Kafka

„Menschen werden schlecht und schuldig, weil sie reden und handeln, ohne die Folgen ihrer Worte und Taten vorauszusehen.“ (Kafka)

Saya jadi teringat Kafka. Bukan karena cerpen ”Heimkehr”-nya saya jadikan salah satu bahan untuk mata kuliah penerjemahan. Hanya, tiba-tiba saja saya jadi teringat Kafka. Bukan pula karena ”Der Prozess”-nya sedemikian gelap. Saya hanya tiba-tiba teringat pada suatu lepas tengah hari di awal Mei. Gerimis. Tidak terlalu dingin. Saya baru saja turun dari Pražský Hrad kemudian menyusuri Karlův most yang dibangun tahun 1357 dan masuk ke lorong-lorong tua dengan jalanan berbatu kali di kota Praha. Tujuan saya: Námèsti Franze Kafky 1. Rumah Kafka yang dijadikan museum. Berdasarkan peta, letaknya tak jauh dari Staromìstské Námìstí yang jadi alun-alun tua kota Praha dan Josefov –Jüdisches Viertel-.

Kafka

Saya sampai di Námèsti Franze Kafky. Jalannya tak terlalu besar. Gedung-gedung tua khas Praha di sekelilingnya. Gerimis turun tapi tak mengganggu. Berulang kali saya melihat peta yang saya bawa plus catatan tambahan dari Michaela. Di mana rumah itu? Tak ada tanda-tanda sama sekali. Saya yakin saya ada di tempat yang benar. Saya berkeliling sebentar, melihat-lihat. Belum mau bertanya. Saya membayangkan ada papan nama atau apapun yang menunjukkan rumah salah seorang pengarang besar bernama Kafka. Namun, tak ada apapun. Saya hanya melihat Mc.Donald. Saya masih tidak mau bertanya.

Perut saya sudah menuntut untuk diisi. Mampir ke Mc.Donald sebentar. Duduk menghadap ke jendela luar. Masih tetap dengan mata yang mencari. Tak ada yang saya maksud. Selesai, keluar. Saya hampir menyerah, tapi tetap tak mau bertanya, walaupun dengan Bahasa Jerman yang sebenarnya bisa „menyelamatkan“ saya di Praha. Saya masih ingin mencoba sekali lagi mencari rumah itu. Saya melangkah dan melihat ke atas salah satu gedung di belokan dengan papan nama: Námèsti Franze Kafky dan hey! di dinding terpasang patung kepala seorang laki-laki berwajah tirus: Franze Kafky alias Franz Kafka. Ah, sebelumnya saya kan sudah melewati rumah itu beberapa kali, kenapa bisa tidak terlihat?

Bergegas masuklah saya ke rumah yang sekarang ini dijadikan Museum Franz Kafka. Rumah itu tidak terlalu besar dan hanya lantai dasar yang dijadikan tempat untuk memamerkan potret ”kehidupan” Kafka. Warna hitam, putih, kelabu mendominasi ruangan. Kesan yang saya dapat di ruangan itu pun demikian. Gloomy. Apakah memang hidup Kafka sudah sedemikian ”kelabu”nya hingga kesan yang saya dapatkan pun demikian? Apakah Kafka memang sedemikian ”kesepian”nya, hingga dinginnya ruangan itu pun begitu terasa? Apakah Kafka memang sedemikian ”tak nampak” bahkan patung dirinya pun terlewat begitu saja?

Dan hari ini tiba-tiba saja saya teringat lagi pada Kafka. Pada sosok kurus dengan wajah tirus. Pada sosok yang selalu merasa sendiri dan merasa tak pernah dimengerti oleh orang lain. Pada sosok yang menuliskan kalimat di atas: manusia menjadi sosok yang buruk dan bersalah, karena mereka bicara dan bertindak tanpa memikirkan dan melihat akibat yang akan muncul dari kata-kata dan perbuatannya.


Advertisements

2 Gedanken zu „Kafka

  1. Der wahre Weg geht über ein Seil,
    das nicht in der Höhe gespannt ist,
    sondern knapp über dem Boden.
    Es scheint mehr bestimmt
    stolpern zu machen
    als begangen zu werden.

    das ist mein Lieblingszitat von Kafka, vieleicht gefällt es dir ja

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s