Mak Ebah

Dering telefon jam 23 semalam, mengingatkan saya pada sosok tua berwajah bening dan teduh. Sosoknya kecil dan tubuhnya beberapa tahun terakhir ini semakin membungkuk. Hampir menyentuh tanah, kata ibu saya. Sudah tak bisa apa-apa lagi, kata bapak saya.

Terbungkuk-bungkuk berjalan pelahan beliau kunjungi rumah kami setiap hari Minggu pagi. Saat kami masih jadi tetangganya di Gatot Subroto, bahkan saat kami sudah pindah ke Lengkong, beliau masih setia mengunjungi kami. Dengan begitu tubuh bungkuknya sering saya temui berjalan pelahan menuju tempat pemberhentian angkot. Kami pernah memintanya untuk tidak datang lagi, khawatir dengan kesehatannya dan kondisi tubuhnya yang merenta. Beliau tidak pernah mau, „Melang ka Bapa“, katanya. Khawatir pada Bapak saya. Ya, karena Bapak saya beliau setia mengunjungi kami. Bapak saya sudah menjadi „anaknya“.

Perempuan tua itu guru mengaji kami. Tidak dari awal mengajar kami, karena kami sudah bisa. Namun, biasalah, kami semua pemalas. Saya dan adik-adik saya suka mencari-cari alasan untuk memperlambat atau kabur tidak mau mengaji. Pura-pura tidur lah, asyik nonton TV lah, bertemu teman lah, semua kami jadikan alasan. Kalau tak ada alasan lagi, kami mengaji dengan bacaan yang dilambat-lambatkan dengan nada mengantuk dan malas, tentu sambil menguap pula. Namun, beliau tetap dengan sabar duduk di sebelah kami, dengan tubuh membungkuk memperhatikan apakah bacaan dan tajwid kami sudah benar.

Itu dulu ketika kami kecil. Kami beranjak dewasa, lain lagi alasannya. Sibuk dengan urusan kampus dan pekerjaan. Namun, beliau masih dengan setia duduk setiap Minggu pagi di sebelah kami, jika kami ada di rumah. Kali ini kami mengaji dengan cepat-cepat. Jika kami tak mendengar komentarnya atau kami tak dihentikan walaupun sudah berlembar-lembar membaca, kami tahu, beliau pasti tertidur dengan kepala tertunduk. Biasanya kami bangunkan dengan suara pelan. Ya, beliau memang sudah semakin tua. Namun, beliau masih bersetia datang setiap Minggu pagi.

Beberapa tahun lalu kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk beliau datang. Jika bukan Bapak saya yang memintanya untuk tak datang lagi dan meminta beliau untuk tak mengkhawatirkannya lagi, mungkin beliau masih akan terus datang. Terakhir kali saya bertemu ketika saya „mudik“ tahun 2004 lalu. „Neng Dian ka Jerman teh siga jalan ka cai“, katanya, karena saya hanya enam minggu di Bandung untuk kemudian kembali lagi ke Jerman. Pandangan matanya begitu teduh dan memandang bangga pada saya.

Dua tahun lalu saya merasa begitu berterima kasih padanya. Pada semua yang sudah diberikannya kepada kami, saya terutama. Pada waktu itu Nina meminta saya mengajarinya membaca Al Quran. Suatu kehormatan untuk saya. Dan saya teringat pada beliau. Pada sosok membungkuk di samping saya. Membimbing saya membaca kalam suci tuntunan hidup. Saat itu Nina meminta saya. Saya di sampingnya, juga membungkukkan tubuh. Juga mengantuk saat Nina sudah lancar membaca. Saya jadi tahu rasanya. Tiba-tiba saja saya merindukannya. Saya sampaikan salam untuknya yang sudah tidak bisa apapun lewat orang tua saya.

Dering telefon jam 23 semalam merangkum lagi semua kenangan. Beliau memenuhi panggilan Sang Maha Sayang yang selalu beliau rindukan. Mata teduhnya terpejam tenang, wajahnya bersih. Tubuhnya lurus terbaring. Tak bungkuk lagi. „Wilujeng angkat, Mak“.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s