebagai ”Dian” pada orang tua, adik-adik dan anggota keluarga lainnya. Itupun jika saya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ibu saya: bahasa Sunda. Kata ganti ”kamu” saya gunakan dalam situasi akrab dan informal, dan untuk rekan bicara tertentu tentu dengan beberapa sapaan. ”Kau” juga saya gunakan (sering bercampur dengan ”kamu”) pada teman dekat saya.

***
Penamaan, kata sapaan, sebutan, kata ganti (untuk benda dan orang), keterangan tempat atau waktu serta hubungan antara kata-kata tersebut dengan konteks penggunaannya direfleksikan secara linguistis dalam istilah ”deixis”. Deixis berasal dari bahasa Yunani
δείκνυμι yang bermakna “menunjukkan”, di dalam bahasa Latin disebut ”demonstratio”. Dalam ”deixis” dibahas bagaimana bahasa meng-enkodifikasi dan menggramatikalisasi konteks ujaran atau suatu peristiwa ujaran. Dengan demikian, interpretasi terhadap suatu ujaran sangat bergantung pada analisa setiap konteks di luar ujaran. Penerapan deixis akan lebih ”mudah” terlihat dalam face-to-face-interaction. Dalam bahasa tulis biasanya dapat dianalisa dengan menggunakan “pisau bedah” pragmatik, lebih khusus lagi dengan menggunakan “speech act theory”.

Selain deixis waktu (misalnya: sekarang, hari ini, besok, nanti, dll), deixis tempat (misalnya: di sana, di sini, di situ, dll), contoh yang di atas bisa dimasukkan ke dalam deixis persona (nama, kata ganti orang, panggilan dan sapaan) dan deixis sosial (sapaan dan sebutan).

Deixis sosial disebut juga “honorifica” (latin “honorificus”: menghormati) digunakan sebagai penanda status sosial seseorang atau suatu benda lewat bahasa. Honorifika dalam bahasa bisa dikenali lewat kata ganti orang, kata sapaan, kata penunjuk diri dan dalam beberapa bahasa lewat kata kerja. Misalnya kata sapaan ”Mbak” dalam konteks sosial masyarakat berbudaya Jawa awalnya digunakan untuk menyapa saudara perempuan yang lebih tua. Namun, sapaan ini berkembang luas menjadi sapaan untuk perempuan secara umum, terutama yang tidak dikenal secara pribadi. Contoh lainnya, bahasa Sunda dan bahasa Jawa mengenal ”undak usuk” atau tingkatan dalam berbahasa. Ada yang halus, sedang dan kasar. Kesemuanya menjadi sebagian indikator penanda adanya ”jarak” juga ”tingkatan” saat kita berbahasa. Itu masih belum ditambahi-tambahi dengan berbagai macam gelar yang sebenarnya dikonstruksi oleh masyarakat pengguna bahasa.

***

Apapun itu, yang (tetap) menjadi pertanyaan adalah apakah bahasa itu mendeterminasi pikiran atau pikiran yang mendeterminasi bahasa? Saya merasa begini begitu, berpikir begini begitu, diposisikan begini begitu, toh pada akhirnya saya tetap (cuma) ”Dian” :)

Advertisements

11 Gedanken zu „Dian

  1. Lady Di (Lady Day) udah telanjur diambil Merlyn, sebagai singkatan Lady Dayeuhkolot. Masa mau saingan jadi Miss Leng? Abdi mah menyesuaikan diri, jadi Mister Grey (of Greya Caraka).
    Meanwhile, Ekawati udah telanjur diambil e-Kawat-i, sebuah layanan telegrafi (komunikasi kawat) melalui internet. Coba dicari, kalau percaya.

  2. Pingback: (Masih) Menggelar Gelar « From This Moment

  3. Pingback: dianekawati » Blog Archive » (Masih) Menggelar Gelar

  4. Duh, ceritanya kok mirip ya… soal panggilan2 itu.
    Seperti membaca kisah sendiri… hehehe…

    Asik juga ada yg punya cerita yg begitu sama mengenai panggilan…

    Deedee

  5. ah…mungkin karena namanya persis sama…jadinya ada pengalaman yang mirip…beda latar belakang tempat tinggal aja..kebetulan aku lahir dan besar di jogja…jd g ada yg manggil aku „Teh“…

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s