Slawen

Slawen (dilafalkan: slaven) atau Slavia adalah penanda untuk sekelompok masyarakat yang tinggal di daerah Eropa Timur dan sebagian kecil Eropa Tengah (ke arah Timur), yang memiliki kemiripan bahasa, asal usul, budaya dan tata cara hidup. Slawen juga menjadi penanda kelompok bahasa yang termasuk ke dalam golongan utama rumpun bahasa Indogerman, di samping kelompok bahasa German, Roman und Keltik.

Negara-negara yang didominasi oleh kelompok masyarakat (dan bahasa) Slavia ini misalnya Rusia (Российская Федерация), Ukraina (Україна), Polandia (Rzeczpospolita Polska), Republik Ceko (Česká republika), Belarus (Рэспубліка Беларусь), Slowakai (Slovenská republika), Slovenia (Republika Slovenija), Kroatia (Republika Hrvatska), Serbia (Република Србија), Montenegro (Република Црна Гора), Bulgaria (Република България), Republik Macedonia (Република Македониjа), dan Bosnia-Herzegovina (Босна и Херцеговина). Kelompok masyarakat Slavia juga hidup menjadi minoritas di Kazakhstan (Қазақстан Республикасы), Moldavia (Republica Moldova), Lithuania (Lietuvos Respublika), Islandia (Eesti Vabarik) dan Latvia (Latvijas Republika).

Di Jerman hidup juga sekelompok minoritas masyarakat (dan berbahasa) Slavia, yaitu masyarakat Sorben atau Serbja dalam Bahasa Sorbis Hulu atau Serby dalam Bahasa Sorbis Hilir atau dalam Bahasa Latin Surbi, Surabi atau Sorabi. Masyarakat ini memiliki hak-hak istimewa (seperti pemasangan papan nama dua bahasa). Mereka tinggal di daerah Lausitz. Selain itu minoritas kelompok masyarakat Slavia hidup pula di Austria.

Bukan, bukan Slawen di Eropa Timur yang ingin saya tulis di sini, melainkan Slawen di sebelah timur Jawa Barat, yaitu Slawi. Judulnya maksa: Slawen adalah bentuk jamak dari Slawi. Ya, perjalanan akhir pekan saya kemarin adalah ke daerah Slawi, ibukota Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Daerah yang terkenal karena pabrik teh-nya, walaupun di daerah itu tidak ada perkebunan teh sama sekali, melainkan perkebunan tebu. Pabrik gula tentu ada juga, didirikan pada jaman Belanda dan dioperasikan penuh kembali oleh Pemda Tegal pada tahun 1951. Kemarin, saat saya ke sana, pabrik itu masih belum beroperasi karena musim panen tebu belum tiba. Ladang-ladang tebu memang masih bernuansa hijau muda. Indah.

Hangatnya fajar pagi yang membelai lembut kulit saya terasa mulai dari Bandung sampai daerah Majalengka. Jalan berkelok-kelok didominasi warna hijau tua mulai berubah saat memasuki daerah Cirebon melewati Brebes, masuk ke Tegal dan terus ke Slawi. Sejauh mata memandang hanya lapang. Nuansa kehijauan dibatasi biru langit yang cerah pagi menuju siang itu sangat menenangkan. Perkebunan bawang merah, diselingi ladang-ladang tebu adalah pemandangan yang saya temui sepanjang jalan. Alam terasa bergerak hening, seiring laju mobil yang membawa saya menuju matahari. Kereta api yang bergerak berlawanan arah di sebelah pinggir jalan juga seolah bergerak hening. Perpaduan jalan, rel dan tebu. Indah.

Baru kemarin saya melewati sebagian jalur pantai utara Jawa saat matahari bersinar. Biasanya saya melakukan perjalanan malam hari atau menggunakan jalur selatan untuk menuju ke sebagian asal usul saya. Tengah hari saya sampai di Dukuh Pangkah Sabrang Slawi. Dukuh yang berada di tengah-tengah perkebunan tebu. Dukuh yang tenang dengan orang-orang ramah bercakap dengan dialek Banyumasan. Indah.

Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, saya berkeliling Kewedanan Pangkah. Menyuruk sela-sela tebu, jagung dan singkong. Melihat-lihat pabrik teh (tentu saja sebagai Teetrinkerin saya harus ke sana). Memandang sawah sejauh mata memandang. Nuansa hijau muda. Indah.

Senja menjelang, berkotak-kotak teh sudah di tangan, saya pulang. Kembali menuju matahari. Kali ini menuju mentari di ufuk barat. Menyempatkan diri membeli bawang pada petani yang beranjak pulang sambil menuntun sepeda. Tak lama hujan seolah tercurah dari langit yang sudah cukup lama menghitam. Kilatan-kilatan dari langit berlomba mencapai tanah. Gemuruh guruh bersahutan dengan curahan air yang kemudian menjadi genangan. Saya memandang ke luar. Ada getaran aneh menjalari hati saya. Pesona hujan, petir dan guruh di tengah alam yang begitu terbuka seolah tak berbatas. Indah.

Slawi yang saya kunjungi akhir pekan kemarin memang bukan Slawen di belahan bumi utara sana. Namun, keduanya tetap indah. Keindahan yang berbeda. Keindahan yang dinikmati dengan cara yang berbeda pula. Keindahan yang membawa getar dan pesona yang berbeda. Keindahan berbeda yang berawal dari keindahan yang sama. Keindahan yang hidup dalam hidup.

Bandung, 2801007

Advertisements

5 Gedanken zu „Slawen

  1. Tulisan ini memberi inspirasi sbb:
    1. Aku harus ke Slawi juga
    2. Aku harus berhenti mencampuradukkan tulisan berhuruf latin dengan tulisan berhuruf sirilik, soalnya ternyata bikin pusing: huruf latinnya jadi susah kebaca.
    3. Orang Bosnia juga menulis dengan huruf sirilik (hah???)
    Dan mengingatkan bahwa:
    1. Di abad yang cerah, orang2 Slav gemar menjelajah. Di abad yang gelap, mereka jadi tentara bayaran dan budak yang dikirim ke mana2. Kata ’slave‘ — budak — berasal dari nama etnik Slav yang di abad tertentu banyak jadi budak di mana2.
    2. Soekarno pernah bilang bahwa orang Slav keren2 karena bercampur baur dengan etnik lain. Di daerah balkan, kata si beliau, dari 9 wanita, 10 di antaranya pasti cantik.

  2. Inspirasi:
    1. Tidak terlalu buruk untuk dipertimbangkan
    2. Hehehe, sengaja. Apalagi aku…pusing nian….
    3. Ngga juga. akal-akalannya orang serbia aja kali. bukannya mereka (serbia -red) pakai dua tulisan (latin dan cyr.)?, sedangkan orang bosnia dan kroatia pakai tulisan latin?
    Ingatan:
    1. yup. konon kemudian diambil oleh orang yunani jadi kata „skyleúo, skyláo“, yang artinya tawanan perang
    2. hehehe, bisa aje si bapak…

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s