Diabolisme dan Satanisme

Udara dingin. Langit yang gelap berpendar-pendar oleh kilatan cahaya dari atas sana. Hujan yang barusan turun tak terlalu deras tapi juga bukan rintik. Angin berhembus saat Pangeran Kegelapan masuk tanpa basa basi mengabarkan bahwa Raja Iblis mengutusnya untuk menggantikan Sang Raja yang tak bisa hadir karena mendadak harus bertemu dengan para petinggi Kerajaan Setan. Mungkin ada peristiwa darurat yang mengharuskan mereka bertemu. Mungkin Kerajaan Setan sedang diserang. Mungkin Kerajaan Setan sedang disorot media karena ada orang jujur yang bersedia mempertaruhkan semuanya untuk mengungkap kebenaran. Mungkin Kerajaan Setan sedang kerepotan menyiapkan jawaban untuk pertanyaan seorang ibu yang terluka karena anaknya mati ditembak. Mungkin.

Dan pertemuan di ruang tak begitu besar ini dimulai tanpa kehadiran Raja Iblis. Hanya sedikit pengantar dari Pangeran Kegelapan dan lampu pun padam. Setan-setan berhamburan keluar. Mendesak-desak. Menyelinap. Bersiasat dalam ramai dan diam. Ada sesosok tubuh indah dan tampan berpayah-payah mengeluarkan setan-setan itu dari tubuh seorang gadis yang sudah bersimbah keringat. Setan ternyata tak berkutik di tangan sosok indah dan tampan itu. Hey, tapi mengapa si tubuh indah dan tampan itu tak merasa senang sedikitpun? Dia tak bahagia. Dia memohon pada malaikat penjaga untuk mengambil nyawanya saja. Dia lelah. Dia hanya manusia yang membutuhkan setan untuk bisa mengerti bahwa kebenaran sejati itu ada dan harus diperoleh dengan perjuangan yang melelahkan. Dia butuh malaikat untuk bisa mengerti bahwa pada suatu titik dia pun melakukan apa yang dilakukan setan-setan itu. Sepertinya dia dikutuk untuk hidup dalam dunia yang saling tarik menarik. Jiwa dan tubuh. Benar dan salah. Baik dan buruk. Hidup dan mati.

Kutukan atau anugerah? Tidakkah kedua kutub yang saling bertentangan itu diperlukan untuk keseimbangan? Tidakkah oposisi biner itu perlu untuk dinamika? Dan tidakkah hidup itu sendiri itu pun adalah dinamika? Sehingga jahat itu ”perlu” untuk mengerti  makna kebaikan yang sejati. Begitu juga baik itu ”perlu” untuk mengerti bahwa ada yang jahat. Paling tidak, baik-buruk itu adalah perkara yang kompleks, saling berkait bahkan mungkin juga saling mengandung.

Mengapa ada setan dan kejahatan? Karena semua itu ”perlu” bagi manusia –pada dasarnya- untuk ”berkembang”, menjadi matang dan bijak menuju taraf malaikatwi (kalau ada manusiawi, kenapa pula tidak ada setanwi dan malaikatwi?! –red). Bukankah untuk menjadi manusia yang fithri dia harus berpuasa untuk melawan godaan setan dan hawa nafsu? Bukankah manusia tidak akan pernah tahu bahwa dia baik jika realitas hidup semuanya ”baik-baik saja”? Bukankah manusia pun punya tubuh agar bisa mengalami roh dengan lebih otentik?

Apapun bentuk pertentangannya. Bagaimana pun setan-setan itu muncul dalam berbagai manifestasinya sebagai wakil dari segala bentuk kekuatan dan energi jahat untuk mengintervensi jiwa dan sekadaran manusia. Di mana pun setan-setan itu bersembunyi dan diambil alih oleh wilayah bawah sadar: trauma, kecemasan, paranoia, depresi dan impuls-impuls bawah sadar lainnya. Apapun itu, semua tetap dibutuhkan untuk mencapai sisi baik dari hidup dan kemanusiaan. Untuk melihat dan mengalami otentisitas kebaikan Sang Maha Baik.

Apakah hidup kemudian ”tetap” menjadi kutukan atau anugerah? Ketika hanya manusia yang diberi kesempatan untuk mengalami keduanya dalam hidup. Di dunia. Ketika semua kesempatan diberikan untuk mengalami dan menemukan Sang Maha Otentik. Tidak hanya dalam ”kesunyian” atau lewat ”pengasingan diri” dari segala ”kekuatan jahat”, tetapi lewat ”penemuan” yang dirasakan dan dihayati oleh tataran pengalaman. Lewat dinamika dari tegangan-tegangan yang terus muncul. Hanya di sini. Di dunia. Dalam hidup.

Jadi, kuliah minggu depan: Komunisme, Marxisme, Sosialisme. Franz Magnis yang akan datang. Duh, „setan“ lagi deh :)

Advertisements

Ein Gedanke zu „Diabolisme dan Satanisme

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s