Ironi

Ada satu tempat yang saya hindari selama hampir tiga bulan ini, tidak hanya ketika saya masih di Bayreuth, tetapi juga di Bandung ini. Tempat itu adalah tempat segala godaan yang akan bisa dengan mudah mengalihkan „jalan“ saya. Tempat itu bernama toko buku. Alasan saya menghindarinya sudah sangat jelas. Saya bisa „kalap“ jika saya ke sana dan sementara ini sedapat mungkin saya harus menahan diri karena berbagai alasan.

Alasan pertama, ketika saya masih di Bayreuth, adalah masalah pengiriman. Alasan kedua adalah masalah tempat. Ibu saya selalu berkata bahwa yang saya perlukan sekarang adalah membeli tempat untuk menampung buku-buku itu, bukan membeli buku lagi. Alasan ketiga sebenarnya alasan yang terpenting dari semua, yaitu apalagi kalau bukan alasan keuangan. Uang saya biasanya memang habis untuk itu, juga untuk internet (di Bandung ini), untuk telefon (di Bayreuth dan Bandung), dan untuk jalan-jalan (di Bayreuth dan Bandung juga). Pembenarannya adalah selain karena saya memang suka, tapi juga karena tuntutan pekerjaan. Pekerjaan saya adalah „menjual“ informasi dan pengetahuan, maka mau tidak mau saya „harus“ update isi kepala saya dengan hal-hal tersebut. Jadi uang yang dikeluarkan memang sebanding dengan apa yang harus saya bagi. Pembenaran lain: tidak akan ada ruginya membeli buku dan update informasi terbaru lewat internet atau diskusi panjang lebar per telefon.

Bisakah saya hindari „tempat penuh godaan“ tersebut? Sampai saat ini bisa, walaupun berat karena tempat-tempat tersebut sialnya harus saya lewati setiap hari. Bagaimana tidak. Toko buku ada di belakang appartement saya di Bayreuth. Saya harus melewatinya dulu kemana pun saya pergi. Empat toko buku harus saya lewati pula jika saya pergi belanja mingguan. Di Bandung, beberapa toko buku harus saya lewati saat saya pergi dan pulang mengajar.

Beberapa bulan ini rasanya saya cukup berhasil untuk menghindar tidak masuk ke dalamnya. Kalaupun terpaksa seperti minggu lalu saat saya janjian bertemu dengan seorang sahabat pemilik Toko Buku Kecil di toko bukunya, saya berusaha menutup mata seolah-olah tak ada buku di situ (suatu hal yang sangat tidak mungkin). Selebihnya –kalau saya sedang ingin jalan-jalan- saat ini saya terpaksa pergi ke mall, karena tidak ada taman di Bandung. Saya tahu tidak akan ada yang bisa menggoda saya di sana selain cardigan dan boots yang untungnya di Bandung tidak ada dan tidak saya perlukan. Acara jalan-jalan itu pun tidak pernah lama, karena memang tidak ada yang menarik. Paling lama 30 menit yang sudah termasuk membeli beberapa hal di supermarket (biasanya pun hanya buah-buahan).

Berhasilkah saya hindari godaan itu sepenuhnya? Tidak juga sih. Masih ada dua kotak besar yang belum dikirim dari Jerman. Sebagian isinya apalagi kalau bukan buku. Masih ada adik-adik saya yang dengan senang hati memberikan kabar seputar buku-buku serta dengan rela dititipi, karena dua orang adik saya bekerja di dua penerbit besar Indonesia (di sini dan di sini). Akibatnya tak usah saya ceritakan. Seorang lagi adalah guru TK yang sering membawa dan perlu banyak buku anak-anak. Belum lagi teman-teman “Mephistopheles” yang langsung atau tidak langsung “menggoda” saya dengan info-info seputaran buku dan –ini yang paling gawat- info tentang diskon atau pameran buku. Beberapa sahabat saya pun adalah pemilik toko buku.

Apa mau dikata, saya memang tidak bisa menghindar sepenuhnya. Dan apakah saya bisa atau saya mau? Begitu pertanyaan sebenarnya. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah mengendalikan saja. Dan tadi, perbincangan panjang di telefon dengan salah seorang sahabat pun berupa „pengakuan dosa“ karena tidak bisa menahan diri membeli buku di pameran buku di Diknas Jakarta. Saya sengaja tidak pergi ke Jakarta mengunjungi pameran itu (dengan berbagai macam alasan kesibukan pekerjaan), tapi sahabat saya memang akhirnya mengeluarkan lebih dari setengah juta rupiah untuk buku-buku yang dibelinya dalam beberapa jam saja. Buku-buku itu dibawa berat-berat ke Bandung, sementara dia lupa bahwa sisa uang tunai yang dia bawa ternyata hanya cukup untuk ongkos travel. Dia pun lupa bahwa sepanjang hari itu dia tidak makan karena sibuk dan „kalap“ memilih buku-buku yang sedang didiskon besar-besaran. Itu disadarinya saat dia terjebak macet di jalan menuju Bandung dan tiba-tiba merasa lapar. Tidak ada yang bisa dia beli karena dia ada di tengah jalan tol dan tidak ada uang tunai yang dibawanya. Dia hanya membawa buku-buku senilai lebih dari setengah juta rupiah. Ironis sekali. Namun, kami hanya tertawa-tawa saja membicarakan „kebodohan-kebodohan“ yang sering terjadi jika kami sudah „kalap“. Bukankah „bodoh“ jika kami sibuk updating informasi terbaru, sementara kebutuhan hidup mendasar terlupakan? Dan itu sering terjadi. Kami pun akhirnya bisa mengerti dengan sangat baik mengapa orang-orang bisa berdesak-desakan dengan begitu bersemangat mengejar serta memilih baju-baju berpotongan harga. Fetish mereka mungkin baju dan kami buku. Sama saja.

Jadi, berapa buku yang saya beli begitu saya menjejakkan kaki lagi di tanah air? Tidak banyak, masih bisa dihitung dengan jari, dan semuanya buku-buku berbahasa Indonesia, karena saya „ketinggalan“ buku-buku berbahasa ibu saya itu selama saya di Bayreuth. Namun, masalah terbesar akan datang Januari nanti dan saya harus memutar otak lagi untuk menempatkan buku-buku yang akan datang itu. Begitulah.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s