Djokdja #2

Borobudur adalah tujuan saya pagi itu. Sengaja saya berangkat pagi-pagi sekali, karena takut hujan turun menjelang siang dan saya tidak ingin bertemu terlalu banyak orang di sana. Langit mendung sejak pagi. Jalanan di hari Sabtu pagi itu pun sepi, tapi saya tetap bersemangat pergi. Di kejauhan, Merapi tampak mengepulkan asapnya.

Borobudur memang sepi, walaupun sudah dibuka sejak jam 6 pagi. Hanya tampak beberapa mobil terparkir. Udara cukup sejuk karena mendung dan angin semilir yang lembut membelai diri. Sebentar saya tatap dari kejauhan bangunan yang menurut saya kok seperti mengecil. Ah, saya memang suka berpikiran aneh-aneh, mana mungkin Borobudur mengecil. Saya yang tumbuh, walaupun tak banyak pula rasanya.

Saya naiki satu per satu tangga batu yang masih juga membuat kagum. Saya kelilingi walaupun relief-reliefnya tak saya perhatikan sedetil dulu. Menuju ke atas, mengambil beberapa gambar, memandang kehijauan nan luas dari puncak candi. Pagi yang indah dan Borobudur juga tetap indah, semakin terasa karena mungkin saat itu masih sepi. Saya bisa sepuasnya menikmati keindahan itu. Setelah puas, saya turun, dan saya kok semakin merasa yakin bahwa Borobudur mengecil. Keyakinan yang dipaksakan.

Pintu keluar kompleks Candi Borobudur dibuat sedemikian rupa berbentuk labirin yang kiri kanannya adalah kios para pedagang souvenir. Tak ramai, tak banyak yang ditawarkan dan tak ada yang ingin saya beli. Orang Jogja masih kreatif, orang Jogja masih ulet, orang Jogja masih ramah, tetapi orang Jogja memang harus bertahan hidup. Pemandangan yang ada adalah banyaknya pengemis yang ada dalam sejengkalan jarak. Itu yang berubah dari Jogja, atau mungkin tidak juga.

Dari Borobudur saya melanjutkan perjalanan ke Prambanan. Hujan gerimis saat saya tiba di sana. Suasana sepi semakin terasa. Kompleks candi ditutup untuk umum karena kerusakan yang parah saat gempa. Pengunjung hanya bisa melihat dari batas aman yang ditentukan, mengingat kondisi candi yang rawan runtuh. Runtuhan batu-batu candi masih dibiarkan bergeletakan seperti awal jatuhnya. Ada rasa miris melihatnya. Sudah hampir setahun sejak gempa, dan sudah hampir 4 tahun ketika terakhir kali saya mengunjungi Prambanan. Namun, jika Sang Penguasa Alam sudah berkehendak, apapun terjadilah.

Tak lama saya di sana, saya lanjutkan perjalanan ke Kota Gede, bagian tua Kota Jogja, jaman Mataram Kuno. Tak banyak pula yang bisa saya lihat di sana, karena jalan kecil dengan toko-toko perak bergaya bangunan khas Kota Gede ditutup karena ada yang meninggal. Tak apa. Setelah beristirahat sebentar untuk shalat dan makan, saya lanjutkan lagi perjalanan saya. Kembali ke kota. Tujuan kali ini tidak termasuk Kraton, saya ke daerah K.S. Tubun. Apalagi kalau bukan Bakpia yang menjadi incaran. Ini makanan kesukaan saya dan keluarga. Menuju toko langganan, setelah itu saya kembali ke Malioboro. Saya masih senang menyusuri jalan itu. Setelah puas, saya kembali ke Cik di Tiro dengan becak.

Cukup melelahkan hari itu.Bayangan mandi air panas sudah memenuhi kepala saya. Tak terasa keesokan harinya saya sudah harus kembali lagi ke Bandung. Masih ingin tinggal sebenarnya. Namun, hidup harus dimulai lagi. Malam harinya saya sempatkan diri berjalan-jalan di sekitar Cik di Tiro dan UGM. Menikmati Sabtu malam yang sedikit terasa ramai.

Bangun pagi badan tak terasa segar. Sedikit demam dan mual. Enggan juga beranjak dari tempat tidur dan selimut yang hangat. Dipaksakan karena memang harus pulang. Dan sepanjang jalan menuju Bandung, saya tak lagi emotionally collaps, melainkan physically collaps. Seperti biasa, saya suka overestimate dengan kondisi tubuh saya. Rasanya saya hanya mimpi sudah ada di kota yang menjadi setengah bagian diri saya. Perjalanan panjang dan saya sudah ada di Bandung lagi. Di rumah saya juga. Jogja membantu memulihkan kondisi psikis, tetapi fisik saya ternyata ikut berontak. Bandung akan membantu memulihkannya. Saya akan kembali bertemu mahasiswa-mahasiswa saya, kembali mengajar, kembali bertemu dengan manusia-manusia dengan dunia yang berbeda-beda. Satu manusia adalah satu dunia. Dan saya akan bertemu „banyak dunia“. Betapa saya adalah orang yang beruntung.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s