Luxurious Things

Sakit membawa berkah itu berlaku untuk saya, karena saat sakit saya justru bisa melakukan banyak hal yang hampir tidak pernah bisa saya lakukan (dengan tenang -red) di saat sehat. Contohnya: membaca buku-buku yang sudah dibeli tapi biasanya belum sempat dibaca, menikmati teh dengan berbagai macam rasa dan aroma, atau diam di rumah sambil ngenet seharian (gotcha!). Ketiga hal itu termasuk beberapa hal luxus setelah beberapa bulan ada di Bandung (hey, 3 tahun di Bayreuth itu kan „hanya“ liburan :) ).

Jadi, Sabtu akhir tahun kemarin akhirnya saya tumbang juga, setelah gejalanya terasa seminggu sebelumnya. Seperti biasa gejala itu saya abaikan, kalah oleh acara jalan-jalan dan mengajar. Sebenarnya malam pergantian tahun memang sudah saya niatkan untuk diam di rumah, tapi tentu saja tanpa niatan overdosis ventolin yang membuat badan terasa ringan melayang-layang dan berselimut tebal karena gigil demam. Justru saat melayang-layang itu (saat terompet, kembang api serta petasan bersahutan) saya menyelesaikan „Der Dativ ist dem Genitiv sein Tod – 2. Folge“-nya Bastian Sick (buku pertamanya sudah saya baca beberapa bulan lalu). Sebelumnya saat batuk dan demam, saya menyelesaikan „Ronggeng Dukuh Paruk“-nya Ahmad Tohari dan „The Holocaust Industry“-nya Norman Finkelstein. Kemudian membaca ulang „Bunga yang Berserak“ (kumpulan puisi Komunitas Sastra Dewi Sartika) dan „Tatsachen über Deutschland“ edisi 2006 serta „Kunst in Bayreuth“ yang dikirim oleh Akademisches Auslandsamt Uni Bayreuth sebagai „hadiah Natal“ untuk saya tahun 2004 lalu (setiap mahasiswa asing dan alumni Uni Bayreuth boleh minta hadiah buku setiap Natal. Tahun ini saya belum tahu buku apa yang dihadiahkan untuk saya. Belum sampai). Ketika sempat tumbang juga beberapa waktu lalu (again: saat libur lebaran) biografinya Parlindoengan Loebis (Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi), Filosofi Kopi, Das Parfüm (dalam dua bahasa: Indonesia dan Jerman) saya selesaikan serta beberapa buku lainnya (lupa apa saja :) ). Judulnya ngebut (atau bayar?!).

Selain itu, menikmati teh dengan tenang juga adalah hal mewah lainnya. Confession: sebenarnya sejak Agustus lalu saya sudah „berselingkuh“ dari teh. Saya mulai melirik dan meminum kopi, hehe. Dan ternyata…mmm…enak juga. Godaan awal yang membuat saya mulai melirik kopi itu berasal dari kopi terbaik di dunia (katanya…dan sepertinya memang iya) yang disediakan oleh Aisha bulan April lalu (duh! dia memang tahu caranya menggoda saya, disuguhkannya Kopi Toraja di sore hari yang cukup dingin di rumahnya yang nyaman di desa kecil daerah Weinheim dekat Heidelberg). Setelah itu berkelanjutan dengan kopi-kopi lainnya (dari Jawa, Sumatera, Kenya dan Tanzania ). Hmm…di Bandung kok jadi makin sering ya minum kopi?! Harus kopi yang enak pula (halah!). Jadi saat sakit kemarin adalah saat yang tepat untuk kembali berkenduri dengan teh. Menikmati (lagi) Erdbeer Sahne, Wintertee, Sweet Orange, Walküre, Karameltee dan tentu saja Earl Grey dan Darjeeling serta yang baru: Tazo Chai (membantu melegakan sesak di dada karena ditambah ginger, cardamom, cloves, pepper, dan cinnamon, kemudian ditambah madu, hmmm…).

Yang terakhir: ngenet seharian. Biasanya ngenet (tiap hari sih) cuma sebentar-sebentar untuk cek email (menulis dan membalas email yang penting dan urgen), sedikit surfing, sedikit blogwalking, isi blog kalau perlu atau cek postingan tugas mahasiswa. Ditambah beberapa hari libur karena koneksi yang terganggu akibat gempa di Taiwan. Kebetulan saat sakit kemarin koneksi sudah cukup lancar, alhasil seharianlah saya online. Kegiatannya masih sama, hanya jadi lebih lama melakukannya juga ditambah membalas emails personal dengan bercerita panjang lebar, chatting dengan beberapa teman (sampai  sedikit kelabakan karena dalam saat bersamaan harus mengetik dalam tiga bahasa: Indonesia, Jerman dan Inggris. Tapi ini luxurious sekali! kapan lagi), membaca banyak artikel yang sudah lama ingin saya baca, blogwalking lebih lama, etc. etc.

Dan, saya menulis ini pun langsung di box (biasanya postingan yang panjang selalu saya tulis sebelumnya) dan sudah online sejak pagi. Di depan saya masih ada 3 buku lagi serta teh yang menunggu untuk diminum. Artinya? Ya, saya masih menikmati saat-saat mewah itu. Alias masih demam dan flu berat (cuma sudah tidak overdosis ventolin lagi) hehe.  Tapi saya sudah mengajar kok (ini sih salah satu obat yang membuat demam saya tidak tinggi lagi).

040107

Advertisements

4 Gedanken zu „Luxurious Things

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s