Menyeruput Kopi a la Dee


Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, kesan dan pendapat seseorang terhadap bacaannya itu sangat subyektif. Untuk saya, bacaan atau buku yang bisa menahan saya berjam-jam membacanya tanpa jeda dan kemudian meninggalkan kesan begitu mendalam adalah bacaan atau buku yang menarik. Untuk orang lain belum tentu. Tidak hanya dalam hal buku, tapi untuk hal lain pun demikian, seperti musik, film atau lukisan bahkan suatu tempat tertentu. Biasanya ada hal-hal yang menarik saya secara fisik dan psikis sehingga akhirnya seperti medan magnet yang membawa saya terus kembali mendengar, melihat, membaca, menghirup dan sebagainya. Kadang saya bisa jelaskan alasannya, seringnya tidak. Namun, itu bukan berarti bahwa bacaan, film, musik, lukisan yang tidak saya „kunjungi“ lagi adalah tidak menarik (mungkin juga memang tidak menarik), bisa jadi itu karena daya tariknya tidak cukup besar untuk menahan saya dan membawa saya kembali. Hanya masalah seberapa besar dan seberapa kecil saja, saya rasa, karena toh saya tetap „melahap“ semuanya.

Kembali ke bacaan yang menarik perhatian saya, salah seorang penulis yang mampu menahan saya lewat tulisan-tulisannya adalah Dewi Lestari dengan nama pena Dee. Sudah tersentuh oleh lirik „Satu Bintang di Langit Kelam“ yang ditulisnya saat dia baru memulai karir menyanyinya, saya kemudian tertawan oleh trilogi Supernova terutama „Ksatria, Putri dan Bintang jatuh“ dan „Petir“, serta yang terakhir adalah kumpulan cerita pendek yang terangkum dalam „Filosofi Kopi“. Weiterlesen

Werbeanzeigen