Jakarta

Saya tidak pernah suka Jakarta. Jangan tanya alasannya, karena bisa banyak saya ciptakan. Tentu saja saya tidak bisa menghindar darinya. Untuk urusan macam-macam misalnya. Jika tak terlalu penting, saya selalu usahakan untuk segera pulang di hari yang sama. Lima hari adalah waktu terlama. Cuma lima belas menit pun pernah. Datang hanya untuk sebuah urusan, kemudian segera pulang.

Saya tidak pernah suka Jakarta. Tapi saya selalu menikmati perjalanan menuju ibu kota.  Gunung, sawah, tebing dan jembatan. Bisa-bisa pandangan saya lekat tak lepas. Setidaknya itu membawa sedikit kesenangan, sebelum saya masuki ibu kota yang panas penuh gegas dan gesa.

Saya tidak pernah suka Jakarta. Kota yang selalu menarik orang datang untuk bermacam tujuan. Juga saya, walaupun hanya untuk sebuah urusan. Bukan untuk tinggal dan kemudian menetap. Dia bukan untuk saya. Saya pun tak mau ada untuknya. Jakarta hanya persinggahan sementara sebelum saya kembali pulang. Tak peduli siang atau tengah malam. Jakarta lebih suka saya tinggalkan. Tak ada yang menarik saya untuk berlama-lama di sana.

Saya tidak pernah suka Jakarta. Walaupun untuk banyak orang hidup dimulai di sana. Namun, tidak untuk saya.  Hidup saya di sini -untungnya- :)

Advertisements

5 Gedanken zu „Jakarta

  1. Halo mbak,
    Saya kok kadang malah kangen Jakarta ya? Tempat saya lahir dan besar di sana. Jakarta yang riwuh, macet, dan nggak manusiawi (kata suami saya) tapi kok ya ngangenin ya? :)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s