Terjemahan vs. Utang

Hari Jumat kemarin seorang teman meminta saya memasukkan tulisan untuk dimuat di kumpulan tulisan tentang bahasa, sastra dan budaya. Hari Senin besok „deadline“nya. Karena pekerjaan yang menumpuk hampir dua bulan belakangan ini dan masih menunggu pekerjaan yang lain (heran, kok ngga habis-habis ya kerjaannya ?!), saya tanya apakah saya boleh memasukkan tulisan yang sudah ada alias sudah jadi saja. Yang ada di kepala saya saat itu adalah tulisan-tulisan yang dibuat saat saya masih di Bayreuth. Teman saya bilang bisa. Oke, dengan entengnya saya sanggupi.

Kemarin malam, saya baru membuka-buka folder tulisan-tulisan itu dan -tentu saja- semua tulisan itu (tepatnya tulisan-tulisan yang sudah jadi itu) ditulis dalam Bahasa Jerman. Masih dengan ringan saya memilih topik yang kiranya pas untuk dikirim. Ah, hanya tinggal diterjemahkan, saya pikir. Mulailah saya baca ulang tulisan tersebut dan yakin bisa dikirim tepat waktu, karena tampaknya -sekali lagi tampaknya- tidak terlalu sulit untuk diterjemahkan.

Namun, apa yang terjadi? Saat saya mulai menerjemahkan kalimat pertama pun saya sudah mengerutkan kening dan tertegun lama. Apa ini? Kenapa kaku begini? Apa makna kata ini dalam Bahasa Indonesia? Apa istilah yang pas dan lazim dalam ranah linguistik Indonesia? Kenapa konstruksi kalimat Bahasa Indonesia saya „terdengar“ sangat Jerman (banyak menggunakan anak kalimat dan bentuk nominal)? Belum lagi saat penulisan kata benda, yang saya tulis dengan huruf awal huruf besar. Saya jadi termenung-menung sendiri dan alhasil selama tiga jam saya hanya berhasil menerjemahkan satu bagian pendahuluan saja.

Di mana letak masalahnya? Saya kan mengajar mata kuliah penerjemahan? Kok bisa sampai tidak bisa menerjemahkan? Apalagi ini tulisan saya sendiri. Terkaget-kaget saya dengan hasil terjemahan saya yang jelek dan kaku itu. Saya baca ulang dan edit lagi. Agak lumayan, tetapi tetap saja „aneh“, terutama jika dilihat dari konstruksi kalimatnya. Saya merasa, ini bukan kalimat Bahasa Indonesia. Terselip juga rasa, beberapa istilah yang saya terjemahkan sepertinya bukan istilah yang biasa digunakan dalam ranah linguistik Indonesia. Misalnya istilah natürliche Sprache atau natürlich-sprachliche Kommunikation, yang saya mengerti maknanya, tetapi tidak bisa saya ungkapkan dengan padanan istilah linguistik yang tepat dalam Bahasa Indonesia. Terus terang saya bingung dan -ini adalah masalah utama saya- saya malas untuk mencari dalam buku-buku linguistik berbahasa Indonesia. Padahal idealnya saat menerjemahkan saya menggunakan beberapa referensi, terutama saat menerjemahkan teks-teks yang khusus seperti ini. Saya tahu, karena ini pula yang selalu saya tekankan pada mahasiswa-mahasiswa saya di kelas. Alih-alih mencari teks referensi, saya malah mencari pembenaran diri dengan alasan waktu yang mendesak serta sudah lamanya saya tidak menerjemahkan teks berbahasa Jerman ke dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja itu bukan alasan.

Sebenarnya saya bisa saja membaca ulang tulisan saya tersebut untuk kemudian membuat teks baru dengan bahasa yang juga baru, bukan terjemahan. Namun, saat kemarin malam akhirnya saya berhenti di bagian pendahuluan, saya merasa tertantang untuk menerjemahkan tulisan saya sampai selesai. Saya ingin tahu apakah saya bisa „menerjemahkan“ isi pikiran saya dalam Bahasa Jerman ke dalam Bahasa Indonesia. Jika dulu saya bisa „menerjemahkan“ isi kepala orang lain ke dalam bahasa saya (tentu saja dengan riset dan proses menerjemahkan serta uji keterbacaan berulang-ulang), kenapa sekarang tidak? Jadi, tadi saya menerjemahkan lagi bagian selanjutnya. Duh, saya hampir menyerah. Sulit.

Akhirnya saya malah jadi berpikir-pikir, apa yang terjadi saat saya menulis tulisan tersebut? Bagaimana saya bisa menggunakan istilah-istilah berbahasa planet itu? Tentu saja karena saat itu saya intens membaca, mendengar dan menggunakan bahasa dan istilah dalam Bahasa Jerman. Namun, jangan sangka bahwa itu mudah dan mengalir begitu saja. Saat saya menulis teks itu pun saya mengalami „jungkir balik“ berpikir yang sama seperti yang saya alami sekarang. Saya melakukan tiga sampai empat kali proses berpikir dan bekerja. Pertama, saya membaca teks dalam Bahasa Jerman. Kemudian saya mencoba memahaminya dalam Bahasa Indonesia. Kemudian mengolahnya lagi ke dalam Bahasa Jerman untuk kemudian dituangkan ke dalam Bahasa Jerman. Saya teringat lagi bahwa tulisan yang sedang saya terjemahkan ini sudah melewati beberapa kali proses editing sampai akhirnya menjadi tulisan „jadi“. Saya juga ingat bahwa tulisan itu pernah dicoret besar-besar oleh dosen saya dan dikomentari „Katastrophe“ saking jeleknya. Tulisan itu juga pada proses-proses awal dikomentari sebagai tulisan „bukan Jerman“: orang Jerman tidak menulis begini begitu, tidak menggunakan istilah ini itu, dsbnya. Saat itu -saya ingat- saya sempat protes dengan berkata bahwa saya bukan orang Jerman, jadi biarkan saya menulis apa adanya. Biasa, itu kan hanya bentuk pembelaan diri atas ketidakmampuan saya.

Namun, seperti biasa lagi, saya juga jadi tertantang untuk membuat tulisan yang lebih „memadai“. Seorang sahabat -orang Jerman- dengan setia dan sabar menjadi teman diskusi dan tempat saya bertanya. Dia dengan suka rela mengoreksi dan mengedit pekerjaan saya, melayani pertanyaan-pertanyaan saya yang suka aneh-aneh dan berdiskusi panjang lebar tentang topik yang saya tulis. Sampai-sampai dia bilang, dia tidak perlu kuliah linguistik bertahun-tahun, melainkan cukup menjadi editor pekerjaan saya saja.

Nah, situasi yang sama terulang lagi sekarang. Saya sudah underestimate bahwa menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia akan relatif lebih mudah. Ternyata saya salah besar. Saya harus kembali mengulang proses yang saya lakukan saat saya menulis tulisan tersebut. Saya juga harus mengakui, bahwa saya sudah lama tidak „latihan“ menerjemahkan. Kadang muncul juga perasaan bahwa sekarang -setelah beberapa tahun tinggal di Jerman- saya akan bisa menerjemahkan lebih mudah lagi. Dalam beberapa hal memang mungkin benar, tetapi dalam banyak hal tidak. Saya harus selalu berlatih dengan menulis dan membaca lebih banyak lagi.

Tampaknya deadline tidak akan bisa saya lewati, tetapi saya justru ingin menyelesaikan terjemahan tulisan saya itu untuk mengingatkan saya kembali kepada pentingnya proses. Kejadian ini juga mengingatkan saya (sebenarnya saya selalu ingat :( ) kepada utang tulisan yang sudah menumpuk (semua masih dalam bentuk draft, hiks) dan makalah mahasiswa yang harus segera dikoreksi. Salah satunya adalah makalah untuk mata kuliah Übersetzung Indonesisch – Deutsch alias Penerjemahan Indonesia – Jerman. Mudah-mudahan tidak ada mahasiswa saya yang membaca tulisan saya ini, hehe. Tapi jika ada yang membaca pun tidak apa-apa, supaya mereka tahu bahwa dosennya juga manusia yang masih harus terus belajar dan berintrospeksi diri (halaah…cari pembenaran lagi, hehe).

Catatan: tulisan yang saya terjemahkan bisa dilihat di sini dan terjemahan (sementara) bisa dilihat di sini.

Advertisements

3 Gedanken zu „Terjemahan vs. Utang

  1. waah bagus bgt yaa. aku tertarik bahasa jerman soalnya.
    btw, ada yang bisa bantu aku ga terjemahin bbrp kalimat ini ke bhs jerman, please, thx..

    1) selamat tahun baru! : prosit Neujahr!
    2) lupakan semua hal buruk di tahun lalu, termasuk kesalahan saya : ???
    3) buat resolusi untuk tuhun baru : ???

    tolong aku yaa, trmksh..

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s