Empirisme dan Positivisme

Judul lengkap makalah yang disajikan oleh Budiono Kusomohamidjojo adalah „Empirisme dan Positivisme: Mengungkap Relevansi Aktual“. Praktisi hukum (seorang pengacara berpraktek di Jakarta) sekaligus guru besar Fakultas Filsafat Unpar ini mengungkap kronologi munculnya empirisme, dilanjut dengan skeptisisme, perkembangan empirisme di abad pertengahan, dilanjutkan dengan tegangan antara empirisme versus rasionalisme. Menarik juga ketika beliau selanjutnya membahas empirisme Inggris dengan tokoh-tokohnya yang berpandangan cukup ekstrem dan masih diadaptasi sampai sekarang, walaupun banyak pertentangan di dalamnya.

Bicara tentang rasionalisme, tidak bisa tidak untuk tidak bicara tentang Sintesis Immanuel Kant. Dalam beberapa hal, Pak Budi yang seorang Doktor der Philosophie dari Staatsuniversität Würzburg ini -menurut saya- sangat Jerman dan Kantian. Terlihat dari makalahnya :) Bahasan berikutnya adalah positivisme Perancis dan yang tidak terlalu banyak dibahas karena waktu hampir habis adalah positivisme abad ke-20. Der Wiener Kreis yang memrakarsai pandangan „neo-positivisme“ sebagai upaya lanjutan „mendamaikan“ empirisme dan rasionalisme hanya dibahas sekilas. Untuk tahu sedikit lebih banyak, baca saja makalahnya Pak Budi atau bisa juga baca di sini. Bapak ini sudah menuliskannya :)

Salah satu bagian makalah yaitu tentang positivisme dalam hukum dilewat juga, padahal menurut saya ini mungkin akan jadi bahasan paling menarik mengingat Pak Budi adalah seorang praktisi hukum juga. Saya ingin tahu lebih banyak, bagaimana suatu kasus hukum dilihat dari sudut filsafat. Pertanyaan dan bahasan ini memang akhirnya muncul dalam sesi diskusi, tapi lagi-lagi karena keterbatasan waktu bahasannya menjadi tidak terlalu mendalam. Mungkin perlu ada sesi khusus atau mungkin seminar khusus untuk membahas atau mengupas beberapa kasus hukum dari sudut filsafat.

Sesi diskusi berjalan cukup hangat, walaupun ada beberapa ketidakpuasan dari sana-sini, sehingga ada yang sempat „panas“. Tidak ingin menyoroti itu, yang ingin saya soroti adalah beberapa komentar Pak Budi untuk beberapa pandangan ekstrem seperti pandangan Hume, Locke dan Comte yang sering diadaptasi begitu saja tanpa memerhatikan konteks di mana kita berada. Seringkali kita terlalu sering mengagungkan positivisme dan rasionalisme Barat (diasumsikan ada „Barat“ dan „Timur“ :)) dengan mengabaikan sistem dan cara berpikir Timur yang acapkali mencampurbaurkan tahap-tahap pencapaian pengetahuan sebagai proses yang mengalir begitu saja, tanpa merasa perlu menggunakan pola pikir dialektik. Padahal pada akhirnya kita sampai pada banyak batasan, termasuk batasan rasio. Saya selalu setuju bahwa semakin banyak kita „merasa“ tahu, sebenarnya semakin banyak pula yang kita tidak tahu. Mungkin bahkan lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui (natürlich :)).

Anyway, setelah dua kali tidak ikut kuliah, kuliah kemarin malam memberikan beberapa „pencerahan“ dan menyisakan banyak pertanyaan. Seperti biasa :) Dan ini yang membuat „hidup lebih hidup“ (kalau kata iklan).

Minggu depan: diskusi film dengan tema diabolisme dan satanisme. Pemandunya? „Si Raja Setan“. Heh heh heh.

Advertisements

2 Gedanken zu „Empirisme dan Positivisme

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s