Djokdja #1

Setelah dua minggu terkena „emotionally collaps“, Jogja tetap menjadi pilihan menarik untuk sekedar menenangkan diri sejenak. Untuk kesekian kalinya, jadilah akhir pekan kemarin saya berangkat ke sana. Ke bagian diri yang pernah saya tolak habis-habisan. Namun, diri adalah diri. Tak bisa saya lepaskan satu dari yang lain. Dan Jogja memang tak pernah membiarkan saya lepas darinya.

Jadi saya tiba di Jogja. Lepas tengah hari setelah hujan reda. Perjalanan cukup panjang tak bisa membiarkan saya lelah. Bagaimana mungkin saya lelah, jika sepanjang jalan mata saya dimanjakan oleh gunung dan hamparan sawah, sungai dan langit yang cerah. Ada rasa yang melonjak-lonjak saat memasuki kota yang terakhir kali saya kunjungi 3,5 tahun lalu. Dua minggu sebelum keberangkatan saya ke Bayreuth, saya merasa „harus berpamitan“ pada kota ini.

Saya ada di Jogja lagi. Tidak menuju Malioboro seperti dulu-dulu, tetapi menuju Jl. Cik di Tiro ke arah UGM. Saya ingin mencoba suasana lain. Dan pilihan saya tepat. Penginapan yang dipilih cocok benar dengan suasana hati saya saat itu. Sebuah rumah bergaya Belanda, dengan halaman luas dan teras yang sudah dibangun ulang menjadi resepsionis. Bukan resepsionis yang kaku. Hanya meja rendah menyudut dengan satu komputer. Di halaman ada kursi-kursi kayu yang nyaman dengan taman yang asri. Di dekat pintu masuk ada satu meja consolle dengan dua foto keluarga, satu buku tamu dan satu setrika arang model lama (dulu nenek saya menggunakannya). Di bawahnya ada hiasan bebek-bebek dari kayu. Di teras samping ada empat kursi rotan yang mirip dengan kursi rotan di rumah nenek saya (sampai sekarang pun kursi itu masih ada). Selain itu juga ada dua kursi kayu di sana.

Diterima dengan ramah, saya kemudian diantar ke lantai atas menuju kamar saya. Saya masuk rumah, bukan penginapan. Diiringi suara gending lamat-lamat, saya masuk ke ruang tamu dan ruang makan yang sangat cozy, dengan nuansa Jawa yang kuat. Foto-foto keluarga si pemilik penginapan berpadu harmonis dengan foto-foto Borobudur, Prambanan, Tugu, Kraton, Tamansari dan Malioboro, juga dengan beberapa lukisan tua. Tidak membuat kesan penuh, malah artistik. Kursi-kursi dan meja-meja kayu bernuansa coklat tua mendominasi ruangan berjendela besar bentuk oval. Saya naik dan terperangah senang menghadapi ruangan di hadapan mata saya.

Lantai atas adalah ruang terbuka yang hanya dibatasi oleh satu tiang kayu penyangga dan dua sofa empuk bergaya Belanda. Satu set berwarna krem dan satu set berwarna coklat tua. Nuansa coklat dan krem memang tampak di mana-mana. Langit-langit rumah yang tinggi membuat ruangan semakin terasa nyaman. Di dinding menghadap tangga ada satu bufet rendah yang dijadikan tempat buku. Ya, buku! Bufet itu penuh oleh buku-buku. Tak terlalu memedulikan pengantar saya, saya segera menuju bufet itu dan melihat-lihat koleksi buku di sana. Beberapa set ensiklopedi tua jaman Belanda, buku-buku roman terbitan Balai Pustaka, komik pewayangan R.A. Kosasih, Senopati Pamungkas, dan banyak lagi. Not bad. Saya sudah bisa membayangkan betapa asyiknya membaca buku di ruang yang nyaman, duduk di sofa yang empuk di sudut dengan lampu baca sambil menikmati Jogja yang saat itu mulai hujan lagi.

Namun, saya harus masuk kamar. Kamar yang juga nyaman. Dachboden. Nuansa coklat dan krem masih terasa. Nyaman. Fasilitas lengkap, kamar mandi pun bersih. Rasanya saya ingin segera membersihkan badan dan meluruskan tubuh sejenak sebelum mulai „menyapa“ Jogja.

Tujuan saya malam itu adalah Malioboro. Jalan yang selalu saya sukai. Entah kenapa. Seperti biasa saya susuri Malioboro dari arah Stasiun Tugu menuju Kraton. Ada yang berbeda. Malioboro terasa sepi. Sepi karena jalan tak macet dan tak banyak orang lalu lalang, dan sepi yang „sepi“. Saya pikir mungkin karena hari Jumat, tapi rasanya tidak juga. Jogja tak pernah „sepi“ -menurut saya-. Saat itu tidak. Mungkin ada ekses dari gempa 27 Mei 2006 lalu, kemudian angin puting beliung yang menimpa Jogja beberapa minggu sebelumnya, atau mungkin karena Jogja sekarang sudah menjadi „kota“. Saya tidak tahu. Saya hanya merasakan Malioboro yang berbeda dengan Malioboro yang memikat hati saya 14 tahun lalu. Malioboro yang sama yang masih memikat saya 5 tahun lalu. Saat saya bisa dengan nyamannya duduk dan berbincang dengan para pedagang atau sekedar orang yang lewat di sana. Malioboro sedikit berubah 4 tahun lalu. Perubahan yang cepat. Dan Malioboro kemarin adalah kota yang „sepi“.

Bagaimanapun Malioboro tetap Malioboro. Masih ada sisa-sisa keramaian dengan keramahan yang masih terasa walaupun samar. Masih terlihat sedikit geliatnya, walaupun sudah melemah seiring dengan banyaknya pengemis -tua dan muda, lelaki dan perempuan- hanya setiap selang beberapa langkah. Malioboro masih berusaha ceria dengan pengamen jalanannya, walaupun tanpa pesona yang khas.

Saya makan malam di sana. Lesehan. Menikmati sedikit malam dan sisa-sisa Malioboro yang masih bisa saya rasakan. Tidak terlalu kecewa, karena saya tidak sedang ingin bermelankoli dengan masa lalu. Hidup itu dinamis dan punya banyak sisi. Jika saya bisa menikmati Jogja yang dulu, mengapa tidak pula kini?

Saya kembali ke Cik di Tiro. Hangatnya air yang mengguyur badan saya langsung menyerap dan terasa sampai ke seluruh tubuh dan jiwa saya. Seluruh penat seolah terbasuh. Dan itu terasa saat saya bangun keesokan harinya saat adzan shubuh. Saya hanya merasa begitu segar dan bahagia. Rasanya saya ingin melompat-lompat. Dan itu saya lakukan.

Sarapan pagi Nasi Gurih disediakan. Ditambah berita: hari Jumat siang, angin puting beliung melewati Jogja lagi. Berhenti tak lama sebelum kedatangan saya. Pantaslah saya merasakan „keheningan“ dan „sepi“ serta bekas hujan yang „aneh“. Ada korban, katanya (dan begitu juga yang termuat di koran lokal). Siapa? Ayam-ayam yang kandangnya berantakan diterjang angin. Ayam-ayam itu mati. Mau tak mau saya tersenyum juga. Bahkan dalam musibah pun, kita memang masih harus bisa tersenyum.

Bersambung.

Advertisements

2 Gedanken zu „Djokdja #1

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s