Batu Batu „Merah Bolong“

Dan saya „ketar ketir“ takut terkena ayunan bongkahan besar batu cadas yang dengan bebas berayun ke depan ke belakang. Dan saya meringis lalu menarik dan mengerutkan badan, takut batu-batu yang berayun itu menimpa sosok-sosok berkepala plontos dengan topeng yang penuh ekspresi ketakutan. Dan saya menghela nafas saat sosok sosok itu menghindari ayunan batu-batu.

Batu batu besar dan kecil berhamburan, dari atas, dari samping, dari depan, dari belakang. Hei, saya sempat terkena serpihan batu yang jatuh dari rongga besi besar di depan saya. Batu-batu itu menghujani tubuh berdada telanjang, bergeletar seolah kesakitan meregang nyawa. Sosok yang sebelumnya dikejar oleh orang-orang yang mengusung batu. Bersiap pula dilempar batu dari segala penjuru. Ada sosok tua, berjalan tertatih tatih memunguti batu seperti Sisiphus yang memanggul batu kemudian menjatuhkannya kembali terus menerus. Sosok itu kemudian menabur batu di atas tubuh kaku yang sudah ditimbuni batu.

Pfuih! Pertunjukan yang melelahkan. Selain karena terus menerus dicekam rasa takut terkena ayunan batu, juga menjadi sangat melelahkan karena hidup dipertanyakan dan dibenturkan lewat media batu batu. Hei, hidup kan tidak kaku seperti bongkahan batu. Hidup juga tidak bisu. Hidup justru bergerak, bebas berayun ke sana ke mari. Memuai, mengembang, mengkerut. Naik turun maju mundur.

Dan pentas teater tanpa kata karya Rachman Sabur dengan olah tubuh pemainnya yang sangat bagus berakhir dalam hening. Oh ya, ngomong-ngomong, saya menonton ”Merah Bolong” Teater Payung Hitam semalam di STSI, Buah Batu :)

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s