Eksistensialisme

Ternyata perkuliahan Franz Magnis diundur ke minggu depan. Kuliah kemarin malam membahas tema „Eksistensialisme“. Aliran filsafat, kata Pangeran Kegelapan, yang renyah seperti kerupuk udang. Lha kok bisa renyah seperti kerupuk udang (kenapa tidak seperti emping atau kerupuk yang lainnya ya?!)? Padahal bahasan eksistensialisme menurut saya lebih banyak buramnya dibandingkan terangnya. Bagaimana tidak? Gagasan pokok dari lahirnya aliran filsafat eksistensialisme adalah hidup sebagai sebuah keterlemparan begitu saja, tanpa makna dan tujuan. Hidup yang sia-sia dan tak bermakna. Hidup sebagai upaya meraih sesuatu yang tak akan pernah tercapai.*Hiks*. Pangkal tolak pengamatan aliran filsafat ini adalah manusia individual dan subjektif. Karena dalam perspektif eksistensialis, kenyataan itu adanya tergantung pada individu yang konkret dan unik dalam ruang dan waktu. „Ketidakbahagiaan mendasar”lah yang mampu mengantarkan manusia kepada penghayatan dirinya sebagai manusia secara utuh.

Yang dilihat pun adalah hal-hal yang berkaitan dengan „impact“ bahwa pengalaman mampu menciptakan suatu eksistensi partikular dalam konteks penghayatan manusia atas hidup, sehingga makna hidup itu menjadi amat spesifik dan unik. Terminologi kunci dalam filsafat ini adalah individual-self sebagai diri yang sadar, aku yang berpikir, yang serentak melibatkan kepercayaan, harapan-harapan, ketakutan, keinginan, kebutuhan untuk menemukan sebuah tujuan, serta kehendak yang bisa menentukan tindakan-tindakannya. Individu dalam konteks ini adalah individu yang setiap saat harus membuat keputusan dan menjatuhkan pilihan-pilihan serta bertanggung jawab atasnya.

Bermula dari reaksi terhadap esensialisme Hegel, filsafat eksistensialisme berkembang dengan para tokohnya seperti Heidegger, Sartre, Camus, Kierkegaard, Karl Jaspers, Gabriel Marcel, dll. Belum lagi menyebut nama-nama lain seperti Nietzsche dan Freud. Duh, semakin muram sepertinya. Jangan-jangan hidup itu sebenarnya memang muram, asing, penuh kecemasan dan ketakutan, terus menerus tidak merasa bahagia. Ah, masa? Tentu saja, menurut aliran ini, karena manusia dalam hidupnya senantiasa ada dalam kondisi „kecemasan“ eksistensial sebagai akibat dari beberapa kondisi manusiawi, yaitu memiliki kebebasan memilih apa yang perlu dalam hidup ini (dan ini membuat cemas –red), ketidaktahuan akan masa depan (ini juga membuat takut, -red lagi), kesadaran akan berlapisnya kemungkinan (wah, apalagi ini, -red juga), serta keterbatasan eksistensi yang didahului oleh dan akan berakhir dengan ketiadaan (waduh, -red lagi).

Namun, bukankah manusia juga diberikan kemampuan dan kebebasan untuk berkompromi dan mengharmonisasikan ketakutan serta harapan? Untuk memilih „baik“ dan „buruk“? Eh, jangan-jangan hal ini pun menakutkan dan mencemaskan juga? Tentu saja :)

Minggu depan: Franz Magnis. Beneran. Katanya… :)

Advertisements

10 Gedanken zu „Eksistensialisme

  1. „Gagasan pokok dari lahirnya aliran filsafat eksistensialisme adalah hidup sebagai sebuah keterlemparan begitu saja, tanpa makna dan tujuan.“ Dih, serasa gue banget. OTOH, Camus mempertanyakan: tidakkah Sisifius bahagia? Dan dengan demikian hidup menurut existentialism pun jadi bermakna. Bahkan indah.

  2. Pingback: Sartre, Eksistensialis Pencetus Koran Tanpa Iklan « The Muse

  3. Pernahkah Mbak, Dian… menemui titik absurd dlam hidup ini. Bukankah hidup ini absurd? Sayangnya, asurditas itu pun katanya karus dinikmati? Wah, gimana ini ya.

  4. Absurditas & eksistensialisme, bayi dan bapaknya. Cara barat menerjemahkan konsep „manjing ing jroning kahanan“. Selintas mirip keadaan ketika Sartre mengkritisi Descartes. Bedanya, ketika barat mendambakan tujuan & makna dalam hidup, Jawa (mungkin juga Bali dan Sunda) justru membiarkan hidup ini kosong sembari mengisinya dengan harmonisasi yang penuh dengan nuansa dekoratif. Dalam sikap, tindak tanduk & seni tradisional. Kata dalang berbobot asal Banyumas Ki Slamet Gundono „Tresna pancen angel, abote ngungkuli bumi, dhuwure ngungkuli langit“ (Cinta memang sulit, beratnya melebihi berat bumi, tingginya melebihi tinggi langit).

    Salam kemuraman,
    HM

  5. eksistensialisme seolah menjadi keniscayaan yang seanantiasa berkembang mendekati atau menjadi sesuatu yang „utuh“ pada tingkat Humanisme. daya tarik (pengaruh Lingkungan) akan mencetak psikologis yang kontekstual dikarenakan proses adaptasi, integrasi yang melahirkan bentuk baru, inovasi.
    dalam peristiwa inilah dialektika Marx teruji pada konteks sosial.

  6. Jahol Dian yang sehr freundlich

    Ich bitte dich mein unbewusste toek ngambil tulisan eksistensialismem mu yang kereen yaa.

    Buat di baca-baca…biar nambah eksistensi ku (loooh katanya eksistensi manusia cuma satu)

    Menurutku sih baca filsafat barat sebenernya ringan-ringan aja ga akan bikin hidup jadi absurd. Dasar ancangan metodologinya daah jelas; dualisme. Kayak eksistensialisme-absurdisme, thesis-sintesis, kegelapan-keterangan (nah looh). Jadi selalu ada dua hal konsepsi yang selalu dipertentangkan (salaah sendiri).

    Eksistensi yang pertama mungkin di bilang baik (Sang Maha Baik) dan yang satu lagi sebagai opponentnya (Sang Maha Jahat). Jadi ada dua ‚benda‘ dalam diri manusia.

    Menurutku satu aja daaah cukup lah. yang baik aja. lagiaan emang ada yang jahat?.

    Apa yang dibilang kejahatan atau kesalahan… sebenarnya sehadiah berupa kebaikan atau kebenaran…sayangnya kita tidak selalu menghendakinya.

    Die Problems sind: Freut ihr euch uber das Geshenck?

    Her Andi Hakim Gmbh.
    Produsen Masalah Tanpa Risalah

    Salam kenal
    email/YM
    andihakim03@yahoo.com

  7. „…(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): „Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. “ (terjemah Qur’an Surah Ali Imraan: 191)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s